Mengenal Hidrogen Hijau: Manfaatnya untuk Transisi Energi yang Ramah Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Hidrogen hijau menjadi primadona energi bersih untuk mempercepat transisi energi terbarukan. Seluruh dunia berlomba-lomba memproduksi sumber energi ramah lingkungan ini.

Hidrogen sebenarnya sudah jamak dipakai untuk beberapa proses produksi pupuk ataupun pengolahan minyak bumi.

Namun, sebagian besar energi hidrogen saat ini masih berasal dari sumber fosil sehingga tidak ramah lingkungan.

Karena itulah, transisi energi terbarukan menjadi peluang besar untuk bersih-bersih lingkungan terutama terkait jejak emisi hidrogen.

Baca:Dunia-sedang-kembangkan-bahan-bakar-hidrogen-dari-air-ini-plus-minusnya

Berikut sejumlah manfaat hidrogen yang telah dikembangkan sejumlah negara:

1. Pembuatan pupuk
Pengajar senior bidang teknik kimia dari University of Aberdeen di Inggris, Tom Baxter, mengemukakan bahwa hidrogen adalah salah satu elemen kunci untuk pembuatan bahan kimia bermanfaat bagi manusia. Salah satunya adalah pembuatan pupuk.

Dalam industri pupuk, hidrogen digunakan sebagai bahan baku pembuatan amonia. Walhasil selain sumber energi, secara tidak langsung hidrogen adalah tulang punggung ketahanan pangan global.

Tom mengatakan, hidrogen hijau potensial betul untuk mengurangi jejak karbon industri pupuk. “Tindakan hidrogen pertama yang harus kita lakukan adalah mendekarbonisasi produksi hidrogen yang menghasilkan CO₂,” paparnya.

Di Indonesia, hidrogen hijau juga direncanakan menjadi bahan baku pembuatan amonia hijau sebagai bahan baku pupuk.

Proyek tersebut diinisiasi oleh Augustus Global Investment, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT PLN (Persero) untuk menghidupkan kembali sentra ekonomi di Lhokseumawe, Aceh, pada 2023.

Baca:Indonesia-mulai-serius-jajaki-penggunaan-energi-hidrogen

2. Transportasi
Sebagai sumber energi, hidrogen sangat unggul karena memiliki kerapatan energi (energy density) sekitar 33,33 kilowatt jam per kilogram.

Semakin tinggi kerapatan energi, maka semakin banyak energi yang tersimpan dalam volume tertentu sehingga produksi energi bisa lebih besar.

Menurut peneliti dari Centre for the Global Hydrogen Economy, Particles and Catalysis Research Laboratory, UNSW Sydney di Australia, Denny Gunawan, angka tersebut jauh lebih tinggi dari baterai kendaraan listrik.

Kendaraan dengan bahan bakar hidrogen pun, kata Denny, hanya membutuhkan waktu 3-5 menit untuk proses isi ulang hingga penuh.

Ini jauh lebih cepat dari isi ulang daya baterai pada kendaraan listrik yang memakan waktu 20 menit – 1 jam untuk DC fast charging atau 4-10 jam untuk home charging.

Walau begitu, Denny menganggap hidrogen akan jauh lebih bermanfaat meredam emisi dari bus, truk, dan kapal. Ketiga moda transportasi ini yang memiliki beban kerja dan jarak tempuh lebih besar.

“Sehingga lebih layak menggunakan hidrogen yang lebih ringan dengan waktu isi ulang lebih cepat,” tulis dia.

Baca:Plus-minus-penggunaan-biodiesel-berbahan-dasar-sawit

3. Listrik dan penyimpanan energi
Profesor bidang katalis dan material penyimpanan energi dari Utrecht University Belanda, Petra de Jongh, mengatakan hidrogen dapat diandalkan untuk menjadi penyimpan kelebihan energi listrik tenaga surya maupun angin.

Sebaliknya, saat angin melemah ataupun awan mendung, penyimpanan energi hidrogen dapat bekerja menopang produksi listrik yang berkurang.

Dibandingkan dengan baterai, kapasitas penyimpanan hidrogen tidak terbatas—elektroliser yang memproduksinya dari air tidak pernah terisi penuh.

“Hidrogen juga dapat diubah kembali menjadi listrik menggunakan sel tunam (fuel cell), meskipun cukup banyak energi yang hilang dalam prosesnya,” ujar Petra dalam analisisnya.

4. Industri berat
Pengajar bidang fisika energi dari University of South Wales, Stephen Carr, mengatakan hidrogen adalah energi yang menjanjikan untuk membuat sektor industri lebih ramah lingkungan.

Dia mencontohkan industri keramik yang membutuhkan energi panas untuk menyalakan tungku. Saat ini, pelaku industri keramik masih menggunakan gas alam untuk menyalakan tungku tersebut.

Ke depannya, gas ini bisa digantikan hidrogen supaya proses produksi keramik lebih ramah lingkungan.

“Mengganti gas alam dengan hidrogen dalam tungku bakar secara keseluruhan bisa lebih murah, dan hanya memerlukan sedikit perubahan pada peralatan,” tulis Stephen.

Sumber: The Conversation

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *