Perubahan Paradigma Program Gizi Untuk Atasi Stunting

Written by

in

7cloud.asia – Untuk mengatasi stunting, program gizi perlu mengadopsi paradigma baru, yang disebut sebagai paradigma outcome (hasil).

Bagi kandidat presiden yang bersaing untuk memimpin lima tahun ke depan, penanganan malnutrisi (kurang gizi) dan stunting pada anak harus menjadi poin sentral dalam kampanye mereka

Keseriusan penanganan stunting dengan program gizi menjadi sinyal komitmen untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi Riyadi dan Ali Khomsan menjelaskan paradigma ini maksudnya, pertumbuhan dan status gizi anak dipandang sebagai indikator kesejahteraan.

Pertama, meningkatkan pola pertumbuhan dan status gizi anak dari kondisi yang tidak normal menjadi normal atau bahkan lebih baik.

Misalnya, untuk menangani masalah kekurangan energi protein, pola pertumbuhan dan status gizi tidak serta merta berdiri sendiri.

Baca: Mencari cawapres yang memberi solusi bagi stunting

Penanganan masalah ini harus terintegrasi dengan program lainnya, seperti air bersih, kesehatan lingkungan, imunisasi, lapangan kerja, dan penanggulangan kemiskinan.

Dengan demikian, rasionalitas program gizi menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.

Kedua, kegiatan pemantauan berat badan dan tinggi badan anak melalui survei gizi nasional periodik menjadi kunci untuk mendukung program gizi.

Dukungan untuk kegiatan ini harus disokong oleh sistem pemantauan kondisi gizi anak yang dapat mencerminkan kondisi di daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh survei gizi nasional.

Ketiga, revitalisasi posyandu dianggap berhasil ketika berfungsi sebagai lembaga masyarakat, terutama di desa, untuk memonitor pertumbuhan anak.

Baca: Satu dari enam anak Indonesia alami stunting

Pendidikan dan pelatihan kepada ibu-ibu tentang cara menimbang anak, mencatat pertumbuhan di Kartu Menuju Sehat (KMS), dan memahami KMS dengan baik menjadi kunci keberhasilan revitalisasi posyandu.

Terakhir, Indonesia perlu perubahan dalam kurikulum lembaga pendidikan tenaga gizi di semua tingkatan.

Hal ini untuk lebih memahami perlunya paradigma baru yang berorientasi pada pertumbuhan dan status gizi anak sebagai fokus dan tujuan program.

Thailand telah menerapkan paradigma outcome dalam memprioritaskan data status gizi anak dalam kebijakan dan program gizinya.

Sejak 1990, mereka rutin mengumpulkan data nasional mengenai perkembangan berat badan anak.

Baca: Stunting bukan hanya masalah kesehatan

Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tersebut, Thailand telah mengalami pertumbuhan pesat dalam PDB per kapita dan Pasokan Energi Makanan (Dietary Energy Supply).

Sebaliknya Thailand telah penurunan tingkat kekurangan gizi secara berkelanjutan.

Status gizi anak dijadikan indikator kemiskinan dalam kebijakan pembangunan nasional, dan program gizi diintegrasikan sebagai bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan.

Kemajuan yang pesat dalam ilmu dan teknologi saat ini sangat terasa di berbagai bidang, termasuk di bidang gizi dan kesehatan.

Munculnya konsep paradigma medis melalui pendekatan prediktif, preventif, personal, dan partisipatif memungkinkan manajemen dan dukungan kesehatan yang spesifik untuk masing-masing individu.

Baca: Empat provinsi di Jawa menyambang jumlah stunting

Masing-masing individu memiliki perbedaan dalam metabolisme, genetika, biokimia, dan mikrobiota yang memengaruhi respons tubuh terhadap asupan gizi.

Pengetahuan tentang nutrigenetika dan nutrigenomika memiliki peran krusial dalam merekomendasikan gizi yang disesuaikan dengan faktor genetik.

Nutrigenetik memberikan wawasan tentang bagaimana individu merespons nutrisi dalam makanan.

Sedangkan nutrigenomika menunjukkan bagaimana asupan nutrisi (gizi makro, gizi mikro, dan zat aktif biologis lainnya) memengaruhi ekspresi gen dan rekomendasi diet yang optimal.

Sebuah studi nutrigenetik dari Universitas Gadjah Mada menyoroti keterkaitan antara stunting pada anak dan risiko obesitas saat dewasa.

Baca: Kiat Jawa Tengah turunkan stunting

Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang mengalami stunting cenderung memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi karena tingkat metabolismenya rendah.

Beberapa gen telah diinvestigasi, khususnya gen yang terkait dengan mekanisme hormon ghrelin yang mengatur rasa lapar, dan terbukti memainkan peran dalam fenomena ini.

Dengan demikian, kesejahteraan anak-anak tidak hanya merupakan tindakan belas kasihan, melainkan juga aspek yang esensial bagi masa depan bangsa.

Hal ini mencakup pendidikan, produktivitas tenaga kerja, dan kemajuan bangsa Indonesia dalam mengoptimalkan momentum bonus demografi.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis Iskandar Azmy Harahap, Early Career Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *