Ini yang Harus Dilakukan Indonesia Jika Ingin Maksimal Manfaatkan Energi Surya

Written by

in

ruangkotacom –  Salah satu persoalan yang dipikirkan Indonesia untuk memanfaatkan energi surya secara besar-besaran adalah faktor kestabilan pasokan listriknya. Hal ini wajar mengingat matahari tidak bersinar sepanjang hari.

Untuk mengatasi masalah ini Indonesia dapat belajar dari cara Australia yang terbukti efektif mengelola jaringan listrik energi suryanya dengan handal.

Energi surya dan angin yang bervariabilitas dapat diatasi dengan dengan teknologi penyimpan energi untuk menstabilkan pasokan listrik.

Sistem kelistrikan Australia mampu beroperasi dengan lancar, dan dapat diandalkan meskipun energi terbarukan melebihi 70% pada beberapa jam dalam sehari.

Riset yang dilakukan tim dari Australian National University mengungkap bahwa di Indonesia terdapat potensi pengembangan PLTA pumped storage jenis off-river (tanpa membendung sungai) di 26 ribu lokasi.

Baca: PLTS atap cara mudah memanen energi surya

PLTA jenis ini dapat dioperasikan sebagai ‘baterai alami’ penyimpan energi. 

Untuk mendukung pemanfaatan energi surya 100%, Indonesia akan membutuhkan fasilitas penyimpanan energi dengan total kapasitas sekitar 1100 GW untuk menyimpan daya selama 10 jam (11 TWh) atau hanya sebagian kecil dari total potensi PLTA pumped storage tersebut.

Selain andal, riset terbaru kami turut menemukan penggunaan teknologi pumped storage terbukti lebih hemat biaya.

Dengan skenario 100% listrik energi terbarukan yang dipasok dari dominan energi surya, biaya pembangkitan listrik – termasuk pembangkitan, transmisi, penyimpanan energi, dan jaringan transmisi baru – hanya sebesar US$91 per Megawatt jam (MWh).

Baca: Warga pulau ini 100 persen gunakan energi terbarukan

Ongkos ini lebih murah dari pada rata-rata biaya pembangkitan PLN saat ini US$98 per MWh. Biaya pembangkitan listrik yang kami hitung juga lebih murah jika Indonesia tidak menggunakan jaringan listrik antarpulau atau supergrid.

Jika ingin mengandalkan energi surya, Indonesia perlu meredam risiko kebakaran hutan. Sebab, kami menemukan bahwa terdapat periode waktu pada musim kemarau, saat matahari bersinar cerah, radiasi matahari justru lebih kecil.

Sebagai contoh, kami mengamati tingkat radiasi matahari di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, pekan keempat pada Juni 2015 justru lebih rendah 36% dari pada tahun 2010 pada periode waktu yang sama.

Kami menduga penurunan ini terjadi karena dipicu adanya kebakaran gambut dan hutan di Kalimantan.

Produksi panel surya yang turun tiba-tiba karena efek asap kebakaran akan mengganggu keseimbangan pasokan. Akibatnya, kita perlu menyiapkan baterai berkapasitas lebih besar sehingga biaya akan membengkak.

Baca: PLN diminta tak batasi warga gunakan pembangkit energi surya di atap

lantas apa yang perlu dilakukan untuk memassalkan penggunaan panel surya di Indonesia? Pemerintah perlu melakukan sejumlah tindakan untuk percepatan penambahan kapasitas PLTS Atap maupun PLTS jenis lainnya di Indonesia.

Pertama, mengguyur insentif bagi pemasang PLTS atap di bangunan rumah tangga dan bisnis/industri sebagaimana pernah dilakukan pada 2022 dalam bentuk Sustainable Energy Fund.

Dana ini dapat diambil dari sebagian dana Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (JETP).

Kedua, mengalokasikan subsidi listrik yang tidak hanya mensubsidi pembangkit berbahan bakar fosil, namun juga energi surya.

Ketiga, membuat peta jalan energi surya. Indonesia perlu mempunyai peta jalan baik pemanfaatan PLTS maupun peta pengembangan industri manufaktur panel surya.

Baca: Desa pesisir ini sukses bangun pembangkit listrik energi surya

Peta jalan ini penting agar dapat jadi rujukan atau undangan pada para investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.

Menyiapkan produksi panel surya dalam negeri. Jika tidak mampu memproduksi panel suryanya sendiri, Indonesia hanya akan jadi konsumen.

Untuk itu, Indonesia perlu menggenjot kapasitas produksi PLTS dalam negeri yang saat ini baru sebesar 1,6 GW per tahun. Selain itu, komponen seperti alat pengubah arus (inverter) juga perlu dibuat di dalam negeri.

Dengan mengandalkan produksi domestik, maka dengan sendirinya porsi Tingkat Kandungan Dalam Negeri akan terpenuhi.

Sekali lagi, Pemerintah perlu lebih serius mendorong pengembangan Pembangkit Listrik tenaga Surya atau LTS atap.

Jika jutaan atap bangunan sudah terpasang panel surya, maka ketidaktersediaan lahan tidak lagi jadi alasan untuk sulitnya memenuhi listrik energi bersih Indonesia di masa depan.

Tulisan ini telah terbit di The Conversation, Penulis: David Firnando Silalahi, Phd Candidate, School of Engineering, Australian National University dan Andrew Blakers Professor of Engineering, Australian National University..

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *