Seperti Ini Cawapres Membahas Transisi Energi Menuju Energi Hijau dan Terbarukan

Written by

in

7cloud.asia – Transisi energi menuju energi hijau terbarukan sangat krusial untuk memangkas emisi karbon dan menekan kenaikan suhu Bumi.

Sayangnya isu transisi energi ke energi hijau dan terbarukan ini tidak banyak disinggung di debat cawapres pada Minggu (21/1/2024) lalu.

Debat cawapres ini mengambil tema pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan hidup, energi, pangan, agraria, masyarakat adat dan desa 

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjutak dalam keterangan tertulisnya menyebut tiga cawapres tidak menyinggung secara detail rencana percepatan transisi ke energi hijau terbarukan dan mengakhiri penggunaan energi batu bara.

Padahal, transisi energi ke energi hijau sangat krusial untuk memangkas emisi karbon dan menekan kenaikan suhu Bumi.

Demokratisasi energi yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses transisi energi juga luput dari pembahasan di debat cawapres tersebut. 

Baca: Ada banyak isu lingkungan yang luput dibahas di debat cawapres

Leonard mengatakan potensi energi terbarukan di Indonesia yang sangat besar masih sangat minim penggunaannya.

Mengutip data Dewan Energi Nasional, Leonard menyebut potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 3.643 gigawatt (GW). Namun pemanfaatannya baru 0,3 persen.

Dalam bauran energi nasional, porsi energi terbarukan baru mencapai angka 13,1 persen jauh dari dari target 23 persen di tahun 2025.

Para kandidat juga tak membahas rencana pensiun dini PLTU batu bara, meski program itu tertuang dalam dokumen visi-misi paslon 01 dan 02.

“Absennya isu batu bara ini patut kita pertanyakan. Apa memang dihindari karena masing-masing paslon juga didukung oligarki batu bara?” kata Leonard.

Baca: Debat cawapres soal lingkungan dinilai tak singgung akar masalah

Di sisi lain, malah solusi palsu transisi energi yang banyak diumbar dalam debat cawapres tadi malam. Misalnya rencana melanjutkan bioenergi, seperti biodiesel, yang disampaikan cawapres 02.

“Pemenuhan biodiesel berpotensi memicu ekspansi industri sawit melalui deforestasi yang mengancam hutan dan lanskap gambut alami yang tersisa,” cetus Leonard. 

Ia menegaskan, Indonesia sudah tak bisa menunda-nunda lagi dan harus segera beralih dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi hijau yang bebas dari solusi-solusi palsu. 

Riset Greenpeace dan CELIOS menemukan bahwa peralihan ekonomi ekstraktif ke ekonomi hijau akan menambah Rp4.376 triliun ke output ekonomi nasional.

Transisi untuk meninggalkan sektor ekstraktif juga mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas dan mampu menyerap 19,4 juta orang.

Baca: Organisasi lingkungan sesalkan keadilan iklim tak dibahas di debat cawapres

Salah satu sektor penyerapan tenaga kerja terbesar adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 3,9 juta tenaga kerja lewat pengembangan kemandirian ekonomi di level desa.

Pada isu perkotaan, cawapres 02 sempat mempertanyakan penggunaan air mineral dalam kemasan plastik kepada cawapres 01, lalu membandingkan dengan pihaknya yang memilih air mineral dalam kemasan botol kaca.

Praktik menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang kali (seperti botol kaca untuk air minum) memang merupakan salah satu solusi dan tindakan yang fokus pada pengurangan sampah dan plastik sekali pakai.

Akan tetapi, pernyataan ini hanya menjadi gimmick dan tak ada penjelasan lebih lanjut dari ketiga kandidat tentang program mereka untuk mengurangi plastik sekali pakai. 

Cawapres 03 sempat menyinggung tentang daur ulang. Ini memang bagian dari ekonomi sirkular, tapi bukan prioritas dalam hierarki pengelolaan sampah. Saat ini, tingkat daur ulang di Indonesia hanya 10 persen.

Baca: Simak program lingkungan para capres

Daur ulang tanpa pengurangan produksi kemasan plastik di hulu tak akan menyelesaikan persoalan polusi plastik. 

Pun ketika isu ibu kota negara (IKN) Nusantara muncul dalam perdebatan, para cawapres tidak mengelaborasi lebih lanjut penyelesaian masalah Jakarta pasca-pemindahan ibu kota.

Seperti bagaimana pengendalian pencemaran udara, integrasi transportasi publik, serta pengurangan emisi karbon di perkotaan.

Meski ada banyak kebolongan, debat cawapres yang mengangkat isu lingkungan dan krisis iklim tetap bisa jadi alasan bagi pemilih untuk menimbang dengan rasional dan hati-hati.

Khalisah Khalid, Ketua Kelompok Kerja Politik Greenpeace Indonesia mengingatkan pemilih untuk tidak salah memilih capres, demi masa depan lingkungan Indonesia yang lebih baik. 

“Sebab jika kita salah memilih, masa depan Bumi dan generasi hari ini dan yang akan datang akan terancam. Itulah kenapa kami menggaungkan kampanye #SalahPilihSusahPulih,” kata Khalisah Khalid.

Baca: Pilih pemimpin pro lingkungan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *