Sikapi Hasil Hitung Cepat Pilpres 2024, Keluarga Orang Hilang : Mosok Saya Mengadu ke Orang yang Nyulik

Written by

in

7cloud.asia – Hardingga, putra dari Yani Afri (korban penghilangan paksa lainnya) mengaku terkejut melihat hasil penghitungan sementara Pilpres 2024.

Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto menang dalam pemilihan presiden versi hasil hitung cepat Pilpres 2024.

Lelaki yang sudah menonton film dokumenter “Dirty Vote” yang memotret kecurangan di Pilpres 2024 ini mengatakan, sangat kecewa atas hasil hitung cepat Pilpres 2024 tersebut.

Dengan hasil Pilpres 2024 seperti itu, Hardingga mengaku pesimis dengan penanganan kasus hilangnya sang Bapak pada 1997 atau 27 tahun lalu.

“Masak, gue mau ngadu ama orang yang udah nyulik bokap gue sendiri. Saya berpikir semakin gelap aja. Selama ini saya mencba mengadu ke sana sini dan sampai hari ini Komnas HAM sendiri tidak pernah memanggil paksa Prabowo,” katanya dikutip VOA Indonesia.

Baca: Ibu-ibu korban penculikan menangis di depan Istana

Namun dia dengan tegas mengatakan akan tetap berjuang mencari tahu siapa yang menculik ayahnya.

Ketika ayahnya diculik pada tahun 1997, Hardingga masih berumur lima tahun. Yani memiliki tiga orang anak.

Sama halnya dengan keluarga korban lainnya, Hardingga juga berharap bisa mengetahui nasib ayahnya, apakah masih hidup atau sudah meninggal.

Laki-laki berumur 30 tahun itu juga berharap pemerintah menuntaskan kasus penghilangan paksa dan Prabowo memberikan pernyataan mengenai kasus tersebut.

Yani Afri hilang saat ikut kampanye memperjuangkan PDI Pro-Megawati Tahun 1997. 

Baca: Aktivis sayangkan sikap Prabowo yang anggap enteng pelangaran HAM

Berdasarkan cerita keluarganya, Hardingga mengisahkan, sang ayah sempat berpamitan kepada keluarganya untuk berkampanye sebelum dihilangkan paksa pada 26 April 1997 silam.

Menurut Hardingga, ayahnya ingin ada pergantian presiden yang saat itu dijabat Soeharto.

Tiga hari menjelang Pemilu, Yani Afri yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot yang juga simpatisan PDI-Perjuangan pro-Megawati Soekarnoputri memutuskan pergi bersama teman-temannya ke lokasi kampanye.

Setelah itu, Yani Afri tak pernah pulang dan hingga kini tidak kembali lagi.

Menurut Hardingga, usai kejadian itu, ibunya yang bernama Tinah memutuskan untuk berpindah rumah dan bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya.

Baca: Aktivis tagih janji Jokowi untuk tuntaskan kasus pelanggaran HAM

Hargingga mengatakan, sang ibu mengalami trauma dengan kejadian tersebut. Kondisi ini berlangsung cukup lama.

“Trauma. Saya ingatnya kalau setiap kali saya main jauh-jauh, saya dicariin, saya sempat dipukul sama ibu, jangan main jauh-jauh nanti diculik, nanti ditembak nah ‘hal-hal seperti itu sih,” ujarnya.

Komnas HAM: Jika Ada Bukti Baru, Dapat Buka Penyelidikan Kembali

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saurlin Siagian mengatakan dalam melakukan penyelidikan kasus penghilangan orang secara paksa, lembaganya pernah memanggil Prabowo untuk dimintai keterangan tapi tidak datang.

Baca: Aktivis 98 gugat pencalonan Gibran sebagai cawapres

Ketika ditanya apakah nama Prabowo Subianto disebut dalam laporan Komnas HAM dalam kasus penghilangan paksa, Saurlin mengatakan, secara detail mungkin tidak tapi yang disebutkan itu adalah terjadi penghilangan paksa dan kemudian dipanggil berbagai pihak.

”Dalam pelanggaran HAM berat yang dipanggil orang-orang, nggak mungkin institusinya. Karena dianggap pelakunya adalah tim mawar, maka dipanggillah orang-orang.”

Namun ia menekankan jika ada bukti baru di luar hasil investigasi komisioner periode sebelumnya, Komnas HAM dapat membuka kembali penyelidikan kasus penghilangan paksa tersebut.

Ini dikarenakan tidak ada kasus pelanggaran HAM berat yang kadaluwarsa. Komnas HAM menganggap sangat penting membentuk pengadilan HAM ad hoc guna menyelesaikan kasus penghilangan paksa.

Sumber: VOA Indonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *