Sikapi Hasil Hitung Cepat Pilpres 2024, Keluarga Orang Hilang Masih Berharap Keadilan Ditegakkan

Written by

in

7cloud.asia – Paian Siahaan bagaikan tersambar petir ketika mengetahui Prabowo Subianto, orang yang diduga terlibat dalam penghilangan paksa pada tahun 1997-1998 unggul dalam hitung cepat Pilpres 2024.

Anak Paian, Ucok Munandar Siahaan adalah salah satu dari 13 aktivis yang diduga diculik pada kerusuhan 1997-1998 yang merupakan salah satu masa kelam dalam sejarah Indonesia ini.

Sedih berkecamuk dalam hati Paian melihat hasil hitung cepat Pilpres 2024 ini.  Betapa tidak, sudah 25 tahun ia bersama keluarga korban lainnya berjuang untuk mendapatkan keadilan. Kini, harapan itu terasa semakin jauh.  

Dilansir VOA Indonesia, Ucok Munandar Siahaan mengaku sempat “drop” melihat hasil Pilpres 2024 ini.

Namun, dia menyadari perjuangan harus tetap dilakukan. Pertanggungjawaban akan tetap diminta, siapapun yang akan memimpin negeri ini.

Baca: Ibu-ibu korban penculikan 97-98 menangis di depan Istana

Pelaku yang ditulis oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam laporan penyelidikan badan itu harus mempertanggungjawabkan tindakannya, tegas Paian.

“Siapa pun yang memerintah apakah Prabowo atau Anies pun kami akan tetap meminta pertanggungjawaban pelaku yang dicantumkan Komnas HAM dalam penyelidikannya. Itu menjadi komitmen kami,” ungkapnya.

Dengan suara parau, Paian yang kini berusia 77 tahun itu mengatakan masih berharap adanya kejelasan atas nasib anaknya, apakah masih hidup atau tidak.

Apabila sudah meninggal, ia ingin diberitahu penyebabnya dan di mana kuburnya. Ucok, yang lahir pada 17 Mei 1976 itu, kata Paian, namanya masih tertera dalam kartu keluarga (KK)-nya hingga kini.

Terkadang Paian merasa anaknya telah meninggal, tetapi di sisi lain ketika ia bermimpi bertemu anaknya, Paian bertanya-tanya dalam hatinya apakah anak yang dicintainya itu masih hidup.

Baca: Anak korban hilang saat kekerasan 97 dan 98

Kondisi inilah yang menjadi alasan mengapa Paian belum mau mengeluarkan nama anaknya dari kartu keluarga.

Itu nurani ya, ujarnya melanjutkan, kadang-kadang sudah ga ada tetapi kadang-kadang, kita lagi mimpi ketemu, jangan-jangan dia masih hidup, di mana? Waktu itu dibuang ditaruh di mana, karena tidak jelas itu.

“Mamak nya sekarang sudah meninggal karena menahan derita itu. Saya minta kekuatan dari Tuhan untuk diberi kekuatan agar saya dapat berjuang apapun yang terjadi tetap saya lakukan,” ungkapnya.

Paian meminta pemerintah mendatang melaksanakan empat rekomendasi yang dikeluarkan DPR pada tahun 2009 terkait kasus penghilangan orang secara paksa yang hingga kini tidak kunjung dilakukan.

Empat rekomendasi DPR itu dirilis di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun hingga saat ini belum direalisasikan

Baca: 17 tahun Aksi Kamisan dilakukan keluarga korban penghilangan paksa

Keempat rekomendasi tersebut adalah membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk kasus tersebut, mencari 13 aktivis yang masih hilang, merehabilitas dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban yang hilang.

Dan yang terakhir adalah meratifikasi anti penghilangan paksa sebagai bentuk komitmen dan dukungan menghentikan praktik penghilangan paksa di Indonesia.

Paian berharap jika memang tidak membentuk pengadilan HAM ad hoc dan mengadili Prabowo sebagai salah satu tersangka pelaku, presiden terpilih bisa melakukan tiga rekomendasi lainnya yakni melakukan pencarian atau yang lainnya.

”Artinya bisa kok dia lakukan, dia tetap jadi presiden tetapi melakukan hal-hal dari empat rekomendasi tersebut,” tambahnya lagi.

Sumber: VOA indonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *