7cloud.asia – Nura adalah perempuan pekerja di Jakarta dengan satu anak usia 1,5 tahun. Meski suaminya juga bekerja, Nura tetap merasa berat untuk membayar daycare di dekat rumahnya.
Alhasil, untuk urusan mengurus anak dia memilih menitipkan anaknya kepada tetangganya dengan sistem pembayaran harian, ketimbang membayar daycare yang mencapai Rp 2,5 juta sebulan.
Fasilitas daycare makin dibutuhkan dan menjadi salah satu alternatif yang dapat dipilih para orang tua muda yang harus bekerja sembari mengurus anak, Tren daycare berkembang dalam beberapa tahun terakhir terutama di negara-negara maju.
Di Indonesia, keberadaan daycare mulai banyak ditemukan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan kota-kota lainnya.
Daycare menjadi salah satu solusi untuk menitipkan mengurus anak di tengah keputusan kedua orang tua untuk bekerja bagi ekonomi keluarga.
Baca: Buruh perempuan tolak sistem “no work no pay”
Namun, untuk mengakses layanan daycare di kota besar seperti Jakarta tidaklah murah. Untuk orang tua pekerja dengan gaji Rp 5 juta sebulan kadang harus merogoh hampir separuh dari penghasilannya demi bisa mengakses fasilitas daycare untuk mengurus anak mereka.
Dilansir DW Indonesia, umumnya harga daycare di Jakarta berkisar Rp2 juta hingga 3,5 juta per bulan. Padahal menurut data BPS, pada 2021 rata-rata gaji pekerja di Jakarta berkisar di angka Rp4,1 juta hingga 5 juta per bulan.
Hal inilah yang juga dialami Nura, sehingga menitipkan anak di daycare masih sebatas angan-angan.
Hal ini berbeda dengan sejumlah negara di Eropa yang biaya daycare disubsidi oleh pemerintah. Di Swedia, orang tua muda hanya perlu mengeluarkan sekitar 4% dari pendapatan bulanannya untuk menggunakan jasa daycare guna mengurus anak mereka.
Pemerintah Jerman sejak 2019 telah menggelontorkan dana untuk memberikan subsidi bagi warganya untuk bisa menggunakan fasilitas daycare untuk mengurus anak mereka. Warga Jerman hanya perlu merogoh kocek sekitar 5,1% hingga 9,8% dari penghasilan bulanan mereka untuk membayar biaya daycare.
Namun, segala kemudahan bagi warga Swedia maupun Jerman tidak didapatkan secara cuma-cuma. Pajak di Swedia bisa mencapai 52,27%. Sementara pajak di Jerman berkisar 12% hingga 42% dari penghasilan bulanan warganya.
Di sisi lain, budaya merawat dan mengurus anak dengan menggunakan fasilitas daycare dinilai masih cukup tabu oleh sebagian kalangan di Indonesia, bahkan mereka yang tinggal di kota besar.
Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif bagi lingkungan
Citra Anggraeny, Manager Operasional dari Root Daycare menyebut, hingga saat ini masih banyak orang tua yang enggan menitipkan anaknya di daycare.
“Masih tetap ada yang menganggap daycare itu kayak anaknya itu dipisahin, apalagi kakek nenek banyak banget (berpikir) ‘aduh kasian banget adiknya harus dititipin,’ lebih mostly pengennya sih cucunya di rawat sama kakek neneknya,” ungkap Citra.
Budaya masyarakat Indonesia yang belum terbiasa dan mengenal daycare untuk mengurus anak menjadi tantangan di industri ini. Citra menyebut untuk dapat meyakinkan orang tua mengenai kualitas pola pengasuhan, daycare yang dikelolanya rutin mengadakan “pelatihan bagi pendamping anak, hingga pendampingan dari ahli gizi dan tenaga ahli, seperti dokter.”
Daycare menjadi solusi bagi keluarga muda di wilayah urban di Indonesia, di mana kedua orang tua buah hati harus memutuskan untuk bekerja.
Sejauh ini, DPR tengah menggodok aturan dalam Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak yang mewajibkan perusahaan untuk menyediakan daycare bagi karyawannya.
“Kalau aturan itu diterapkan, itu memudahkan sekali ya untuk keluarga seperti aku. Jadi bisa tetap bekerja tanpa khawatir soal anak,” pungkas Yeni.
Baca: Perempuan down syndrome rentan alami kekerasan tapi sering diabaikan

Leave a Reply