Susahnya Memulihkan Lahan Gambut, Ini Enam Tanaman yang Direkomendasikan BRIN

Written by

in

7cloud.asia = Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mencatat  50 persen dari total jutaan hektare lahan gambut Indonesia saat ini dalam kondisi rusak dan perlu dihijaukan.

Namun, sering pemulihan kembali lahan gambut yang rusak terkendala keasaman tanahnya sehingga butuh jenis tanaman tertentu . 

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laode Alhamd menyebutkan ada enam jenis tumbuhan yang memiliki laju pertumbuhan terbaik dengan tingkat kematian rendah.

Keenam jenis tumbuhan yang direkomendasikan tersebut adalah Acronychia porter, Eugenia clavatum, Calophyllum biflorum, Shorea teysmaniana, Lithocarpus leptogyne, dan Palaquium leiocapum.

“Jenis-jenis tumbuhan tersebut melengkapi tumbuhan yang sudah dikenal dalam restorasi ekosistem gambut, seperti ramin, jelutung, punak, meranti rawa, balangeran, nyatoh, dan perepat,” kata Laode dalam keterangan di Jakarta, Jumat (8/3/2024).

Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut sering memicu kebakaran lahan

Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Anang Setiawan Achmadi mengatakan Indonesia adalah pemilik hutan rawa gambut tropis atau lebih dikenal dengan ekosistem gambut yang mencapai 13,4 juta hektare.

Menurutnya, potensi itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan hutan gambut terluas di dunia.

Ekosistem unik yang terbentuk secara alami sejak ribuan tahun lalu tersebut memegang peranan penting sebagai salah satu faktor pengendali perubahan iklim global, termasuk pengatur tata air, perosot karbon, dan penyimpan biodiversitas.

“Perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut berbasis riset dan inovasi sangat penting dan masih menjadi tantangan bersama, baik secara nasional maupun internasional,” ucap Anang.

Baca: 13 juta hektare lahan gambut di Indonesia dalam kondisi rusak

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Budi Hadi Narendra mengatakan upaya restorasi lahan gambut dengan fungsi lindung harus diusahakan melalui kegiatan pembasahan dan pemeliharaan kedalaman muka air tanah.

“Selain itu, budidaya pertanian dapat diterapkan dengan menggunakan jenis-jenis tanaman adaptif,” ujarnya.

Budi mengungkapkan bahwa pengelolaan pertanian secara intensif di lahan gambut akan menghasilkan nilai kerapatan gambut yang lebih tinggi. Namun, nilai porositas, kadar air total tanah, dan variabel konduktivitas hidrolik menjadi rendah.

Kondisi itu menyebabkan degradasi sifat fisik dan hidrolik gambut yang dapat mengurangi fungsi gambut dalam menyimpan, menampung, dan mengalirkan air.

Baca: Upaya Belantara Foundation memulihkan lahan gambut di Jambi

“Berkurangnya fungsi ekosistem gambut dapat meningkatkan kerentanan terhadap bencana kekeringan hidrologis dan risiko kebakaran,” kata Budi.

BRGM sendiri telah melakukan upaya restorasi lahan gambut seluas  1,3 juta hektare yang dilakukan dalam kurun 2016 hingga 2022 di tujuh provinsi Indonesia.

Dari tahun 2016 hingga 2020, BRGM telah membasahi kembali lahan gambut rusak atau kering seluas 835.288 hektare.

Kemudian tahun 2021 seluas 300.364 hektare, dilanjutkan tahun 2022 seluas 244.168 hektare, dan tahun 2023 saat ini sedang dalam proses perhitungan,” ujar Kepala Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto.

Jumlah itu,menurut Didi, telah melampaui target restorasi ekosistem gambut seluas 1,2 juta hektare sampai dengan 2024. 

Sumber: Antaranews.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *