7cloud.asia – Sekelompok mahasiswa UGM memiliki gagasan untuk menghadirkan energi bahan bakar ramah lingkungan dengan mengatasi permasalahan limbah agroindustri.
Selama ini, melimpahnya limbah agroindustri menjadi masalah lingkungan yang cukup pelik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Masalah terkait limbah agroindustri ini makin rumit, ketika terjadi penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu TPST Piyungan sejak 22 Juli 2023.
Di sisi lain, limbah agroindustri dapat dimanfaatkan menjadi bahan dasar briket yaitu ampas kopi, tempurung kelapa, dan sekam padi.
Ketiga limbah agroindustri ini menjadi permasalahan lingkungan yang jumlahnya cukup melimpah khususnya di DIY, sehingga guna mendukung konsep zero waste.
Kombinasi tiga bahan pilihan ini karena kandungan nilai kalornya cukup tinggi untuk meningkatkan lama nyala api saat pembakaran.
Kondisi ini mendorong sekelompok mahasiswa UGM coba menghadirkan sebuah inovasi produk briket yang dinamai WastBriq.
Briket Wastbriq adalah produk yang memiliki potensi sebagai substitusi arang yang memiliki beragam keunggulan. Beberapa diantaranya dari nyala api yang lama, rendah emisi, dan efisiensi penggunaan energi serta terjadi pembakaran sempurna.
“Briket ini dikemas dengan komposisi terbaik sesuai kebutuhan pasar melalui serangkaian pengujian produk sehingga mencapai SNI 01-6235-2000 tentang Briket Arang Kayu,” kata Lovarensa, selaku ketua tim, Sabtu (14/9/2023) di Kampus UGM.
Baca: Pertamax 95, BBM berbahan tetes tebu
Anggota tim lainnya, Naufal menjelaskan bahwa WastBriq ini telah dipasarkan lebih dari 15 restoran di Daerah Sekitar Istimewa Yogyakarta.
Selain itu, WastBriq juga dipasarkan secara ritel ke pedagang kaki lima yang masih menggunakan arang tradisional.
Kehadiran produk tersebut mendapat respons positif dari pedagang karena menawarkan inovasi terbaru briket dengan keunggulan yang ada.
Selain itu harganya juga terjangkau sehingga dapat menekan biaya operasional yang berpengaruh pada keuntungan konsumen yakni Rp 7.500/Kg.
Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen, ini plus minusnya
Dari sana, ujarnya, kami menginginkan produk kami dapat menjangkau pasar lokal khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga target kami sebesar 800 kg dapat didistribusikan kepada para konsumen yang membutuhkan arang.
“Ini agar mereka beralih memakai WastBriq ramah lingkungan guna bersama-sama mendukung gerakan zero waste,” jelasnya.
Sarah menjelaskan, WastBriq ini telah dilengkapi teknologi terkini dengan sentuhan digital, yakni kode QR untuk mengakses akun sosial media dan kontak pemesanan agar memudahkan call to order sehingga sangat berguna dalam menunjang proses pemasaran melalui produk yang telah terdistribusi.
Sementara itu, Dr. J.P. Gentur Sutapa, sebagai pendamping tim PKM-K Wastbriq mengatakan produk ini diharapkan dalam jangka panjang mampu menggantikan energi batu bara menjadi energi biomassa terbarukan yang ramah lingkungan seiring dengan isu perubahan iklim dan pemanasan global di Indonesia.
Sumber: ugm.ac.id

Leave a Reply