Pengamat: Faktor Jokowi Saja Tak Mampu Antar PSI Bisa Lolos ke Senayan

Written by

in

7cloud.asia – Lonjakan suara PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang naik lbih 1,2 persen dan dua koma menjadi tiga koma menjadi sorotan publik. 

Padahal dalam hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei, PSI yang menggunakan bunga mawar sebagai simbol ini paling mentok mendapat 2,95% atau di bawah ambang batas parlemen yang 4 persen.

Lonjakan suara PSI ini membuat sejumlah pihak menengarai ada operasi senyap untuk mendorong partai yang dipimpin anak bungsu Presiden Jokowi ini agar lolos ke Senayan.

Apalagi sebelumnya juga santer diberitakan bahwa PSI bisa lolos ke Senayan menjadi salah satu angan-angan Jokowi di Pemilu 2024.

Selain membesarkan PSI, Jokowi juga bertekad memenangkan Prabowo-Gibran dan mengalahkan PDI Perjuangan yang mengusungnya sejak menjadi walikota Solo.

Baca: Koalisi masyarakat sipil desak agar lonjakan suara PSI diselidiki

Namun, akankah PSI yang didirikan pada November 2014 ini akan mampu menempatkan wakilnya di Senayan jika mengikuti cara yang fair?  Pakar Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad meragukannya.

Dilansir Kompas.com, Nyarwi menilai, hasil perolehan suara PSI sampai saat ini menunjukan peran Jokowi saja tak cukup untuk membuat parpol itu melenggang lolos ke Senayan.

Menurut dia, ada sejumlah faktor yang membuat raihan suara PSI pada Pileg 2024 belum mencapai ambang batas parlemen.

Pertama, basis akar rumput PSI yang belum cukup kuat. Ia menjelaskan, pileg lebih kompleks ketimbang pilpres, sehingga mengandalkan popularitas Kaesang saja tak cukup.

“Mungkin ya, tadi yang disebut Kaesang sebagai public figure, masuknya Kaesang sebagai ketua umum kan belum lama juga dan untuk pileg saya kira kan beda dengan pilkada atau pilpres,” tutur Nyarwi pada Kompas.com, Kamis (7/3/2024). 

Baca: Lonjakan suara PSI munculkan dugaan ada operasi senyap

Meski punya Kaesang sebagai nakhoda di tingkat pusat, PSI dianggap belum punya banyak tokoh berpengaruh di tingkat daerah.

Padahal, salah satu yang bakal mempengaruhi konstituen adalah pengaruh tokoh-tokoh di akar rumput.

“Menurut saya, basis akar rumput, itu memang perlu. Betul bahwa akses pada internet dan sosial media terus meningkat, tapi kalau kita lihat dengan banyaknya para tokoh yang terbaru misalnya dalam pileg, tentu membutuhkan model-model kampanye yang saling melengkapi,” papar dia.

“Sosial media penting tapi kan tidak cukup, dia harus dilengkapi dengan model-model sosialisasi dan kampanye yang saya kira interpersonal ke kelompok,” ucap dia.

Ia juga melihat bahwa PSI belum dilengkapi dengan para calon legislatif (caleg) yang memiliki pengaruh cukup luas dan kuat di masyarakat.

Baca: Tanggapi lonjalan suara PSI, Cak Imin ingatkan jangan ada jual beli suara

“Pileg itu kan referensinya figur-figur caleg ya selain partai dan kehadiran atau keberadaan partai itu saya kira butuh waktu. Daya jangkau PSI saya kira masih cukup lemah di sana,” kata dia. 

Faktor kedua, kata Nyarwi, PSI belum mampu menarik suara konstituen dari keberadaannya di dalam pemerintahan Jokowi.

Hal itu juga dipengaruhi oleh banyaknya parpol besar yang saat ini bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju.

Apalagi, posisi kader PSI di kabinet hanya sebagai wakil menteri. Posisi ini membuat PSI tidak mempunyai pengaruh cukup kuat untuk publik jika dibandingkan parpol lain yang kadernya menduduki kursi menteri.

“Ya, fisibilitas PSI di pemerrintah kan tidak menonjol dan gabungnya PSI sebagai partai pendukung Jokowi kan belum lama jika dibandingkan dengan Jokowi berkuasa, dia baru beberapa tahun, belum lama,” ujar Nyarwi.

Baca: Selain PSI, sulit bagi partai baru untuk lolos ke Senayan  

Terakhir, Nyarwi menilai PSI tidak mendapatkan efek ekor jas cukup besar dari dukungannya pada calon presiden (capres) nomor urut 2 Prabowo Subianto.

Salah satu penyebabnya, pada Pilpres 2019, PSI menjadi salah satu parpol yang paling keras mengkritik Prabowo yang kala itu menjadi rival Jokowi.

“Ya itu bisa saja, artinya kan walaupun PSI di pilpres mendukung Prabowo. Tapi, belum tentu juga para pendukung Prabowo kemudian melihat PSI sebagai pendukung Prabowo,” ucap dia.

Sumber: Kompas.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *