7cloud.asia – Banyak orang terjebak dalam investasi bodong. Karena iming-iming imbak balik yang berlipat uang malah amblas.
Sebaliknya terlalu hati-hati dalam melakukan investasi, hasilnya juga tidak akan seperti yang diharapkan.
Bagaimana sebaiknya investasi dilakukan, mulai hari ini kita akan menurunkan tulisan bersambung tentang investasi bersama praktisi investasi Asih Kirana Wardani.
Segera saja kita ikuti ulasan mantan Redaktur Pelaksana di sebuah media ekonomi ternama ini:
Pernah suatu kali, seseorang meminta saran investasi kepada saya. Dia mengeluhkan investasinya yang rugi. Saya pun bertanya, investasi di mana. Dia menjawab, investasi di Bibit.
“Oh, di reksadana.”
“Gak tahu. Pokoknya, di Bibit. Perkiraannya, untung sekian. Ternyata malah rugi.”
Rupanya, dia tidak paham, sebetulnya investasi apa yang dia beli, bagaimana cara kerjanya, seperti apa risikonya. Yang dia lihat, dia berinvestasi, sudah semestinya mendapat keuntungan.
“Oh, memang investasi di reksadana tidak selalu untung. Malah, tidak boleh menjanjikan keuntungan. Kalau yang pasti ada bunganya, namanya deposito.“
“Atau, kalau maunya yang pasti-pasti, beli saja obligasi negara yang untuk ritel, seperti ORI. Tingkat kupon atau bunganya masih lebih baik daripada bunga deposito bank saat ini. Investasinya juga bisa mulai dari cuma Rp 1 juta.”
“Satu juta itu gede bagiku. Aku beli Bibit itu karena modalnya bisa mulai dari ribuan rupiah.” ujarnya.
“Oh, begitu. Memang investasi berapa?” tanya saya
“Lima puluh ribu rupiah. Sekarang tinggal dua puluh ribuan.” jawabnya
Aduh, wajah saya rasanya langsung melorot. Pengen berubah jadi Mak Lampir. Tapi, demi mengedukasi satu orang – yang lebih baik daripada tidak sama sekali, saya menarik napas panjang dan mencoba memberikan solusi.
“Oh, ya, gak apa-apa, mulai dari segitu, tapi lakukan dengan rutin. Setiap bulan, di tanggal yang sama, sisihkan Rp 50.000 untuk beli unit reksadana yang sama. Syukur-syukur, bisa menyisihkan lebih besar.“
“Jadi, nanti akan terbentuk dana yang lumayan, sehingga hasil investasinya juga lumayan. Kalau cuma beli sekali dan cuma Rp 50.000, ya memang akan akan habis untuk biaya-biaya. Bayangkan saja, biaya administrasi untuk mempertahankan rekening Mbak di bank saja berapa. Belum mesti bayar manajer investasi yang mengelola dana.” jawab saya
“Iya, sih. Tapi kalau rutin segitu, terus mesti nunggu entah kapan untung, kan malas. Ya kalau untung. Kan, ternyata bisa rugi juga. Padahal, uang segitu bisa aku pakai modal jualan kuaci, lo. Jelas, bisa dapat untung berapa.”
Rasanya, wajah saya sudah benar-benar berubah menjadi Mak Lampir! Orang model begini tidak benar-benar berniat belajar, tapi sekadar mencari argumen agar terlihat kritis. Saya merasa terdzolimi karena dipancing membuang waktu dan napas dengan sia-sia.
Tidak sedikit orang seperti ini; malas mempelajari produk investasi yang dia beli, berpikir investasi pasti untung, tidak mau disiplin menyisihkan uang tapi ingin kaya, lalu protes kalau rugi.
Orang lupa, mengapa orang kaya cenderung menjadi semakin kaya. Pasalnya, bukan saja mereka mempunyai usaha atau mendapatkan penghasilan dari bekerja, tapi juga karena uang bekerja untuk mereka.
Ini nyata, bukan mitos. Uang yang mereka investasikan di saham, misalnya, bisa berlipat ganda nilainya dalam waktu relatif singkat, tergantung jenis sahamnya.
Tentu, juga banyak yang menjadi kaya karena fasilitas dan kedekatan dengan pejabat pemerintah atau karena ikut dalam aktivitas cuci uang.
Tapi, saya sedang tidak ingin bicara soal oligarki. Saya cuma mau bilang, dalam investasi berlaku prinsip “it needs money to create money”. Perlu punya uang untuk menghasilkan lebih banyak uang.
Dus, bagi kaum pekerja dengan penghasilan biasa-biasa saja seperti saya dan Anda (mungkin), hal pertama yang perlu menjadi fokus adalah bagaimana menciptakan kolam dana itu.
Jalannya, dengan disiplin menyisihkan sebagian dari penghasilan kita. Bisa ditaruh di tabungan, tapi mungkin lebih baik ditempatkan di reksadana pasar uang.
Selain jadi terpisah dari tabungan yang menjadi wadah arus kas kita, reksadana pasar uang juga berpotensi memberikan hasil lebih baik ketimbang bunga tabungan.
Setelah kolam dana cukup memadai, Anda bisa mengambil dan menggunakannya untuk membeli instrumen investasi yang berpotensi menghasilkan keuntungan lebih baik.
Obligasi bisa jadi pilihan bagi mereka yang suka main aman atau saham bagi yang lebih berani menanggung risiko.
Selain itu, tentu tetap disiplin menyisihkan penghasilan untuk menambah isi kolam dana Anda.
Berapa jumlah uang di kolam dana sehingga bisa disebut memadai? Tergantung, produk apa yang mau Anda beli. Dengan Rp 500.000, Anda bisa mulai membeli reksadana saham atau reksadana campuran.
Dengan Rp 1 juta, Anda bisa mulai membeli ORI. Dengan Rp 50 juta, Anda bisa langsung berinvestasi di saham. Semakin besar kolam dana Anda, semakin leluasa Anda berinvestasi.
Dengan kehati-hatian dan selektif memilih instrumen investasi, niscaya nilai kekayaan Anda bisa bertambah dengan cukup signifikan.
Mungkin tidak akan setajir bohir capres, tapi lumayanlah. Tentu, tetap lakukan diversifikasi agar risiko tidak terkumpul di satu tempat.
Yang pasti, no money, no cuan.

Leave a Reply