China Terus Genjot Pemasangan Instalasi Energi Terbarukan

Written by

in

7cloud.asia – Kapasitas terpasang energi terbarukan di China melonjak dalam 10 bulan pertama tahun ini.

Pemasangan energi terbarukan dan energi bersih ini dilakukan China di tengah upaya negara tersebut untuk mewujudkan pembangunan ramah lingkungan.

Hingga akhir Oktober, kapasitas terpasang tenaga surya salah satu sumber energi terbarukan di negara itu meningkat 47 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 540 juta kilowatt.

Sementara kapasitas terpasang tenaga angin mencapai sekitar 400 juta kilowatt, mewakili peningkatan tahunan sebesar 15,6 persen, menurut data dari Administrasi Energi Nasional (National Energy Administration/NEA) China.

Kapasitas terpasang pembangkit listrik di negara tersebut mencapai total sekitar 2,81 miliar kilowatt, naik 12,6 persen (yoy), menurut NEA.

China meningkatkan investasi energi terbarukan selama bertahun-tahun seiring negara itu berupaya mewujudkan pembangunan rendah karbon dan ramah lingkungan.

Baca: Cara China atasi polusi udara secara signifikan

Pada 10 bulan pertama 2023, perusahaan-perusahaan listrik besar di bidang tenaga surya di seluruh China menginvestasikan total 269,4 miliar yuan (1 yuan = Rp2.178), melonjak 71,2 persen (yoy), menurut data tersebut.

China dinilai berada di jalur yang tepat dalam melipatgandakan pembangkit listrik tenaga bayu dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada 2025 atau lima tahun lebih awal dari target 2030.

Kompas.com mengutip CNN, menyebut China diperkirakan akan menghasilkan energi listrik sebesar 1.200 gigwatt (GW) dari PLTB dan PLTS pada 2025 jika semua calon pembangkit dibangun dan dioperasikan.

Prediksi tersebut disampaikan berdasarkan studi dari Global Energy Monitor, sebagaimana dilansir CNN, Jumat (30/6/2023). 

Saat ini pun, kapasitas terpasang PLTS China bahwa lebih besar dari seluruh PLTS di dunia jika digabungkan.

Baca: Pro kontra Power Wheeling di UU Energi terbarukan

Selain itu, kapasitas terpasang PLTB, baik di darat maupun lepas pantai, telah berlipat ganda sejak 2017.

Manajer proyek di Global Energy Monitor Dorothy Mei mengatakan, lonjakan kapasitas terpasang PLTS dan PLTB di China mencengangkan.

Menurut Global Energy Monitor, suburnya perkembangan enegri terbarukan di “Negeri Panda” tak lepas dari kombinasi dari aturan yang ambisius dan insentif yang diberikan.

Pada 2020, China telah berjanji akan menjadi negara yang netral karbon pada 2060. 

Meski memimpin dalam pengembangan energi terbarukan, China tetaplah penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia. China juga meningkatkan produksi batu baranya.

Baca: Mengapa transisi energi di Indonesia berjalan lamban

Peneliti Global Energy Monitor Martin Weil menuturkan, batu bara masih memegang kekuasaan sebagai sumber daya yang dominan di China.

“Negara (China) membutuhkan kemajuan yang lebih berani dalam penyimpanan energi dan teknologi hijau untuk masa depan energi yang aman,” kata Weil.

Menurut kajian Center for Research on Energy and Clean Air dan Global Energy Monitor, izin proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di China bahkan dipercepat tahun lalu.

Masih ketergantungannya China terhadap batu bara menimbulkan tantangan yang berat terhadap target energi hijau global.

Di sisi lain, penasihat kebijakan senior di lembaga think tank iklim E3G Byford Tsang mengatakan kepada CNN, cepatnya pengembangan PLTS dan PLTB di China merupakan tanda positif.

Baca: Polusi udara memicu 7 juta kematian dini setahun

“China dengan cepat dan berhasil meningkatkan penerapan energi terbarukan dan telah menjadi investor terbesar dalam energi terbarukan secara global,” ucap Tsang.

Menurut Tsang, ini adalah penyebab dan konsekuensi dari turunnya biaya energi terbarukan dengan cepat dibandingkan dengan tenaga batu bara.

Tsang berharap, energi terbarukan yang relatif murah akan membujuk China untuk menghentikan ketergantungannya terhadap batu bara.

“Kemampuan China untuk membangun dan menggunakan energi terbarukan yang tumbuh di dalam negeri dengan biaya kompetitif dengan kecepatan dan skala lebih lanjut mempertanyakan kelayakan ekonomi proyek batu bara baru di masa depan,” kata Tsang.

Pada 2021, International Energy Agency (IEA) mewanti-wanti bahwa jika dunia tidak ingin suhu bumi naik 1,5 derajat celsius, jangan ada lagi PLTU batu bara yang hendak dibangun.

Esti Utami dari berbagai sumber

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *