Pakar: Sudah Saatnya Pendidikan Moral dan Etika Mendapat Perhatian Serius

Written by

in

7cloud.asia – Psikolog Perkembangan Anak, Remaja, dan Pendidikan, Theresia Novi Poespita Candra menilai, sistem pendidikan di Indonesia belum menjadikan pendidikan etika sebagai masalah serius.

Minimnya perhatian pada pendidikan etika berdampak pada maraknya perilaku yang melanggar etika.

Pendidikan etika moral sebenarnya sudah lama menjadi keprihatinan banyak pihak. Tak sedikit pakar yang menyoroti sistem pendidikan yang lebih menekankan pada prestasi akademik dan nilai.

Karena itu menurut Novi, sistem pendidikan di Indonesia sudah saatnya dievaluasi agar memberi ruang yang lebih besar untuk pendidikan etika.

Baca: DPR sayangkan penggundulan siswi karena tak kenakan ciput

Mengutip jurnal Bhinaka Tunggal Ika, volume 2, nomor 1, Mei 2015 karya Amrina Rosyada, Novi menyebut pendekatan moral reasoning merupakan suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran melalui diskusi kelompok.

Namun, kata Novi, kebiasaan mendiskusikan etika dan hal-hal etis belum menjadi fokus utama pendidikan di Indonesia.

Penting untuk mencermati bahwa dampak dari ketidakmampuan berdialog ini dapat terlihat dalam berbagai aspek masyarakat.

“Fenomena ini seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan pendidikan berbasis kesadaran diri dan dialog, sebagai langkah krusial dalam mengatasi krisis etika yang tengah melanda,” ujar Novi seperti dikutip Antaranews.

Baca: Kekerasan marak karena toleransi tidak diajarkan sejak dini

Merujuk pada dari teori social learning dari Albert Bandura dalam buku Belajar dan Pembelajaran karya Moh. Suardi (2018), Novi menyebut manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada disekitarnya.

Dengan kata lain, orang terdekat, termasuk orang tua, bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka terkait dengan perilaku.

Bila perilaku yang ditampilkan tidak baik, kondisi tersebut dapat turun-menurun dan menjadi tidak baik.

Tetapi, menurut Novi, kebiasaan tidak baik dari orang tua atau lingkungan sekitar bisa diputus rantainya dengan adanya peran dari pemerintah sebagai pembuat peradaban baru melalui pendidikan formal.

Baca: Usia kritis bagi kesehatan mental anak

Di sekolah, pembelajaran social emotional learning (SEL), seperti yang dilakukan di negara-negara maju, dapat menjadi kunci untuk menciptakan perubahan positif.

Jika anak-anak mendapatkan pendidikan cara berpikir baru di sekolah, kebiasaan di rumah mereka dapat terhapus dengan sendirinya.

“Etika tidak hanya sebatas akademis, melainkan dapat ditanamkan melalui pendidikan yang melibatkan diskusi dan dialog,” terang Novi.

Oleh karena itu, pendidikan formal dan peran guru menjadi krusial dalam memberikan pelatihan untuk belajar berdialog, bukan sekadar memberikan materi pembelajaran.

Baca: Cara cerdas tumbuhkan motivasi belajar pada siswa

Di negara-negara maju, pendidikan etika sudah menjadi pondasi di tingkat SD, sementara di tingkat SMP dan SMA, etika sudah menjadi bagian dari warga negara.

Pemerintah, lanjut Novi, perlu mengubah orientasi pendidikan untuk membangun peradaban baru, bukan hanya mengejar ketertinggalan nilai numerasi dan literasi.

Negara seperti Vietnam, kata Novi, bahkan sudah tidak lagi mengukur numerasi dan literasi sebagai prioritas utama.

Semua pihak memiliki peran masing-masing dalam mengatasi krisis etika ini. Memperbanyak ruang interaksi dan dialog menjadi hal yang sangat penting.

Baca: Pertimbangkan hal ini sebelum mengirim anak ke homeschool

Orang tua perlu memiliki keterampilan seperti mendengar dan berkonsekuensi, yang akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan etika anak-anak.

Dalam merangkai kebijakan pendidikan, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk merombak sistem pendidikan yang lebih memperhatikan aspek moral dan etika.

“Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat melangkah menuju arah yang lebih etis, beradab, dan bertanggung jawab, sehingga krisis etika yang tengah melanda dapat diatasi secara komprehensif,” pungkasnya.

Sumber:Antaranews.com

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *