Madani Berkelanjutan Ajak Warga Membongkar Visi Misi Capres Soal Lingkungan dan Krisis Iklim

Written by

in

7cloud.asia – Dunia, saat ini dihadapkan pada tiga krisis skala global atau planetary crisis yang amat mengkhawatirkan: polusi, krisis iklim, dan punahnya keanekaragaman hayati.

Perubahan iklim telah menjadi krisis iklim karena laju pemanasan bumi semakin tidak terkendali.

Krisis iklim ini akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama Indonesia sebagai negara dengan risiko iklim ketiga tertinggi di dunia (Bank Dunia, 2021).

Sebagai warga Indonesia, kita sudah merasakan dampak nyata dari krisis iklim ini. Mulai dari suhu panas yang ekstrim, meluasnya kebakaran hutan dan lahan, kekeringan dan kelangkaan air.

Baca: Pilih pemimpin yang pro lingkungan di Pemilu 2024

Dampak krisis iklim juga dirasakan dengan kenaikan permukaan air laut, banjir, dan berbagai cuaca ekstrim lain yang membuat jantung kita berdegup kencang karena makin khawatir.

“Semakin banyak generasi muda yang merasakan kecemasan akan masa depan mereka. Seperti apa dunia tempat tinggal kami dan anak-cucu kami nanti?” ujar Direktur Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad dalam keterangan tertulis yang diterima ruangkota.

Kelompok rentan, ujarnya, seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, perempuan marginal, hingga mereka yang pekerjaan dan penghidupannya terdampak cuaca ekstrim.

Nadia menambahkan, mereka yang harus bekerja di luar ruangan, nelayan dan petani tradisional, pekerja sektor pariwisata, serta masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang paling merasakan beratnya dampak krisis iklim.

Baca: Mekanisme perdagangan karbon ditata ulang demi lingkungan

Tanpa mengatasi krisis iklim secara serius, Indonesia pada 2045 diproyeksikan tidak akan lagi utuh sebagai 17.508 kesatuan gugusan pulau-pulau dari ujung barat hingga timur Indonesia (Kemhan, 2010).

Tempo menulis, setidaknya, 115 pulau akan hilang. Kota-kota besar pun berisiko tenggelam. Sebut saja, Jakarta yang saat ini sudah semakin mengalami penurunan 0,1-8 cm per tahun (CNN, 2022).

 

Nadia menegaskan, di tengah berbagai tantangan tersebut, calon pemimpin Indonesia harus memiliki visi-misi dan kemauan politik yang kuat untuk mengubah pola pembangunan ekonomi.

“Dari yang selama ini mengutamakan pertumbuhan tanpa mengindahkan batasan-batasan planet bumi menjadi pembangunan ekonomi yang memulihkan,” ujarnya.

Baca: Kampanye krisis iklim yang menakuti justru berdampak negatif

Pemimpin Indonesia mendatang juga harus memiliki nurani dan keberanian untuk menghentikan pola-pola pembangunan yang menyebabkan ketidakadilan dan ketimpangan yang menyebabkan sebagian masyarakat harus menanggung dampak terburuk krisis iklim.

Oleh karena itu, Yayasan MADANI Berkelanjutan berupaya mendedahkan janji Calon Presiden & Wakil Presiden Indonesia pada periode 2024-2029 mendatang terkait adaptasi dan mitigasi krisis iklim.

Serta upaya mereka untuk menjaga hutan dan menghentikan deforestasi, transisi energi berkeadilan, pangan dan pertanian berkelanjutan, penanganan sampah, dan pengakuan, pelibatan.

Juga dan afirmasi bagi kelompok rentan demi mewujudkan keadilan iklim yang dituangkan dalam serial infografis bertajuk #AgarKitaTetapAda.

Baca: Indonesia menjadi negara dengan hutan terluas di Indonesia

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *