7cloud.asia – Parlemen jalanan harus terus dilakukan untuk menolak hasil pemilu dan pilpres 2024 yang penuh dengan berbagai kecurangan.
Hal ini dikatakan oleh pengamat hukum Tata Negara, Refly Harun saat berorasi dihadapan sekitar 500 massa dari berbagai organisasi di depan kantor KPU RI, Jakarta pada Rabu (20/03/2024) sore.
“Kalau kita tidak bangkit sekarang, maka demokrasi akan mati. Kita akan pertaruhkan dengan darah syuhada. Kita tidak akan mau pertaruhkan paslon tertentu lagi, karena kita hanya pertaruhkan Indonesia,” kata Refly.
Refly yang tergabung dalam Gerakan Keadilan Rakyat (GKR) ini mengajak massa untuk menolak hasil pemilu dan pilpres 2024 yang akan diumumkan hari ini.
Baca: Polri siagakan lebih dari 3 ribu personil hadapi pengunjuk rasa
Sebab selama proses pilpres, setelah bahkan sebelum pelaksanaan begitu jelas kecurangan terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif (TSM).
“Kita tolak kekuasaan yang selalu ingin dikangkangi. Padahal kekuasaan seharusnya dipergilirkan. Tetapi dia (Jokowi) malah mengajukan anaknya. Ketika tidak bisa, ia merusak konstitusi dan mengajukan anaknya yang masih bau kencur,” kata Refly Harun diatas mobil komando.
Karena itu Refly Harun pun mengajak para pengunjuk rasa untuk memakzulkan Presiden Jokowi.
Sebab, menurutnya sumber masalah demokrasi ini ialah Jokowi yang menurunkan putranya di Pilpres 2024.
Baca: Polri siap amankan penetapan hasil pemilu
“Kita tahu bahwa aspirasi kita tidak hanya menolak pemilu curang, karena aspirasi kita juga ingin agar Presiden Jokowi dimakzulkan sekali lagi, dimakzulkan!” pekik Refly.
Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari sejumlah aparat kepolisian. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro mengatakan dalam rangka pengamanan unjuk rasa terkait Pemilu 2024 di depan KPU RI dan DPR/MPR RI, polisi menurunkan 3.055 personel.
“Dalam rangka pengamanan aksi hari ini di KPU RI dan DPR RI, kami melibatkan 1.910 Personel di KPU RI dan 1.145 personel di DPR/MPR,” kata Susatyo.
Reporter: Rudyanti/Nurakhmayani

Leave a Reply