7cloud.asia – Masaro demikian sistem pengelolaan sampah ini dinamai. Masaro merupakan sistem dan teknologi pengelolaan sampah yang menghasilkan zero waste.
Masaro atau manajemen sampah zero mengubah paradigma pengelolaan sampah yang awalnya cost center atau cenderung memakan biaya dengan sistem kumpul-angkut dan buang menjadi pengelolaan yang besifat profit center.
Pengelolaan sampah bersifat profit center ini antara lain dilakukan dengan dipilah-diangkut-diproses dan lantas dijual.
Pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro membagi sampah dari masyarakat menjadi lima kategori yaitu sampah membusuk, sampah plastik film, sampah waste to energy (WTE), sampah daur ulang, dan sampah B2 (bahan berbahaya)
Baca: Yuk kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya
Saat berbincang dengan 7cloud.asia beberapa waktu lalu, pencipta teknologi pengelolaan sampah Masaro Ahmad Zainal menjelaskan pengelolaan sampah dengan sistem Masaro bisa diterapkan meski warga tidak melakukan pemilahan dari rumah.
Sampah yang belum terpilah ini nantinya akan dipilah menjadi lima jenis sampah yaitu sampah mudah membusuk, sampah lambat membusuk, sampah tidak bisa membusuk, sampah tidak bisa didaur-ulang dan sampah beracun dan berbahaya.
“Masing-masing jenis sampah ini akan diolah sesuai sifatnya untuk menghasilkan berbagai produk, mulai dari kompos hingga konsentrat cair istimewa,” terang Zainal kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon.
Sampah mudah membusuk, seperti makanan, sayuran, buah-buahan akan diolah menjadi konsentrat pakan organik yang dalam pengelolaan sampah sistem Masaro dinamai KOCI (Konsentrat pakan Organik Cair Istimewa).
Baca: Butuh tindakan kolektif untuk pengeloaan sampah plastik
Harga 1 kilogram KOCI ini, menurut Zainal, setara dengan harga 1 gram emas.
Sementara sampah lambat membusuk, dengan menggunakaan teknologi pengelolaan sampah Masaro akan diolah menjadi kompos padat masaro ataupun kompos cair Masaro.
“Dengan formula kami, sistem pengomposan ini bisa berlangsung lebih cepat, yakni kurang dari satu minggu,” terang Zainal sembari menambahkan setiap kilogram kompos padat laku dijual Rp 40 sedangkan kompos cair Masaro dijual seharga Rp 1250 per liter.
Lain lagi dengan pengelolaan sampah tidak bisa membusuk. Melalui teknologi pengelolaan sampah Masaro sampah tidak bisa membusuk dipisahkan menjadi dua jenis, yakni sampah yang bisa didaur-ulang dan tidak bisa didaur-ulang.
Baca: Kenali beragam teknologi untuk pengelolaan sampah plastik
Untuk sampah yang bisa didaur-ulang akan dikumpulkan tersendiri, namun Masaro tidak menangani sampah jenis ini.
“Selain dijual kepada pengepul ada juga yang disadaqahkan kepada pengepul,” imbuh Zainal.
Sementara sampah plastik yang tergolong jenis sampah yang tidak bisa didaur-ulang dengan teknologi pengelolaan Masari akan diolah menjadi pestisida organik Masaro.
Jadi dengan teknologi pengelolaan sampah Masaro ini, hampir tidak ada sampah rumah tangga yang terbuang sia-sia. Semua jenis sampah bisa digunakan untuk hal yang berguna.
Baca: Menyoal galon sekali pakai, apakah menjadi solusi untuk lingkungan
Bahkan dengan teknologi pengelolaan sampah Masaro ini, tempat pengelolaan sampah bisa dijadikan edu wisata untuk mengenalkan pengelolaan sampah kepada anak-anak.
Zainal yang merupakan pensiunan dosen ITB dan pernah menjabat sebagai Staf Ahli di Kementerian Perindustrian ini menuturkan, teknologi pengelolaan sampah Masaro ini mulai ia kembangkan sekitar 10 tahun lalu.
Awalnya teknologi pengelolaan sampah Masaro diterapkan untuk skala RW di lingkungan tempat tinggal Zainal di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Kini teknologi pengelolaan sampah Masaro telah diterapkan di sejumlah kota seperti di Kota Cilegon yang merupakan program CSR Chandra Asri. Teknologi pengelolaan sampah Masaro juga diterapkan di Desa Babakan, Kuningan Cirebon Jawa Barat
Baca: Mengenal Insectta, aplikasi pengelolaan sampah makanan dari Singapura
“Kini teknologi pengelolaan sampah Masaro sedang dikembangkan di TPA Mekarsari dan IPPO Dumai yang mampu mengolah 100 ton sampah per hari untuk Zero Waste to TPA,” ujar Zainal Bangga.
Pembangunan teknologi pengelolaan sampah Masaro di Dumai ini memakan biaya sebesar Rp 35 miliar yang diambil dari APBD. Sedangkan operasionalnya akan ditangani BLUD di bawah Dinas Lingkungan Hidup setempat.
Dari pengelolaan sampah terpadu yang berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi ini akan dihasilkan beragam produk baik kompos, pakan ternak maupun pestisida organik yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan setempat.
Pemanfaatan produk pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro ini akan dilakukan Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, dan Dinas Taman & Pariwisata.
Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastiknya
“Diperkirakan akan ada sekitar 580 Kelompok Tani, KWT, dan perkebunan yang akan memanfaatkan produk dari TPST Dumai ini,” imbuh Zainal.
Ke depan lokasi TPST Dumai ini juga bisa dimanfaatkan eduwisata baik dalam pengeloaan sampah maupun edukasi sektor pertanian maupun perikanan.
Leave a Reply