7cloud.asia – Pembukaan Jalan Tol Trans Jawa membuat Kota Salatiga Jawa Tengah jadi perbincangan. Hal ini karena gerbang Tol Salatiga memiliki panorama indah layaknya Kota Swiss.
Dengan latar belakang Gunung Merbabu yang menjulang tinggi, banyak orang yang menyamakan pemandangan di gerbang tol Salatiga itu dengan pemandangan di Swiss yang sudah mendunia.
Orang lantas bertanya-tanya di mana sebenarnya Salatiga. Ya karena sebelum ini nama Salatiga masih kalah tenar dibanding kota lain di Jawa seperti Semarang, Solo, Yogyakarta ataupun Bandung.
Padahal, Salatiga merupakan salah satu kota tertua di Indonesia dan juga disebut sebagai kota terindah di Jawa Tengah. Kota Salatiga juga disebut sebagai kota yang paling toleran oleh Setara Institute.
Baca: Sejarah Jakarta bermula dari Pangeran Jayakarta
Buat kamu yang masih belum yakin jika Salatiga merupakan salah satu kota tertua di Indonesia, seperti ini penjelasannya.
Hari jadi Kota Salatiga ditetapkan pada tanggal 24 Juli 750 Masehi, jadi baru pada Senin lalu Kota Salatiga merayakan hari jadinya yang ke 1273 tahun.
Sudah cukup tua bukan? Bahkan Kota Salatiga jauh lebih tua dibanding Jakarta ataupun Bandung.
Kota Salatiga adalah kota lama yang sudah ada sejak sebelum Belanda menjajah Indonesia. Keberadaan Kota Salatiga tak lepas dari kisah Ki Ageng Pandanaran, Bupati Semarang pada masa Kesultanan Demak yang ikut Sunan Kalijaga pergi mengembara.
Baca: Mengenal Kota Kupang yang pernah jadi rebutan Belanda dan Portugis
Dalam perjalanan itu, Sunan Kalijaga meminta Ki Ageng Pandanaran meninggalkan seluruh harta benda miliknya.
Walaupun Ki Ageng Pandanaran mampu menepati janjinya, namun istrinya melanggar. Dia memasukkan emas dan berlian ke dalam tongkat.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu sekawanan perampok. Sunan Kalijaga menyuruh perampok itu untuk mengambil harta yang dibawa oleh istri bupati.
Akhirnya perampok itu membawa tongkat yang berisi emas dan berlian. Drai kejadian inilah nama Kota Salatiga berasal.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Setelah peristiwa itu, Sunan Kalijaga berkata kepada Ki Pandanaran dan istrinya,
”Aku akan menamakan tempat ini Salatiga karena kalian telah membuat tiga kesalahan. Pertama, kalian sangat kikir. Kedua, kalian sombong. Ketiga, kalian menyengsarakan rakyat. Semoga tempat ini menjadi tempat yang baik dan ramai nantinya.”
Berdasarkan prasasti Plumpungan yang berada di Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo itu, pada awalnya Salatiga adalah sebuah tanah perdikan bernama Hampra.
Pada saat itu, pemberian tanah perdikan itu dilakukan oleh seorang raja, sehingga rakyat yang menetap di sana dibebaskan dari membayar pajak atau upeti karena daerah itu dianggap berjasa pada seorang raja.
Baca: Kisah sukses Bogota terapkan konsep TOD
Berdasarkan pengamatan oleh ahli sejarah, tanah perdikan atas wilayah Hampra diberikan oleh Raja Bhanu, seorang raja besar yang daerah kekuasaannya meliputi Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Boyolali.
Berdasarkan pada Perda No. 15 tahun 1995, penetapan tanah perdikan oleh Raja Bhanu itulah yang menjadi dasar tanggal lahir Kota Salatiga.
Kota Salatiga yang terletak di kaki tepatnya arah utara Gunung Merbabu memiliki udara yang sejuk dan panorama indah.
Keindahan Kota Salatiga sebenarnya telah dikenal sejak masa penjajahan Belanda. Bahkan pada zaman itu, Salatiga mendapat julukan De Schoonste Stad van Midderi-Java atau kota terindah di Jawa Tengah.
Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon warga Kota Yogyakarta
Maka tak heran apabila di Salatiga banyak dijumpai rumah peninggalan Belanda dan juga tempat wisata alam seperti Kopeng.
Letaknya yang berada di dua kota besar, yakni Semarang dan Solo membuat lokasi Salatiga begitu strategis. Apa lagi, kota itu dilalui jalan nasional dan juga jalan tol trans Jawa.
Salatiga juga dikenal memiliki pendidikan yang baik, dan punya perguruan swasta yang cukup terkenal yaitu Universitas Satya Wacana.
Seperti itulah kisah Kota Salatiga, buat kamu yang ingin berkunjung ke sana bisa lewat Semarang, Solo ataupun Yogyakarta.

Leave a Reply