7cloud.asia – Debat Capres pada Minggu (7/1/2024) lalu menuai polemik. Di satu sisi masyarakat menilai debat capres yang ktiga ini lebih seru dibanding dua debat sebelumnya.
Namun, di sisi lain ada sekelompok masyarakat -terutama pendukung paslon nomor urut 2- menilai debat capres kali ini tidak mengedukasi karena menyerang personal.
Tak kurang Presiden Joko Widodo yang seharusnya bersikap netral ikut mengomentari materi debat capres ketiga yang dinilainya tidak mengungkap gagasan.
Lantas, bagaimana pengamat melihat jalannya debat capres yang ketiga ini? Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia Firman Kurniawan menilai adu pendapat menjadi gaya yang jamak di kalangan muda.
Baca: Penampilan Ganjar di debat capres dapat apresiasi
Menurutnya, gaya komunikasi para calon presiden saat Debat Capres dapat mempengaruhi generasi muda dalam menentukan pilihan di Pemilu 2024.
Ia melihat generasi muda terutama yang tinggal di perkotaan terbiasa berbeda pendapat. Mereka terbiasa menyelesaikan atau menemukan solusi dengan perdebatan.
“Bagi mereka debat adalah hal yang menarik,” ujar Firman seperti dikutip Antaranews.com.
Firman mengatakan, debat capres merupakan ajang untuk memancing persilangan atau adu pendapat dan gagasan antar kandidat.
Baca: Debat capres dengan tema pertahanan bisa jadi kelebihan Prabowo
Menurut dia, gaya berdebat yang membuat pihak lawan lebih terpancing mengungkapkan gagasan atau menimbulkan kegeraman akan lebih digemari oleh generasi muda.
“Gaya berdebat yang lebih memancing pihak lain untuk bisa lebih mengungkapkan gagasannya atau mungkin menimbulkan kegeraman, menimbulkan kemarahan, ini justru hal yang dinamis seperti itu akan digemari,” kata dia.
Firman mengatakan gaya komunikasi dengan intensi menyerang pada debat merupakan hal yang wajar, selama yang diserang adalah gagasan, bukan personal.
Dia berpandangan bahwa gaya komunikasi yang dinamis dan saling beradu gagasan semacam itu lebih dapat diterima oleh generasi muda yang tinggal di perkotaan atau berpendidikan tinggi.
Baca: TPN Ganjar-Mahfud sepakat debat capres uraikan gagasan
Kelompok generasi muda tersebut dinilai terbiasa mengutamakan kekuatan pikiran dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga cenderung lebih menyukai gaya debat yang dinamis.
Sementara kelompok generasi muda yang lebih konservatif dinilai tidak terlalu menyukai ajang debat semacam itu. Mereka mungkin lebih menyukai debat yang bersifat lebih santun atau lembut.
Namun, dia menilai bahwa debat yang terlalu santun mungkin tidak mampu mengungkapkan kemampuan atau cara berpikir yang sesungguhnya dari seorang kandidat.
“Jadi (debat dengan intensi menyerang) tidak masalah, karena kan yang diserang adalah gagasannya,” demikian pandangan Firman Kurniawan.
Baca: KPU bakal gelar lima kali debat

Leave a Reply