7cloud.asia – Saat memimpin upacara peringatan Hari Kemerdekaan di Istana Kamis (17/8/2023) Presiden Jokowi memilih Ageman Songkok Sikepan Ageng sebagai busananya.
Ageman Songkok Sikepan Ageng yang dikenakan Jokowi terdiri dari beskap berwarna hitam, dengan dalaman putih. Melingkar di bahu kiri selendang berwarna emas.
Sabuk dengan motif khas melingkar pinggang dan memakai celana serta sepatu berwarna hitam melengkapi Ageman Songkok Sikepan Ageng yang dikenakan Jokowi.
Dipilihnya, busana adat Solo Ageman Songkok Sikepan Ageng oleh sejumlah kalangan dinilai ada pesan tertentu yang ingin disampaikan Jokowi di saat-saat terakhirnya menjelang lengser.
Baca: Indonesia berpeluang wujudkan Indonesia Emas 2045
Apakah ada pesan Jokowi yang lahir dan dibesarkan di kota Solo dengan memilih Ageman Songkok Sikepan Ageng ini?
Jokowi sendiri mengatakan, pemilihan Ageman Songkok Sikepan Ageng hanya ingin menunjukkan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.
“Ya ini lah sebetulnya kekuatan negara kita, kekuatan Indonesia yaitu keberagaman yang bisa dipersatukan. Jadi kalau kita Bersatu, solid, kompak, itulah kekuatan besar Indonesia,” tutur Jokowi seperti dilansir Antaranews.com
Baca: Ketua MPR sebut presiden terpilih harus lanjutkan pembangunan yang telah dilakukan
Ageman Songkok Sikepan Ageng sendiri memiliki makna yang mendalam. Desainer Anne Avantie mengatakan dengan mengenaikan pakaian adat ini, Jokowi ingin menyampaikan pesan pemimpin yang welas asih.
“Bapak Negara kita adalah pemersatu Bangsa, baju adat yang beliau kenakan merupakan Ageman Songkok Singkepan Ageng, dari Surakarta, memberi pesan kesan pemimpin yang welas asih,” ujar Anne seperti dikutip Antaranews.com
Welas Asih dapat diartikan sebagai kasih sayang atau rasa empati, sebagai suatu bentuk kepedulian seseorang dengan orang lain. Di mana menurut Anne, tergambarkan dari filosofi pakaian adat tersebut.
Baca: Angka stunting turun ke 21 Persen
Anne menambahkan, Ageman Songkok Singkepan Ageng merupakan pakaian adat biasanya dikenakan oleh raja Pakubuono Surakarta yang memiliki kebiasaan dermawan kepada rakyatnya.
“Baju adat tersebut mempunyai makna yang mendalam, ada pesan yang sangat sarat dengan kepedulian yaitu di zamannya pakaian itu dikenakan oleh raja ketika keluar dari Keraton dengan kereta kuda untuk terjun langsung melihat keadaan rakyatnya,” jelas Anne.
“Juga sebagai rasa empati dan cintanya beliau membagikan uang dan makanan kepada masyarakat,” tambahnya.
Baca: Butuh solusi jangka panjang untuk atasi kekeringan di Papua
Dalam bahasa Jawa, ageman adalah busana dan sikepan ialah sejenis jas atau beskap.
Beskap dahulu didesain oleh orang Belanda yang disebut beschaafd artinya civilized atau berkebudayaan.
Merujuk Indonesiabatik, sikepan sejenis jas tetapi tertutup bagian atas hingga leher sedangkan bagian belakang dibuat lengkungan atau krowokan.
Baca: Gereja punya peran besar mengisi kekosongan pendidikan di Papua
Busana ini diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegara untuk diubah menjadi busana bercorak Jawa. Saat ini, busana sikepan dipakai tak hanya pada acara resmi tetapi juga jenis pakaian mempelai pria.
Melansir Karakter Busana Kebesaran Raja Surakarta dan Yogyakarta Hadiningrat Periode 1755-2005 dipublikasikan dalam Jurnal Visual Art & Desain ITB Vol.2, No.2, 2008, setiap ageman kebesaran raja, dipakai seperangkat busana yang terdiri dari kupluk, sumping, beskap, slempang, sabuk, keris dan lancingan, kain batik bermotif parang barong, dan selop.
Jadi secara filosofis, makna Ageman Songkok Sikepan Ageng sebagai baju adat yang dipilih Jokowi ialah soal berbudaya, berwelas asih, dan melihat ke bawah atau para pemimpin yang selalu turuba serta memperhatikan masyarakatnya.
Baca: Seperti ini potret pendidikan di Papua

Leave a Reply