7cloud.asia – “Maluku Pung Carita” atau Maluku Punya Cerita. Demikian edukasi budaya hasil kolaborasi Komunitas Perempuan Berkebaya berkolaborasi dengan komunitas Ina Gandong diberi tajuk.
Maluku Punya Cerita ini dihelat di Aula Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Jakarta pada Sabtu (27/5/2023)
Acara edukasi budaya Maluku Punya Cerita ini dihadiri perwakilan dari puluhan komunitas perempuan dan pencinta dan penggerak budaya yang ada di Jabodetabek dan dihadiri oleh Ketua Komisi Nasional Indonesia Dr. Itje Chodidjah.
Dalam sambutannya, Itje Chodidjah menjelaskan tentang pendaftaran sebuah elemen budaya menjadi warisan budaya dunia tak benda ke badan pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO secara sendiri atau single nomination atau bersama-sama dengan negara lainnya secara bersama-sama atau multi-national nomination.
Baca: Mengenal uniknya tradisi Seba masyarakat Badui
Hal ini terkait dengan informasi adanya rencana Indonesia untuk bersama dengan Belanda mengajukan cara memakan papeda yang merupakan salah satu kekhasan budaya kuliner dari Maluku sebàgai warisan budaya dunia tak benda ke UNESCO.
“Pulau Buru memang jauh dari Pulau Saparua. Maluku memang gudang keragaman budaya. Yuk, dukung pengajuan slurping (papeda) sebagai warisan budaya dunia,” ujar Itje saat menutup sambutannya dengan sebuah pantun.
Slurping atau menyeruput atau yang dikenal orang Maluku sebagai hisap papeda adalah cara memakan makanan pokok khas Maluku ini.
Baca: Kritik terhadap konsep IKN sebagai kota hutan
Selain hisap papeda, para tamu undangan di acara Maluku Punya Cerita juga disuguhi penganan khas Maluku seperti ampas tarigu yang merupakan roti khas setempat, nasi pulit unti dan gogos semacam lemper yang dibakar.
Acara utama Maluku Punya Cerita adalah belajar membuat papeda dan bagaimana cara memakannya atau slurping papeda.
Setelah itu para tamu dikenalkan dengan beragam busana tradisi dan wastra Maluku, khususnya beragam corak tenun dari Tanimbar.
Baca: Kupang, kota bandar yang pernah jadi rebutan Portugis dan Belanda
Kebaya Maluku yang beragam serta peruntukannya dengan penggunaan baju cole sebagai pakaian dalamnya diperkenalkan kepada para tamu, termasuk juga baju kurung dari Maluku yang dikenal sebagai baju cele dengan berbagai peruntukkannya termasuk untuk pakaian pengantin.
Tak ketinggalan kebaya dansa yang merupakan pakaian tradisi laki-laki di Maluku.
Bicara soal Maluku tidak lengkap dengan lagu-lagu dan tarian. Persembahan lagu dari Noel Risakotta berjudul Kapitan Pattimura menegaskan tujuan penyelenggaraan acara edukasi budaya tersebut yaitu dalam rangka memperingati hari Pattimura yang jatuh pada tanggal 15 Mei, peringatan hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei dan hari lahir Pancasila pada 1 Juni.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Lagu Papaceda dibawakan oleh Faye Risakotta yang merupakan vokalis JFK bersama dua saudara laki-lakinya Josh dan Kaleb.
Penampilan Biola Cantik mengantar tamu undangan turun menari dengan persembahan lagu Waktu Hujan Sore-Sore.
Kegiatan belajar budaya Maluku ditutup dengan menyanyikan lagu Gandong oleh semua yang hadir yang merupakan lagu persaudaraan masyarakat Maluku.

Leave a Reply