7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dalam waktu dekat akan meluncurkan registri karbon baru, yakni Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).
Untuk itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono mengatakan SRUK ditargetkan beroperasi bulan Juli, sesuai dengan arahan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Dia mengajak para pengembang proyek karbon (carbon project developers) untuk mulai mengikuti tahap uji coba.
“Jadi kalau ada project developers yang sudah siap project design document (PPD)-nya, sekarang sudah bisa lakukan uji coba, untuk memasukkan data dalam registri tersebut,” ujar Wamen Diaz dalam pernyataan diterima di Jakarta, Jumat (18/4/2026).
Baca: Potensi Perdagangan Karbon RI Sangat Besar Tapi Belum Berdaulat
Saat berbicara di Indonesia Carbon Market Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (16/4/2026), Wamen LH menyampaikan bahwa tahap uji coba itu penting untuk mempercepat dimulainya perdagangan karbon.
“Kita butuh untuk terus dorong perdagangan karbon untuk membantu mengatasi masalah pendanaan dan kita pun sekarang masih dalam proses untuk berbagai hal, jadi kami butuh bantuan Bapak/Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam tahap uji coba, sehingga saat diluncurkan, semuanya sudah tinggal jalan,” ujar Wamen Diaz.
Wamen Diaz mengingatkan bahwa perdagangan karbon menjadi salah satu solusi untuk menutup kesenjangan pendanaan yang ada di dunia untuk memitigasi dampak perubahan iklim.
Menurut studi, secara global dibutuhkan 8,6 triliun dolar AS per tahun sampai tahun 2030 untuk pendanaan aksi iklim.
Baca: Perdagangan Karbon Rentan Perparah Ketidakadilan
“Ke depannya akan naik menjadi 10 triliun dolar AS, namun dunia baru mampu memberikan pendanaan sekitar 1.4-1.9 triliun dolar AS, jadi ada kesenjangan pendanaan yang cukup besar,” ujarnya.
Diaz menambahkan, untuk pendanaan aksi iklim Indonesia membutuhkan Rp470 triliun per tahun dari tahun 2020 sampai 2030, tapi yang tersedia baru hanya Rp76 triliun.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Dominic Jeremy dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi kepada pemerintahan Indonesia dalam membangun perdagangan karbon.
“Forum ini sesuai dengan amanat Presiden (Prabowo Subianto) untuk mengembangkan perdagangan karbon melalui kerja sama Indonesia dan Inggris, kami harap dukungan dari Inggris bisa berkelanjutan dan berjangka panjang,” ucap Dominic.

Leave a Reply