Perbanyak Jalan Kaki di Kotamu dan Rasakan Manfaatnya untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Written by

in

 
 
7cloud.asiaSebuah studi yang dilakukan para peneliti di Stanford University yang mengungkapkan bahwa orang Indonesia tergolong paling malas jalan kaki. Studi yang dirilis pada Agustus 2022 itu menyebut bahwa rata-rata volume jalan kaki yang dilakukan orang Indonesia hanya 3.513 langkah per hari.

 
Di bawah Indonesia ada Arab Saudi di mana warganya rata-rata jalan kaki sejauh 3.807 langkah sehari, disusul Malaysia (3.963), dan Filipina (4.008).
 
Para peneliti Stanford University menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang di seluruh dunia yang menggunakan Argus, aplikasi pemantau aktivitas yang ada di telepon seluler.

 
Hasilnya, mereka menemukan bahwa warga Hong Kong menjadi juara sebagai penduduk yang paling rajin jalan kaki. Masyarakat Hong Kong rata-rata jalan kaki 6.880 langkah atau 6 kilometer per hari.
 
Di bawahnya ada China dengan rata-rata masyarakat jalan kaki 6.189 langkah per hari. Di posisi ketiga ada Ukraina (6.107), keempat Jepang (6.010), dan posisi kelima Rusia (5.969).
 
 
 
Nah, buat kamu yang tergolong malas jalan kaki cobalah untuk mulai rajin jalan kaki. Selain lebih ramah lingkungan, jalan kaki juga menyimpan banyak manfaat bagi kesehatan baik fisik maupun mental.
 
Dengan banyak jalan kaki kamu juga bisa lebih mengenali sudut-sudut kota tempat tinggal kamu. Jalan kaki juga akan mempertemukan kamu dengan lebih banyak orang ketimbang naik kendaraan umum apalagi kendaraan pribadi.  
 
Bahkan, Dokter jaman Yunani kuno Hippokrates sudah mengatakan, “Jalan adalah obat yang paling baik”. Ternyata jalan kaki tanpa henti selama 15-30 menit per hari bisa mengubah penampilan dan membuat tubuh tambah sehat.
 
Apa yang dikatakan Hippokrates ini terbukti beratus tahun kemudian. Sejumlah penelitian mengungkap berbagai manfaat kesehatan jalan kaki seperti dirangkum di bawah ini:  

Menenangkan pikiran

Jika jalan kaki bisa memperbaiki simtom depresi pada pasien yang menderita penyakit itu, bayangkan bagaimana besarnya dampak positif berjalan kaki jika orang hanya merasa suasana hati tidak senang atau lelah secara mental. Ini tentu bisa memperbaiki “bad mood.

Perubahan positif pada otak

Sebuah studi mengungkap, jalan kaki membantu mencegah pikun, mengurangi risiko Alzheimer dan memperbaiki kesehatan mental. Jalan kaki juga mengurangi stres mental dan menjaga kadar endorfin tinggi dalam tubuh.

Memperbaiki penglihatan

Mungkin kedengarannya aneh, mengingat mata tampak tidak berhubungan dengan kaki. Tapi jalan kaki juga memberi keuntungan bagi mata. Karena bisa membantu memerangi glaukoma, penyakit yang disebabkan cairan terkumpul di bagian depan mata dan meningkatkan tekanan atas syaraf penglihatan.

Mencegah penyakit jantung

Menurut Asosiasi Jantung Amerika, jalan kaki sama efektifnya seperti berlari dalam hal pencegahan penyakit jantung dan stroke. Aktivitas jalan kaki juga membantu mencegah penyakit jantung dengan menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol serta memperlancar sirkulasi darah.

Menambah volume paru-paru

Jalan kaki adalah olah raga aerobik yang meningkatkan jumlah oksigen dalam peredaran darah dan membantu melatih paru-paru, selain dari menghilangkan racun hal lain yang harus dibuang. Karena orang bernafas lebih dalam dan lebih baik, penyakit paru-paru juga bisa diatasi.

Menambah kekuatan otot

Kekuatan otot juga bisa ditingkatkan, demikian halnya dengan pengurangan bobot tubuh. Jika orang teratur jalan kaki 10.000 langkah setiap harinya, itu sama dengan berlatih di fitness centre, apalagi jika orang juga berjalan mendaki. Ditambah lagi, kemungkinan mendapat cedera lebih kecil.

Efek positif bagi pankreas

Menurut studi, ternyata berjalan kaki efek positifnya bagi pankreas lebih besar daripada jika orang berlari. Menurut studi, sekelompok orang yang berjalan kaki dalam enam bulan menunjukkan peningkatan daya tahan terhadap glukosa enam kali lipat dibanding mereka yang berlari.

Mencegah Diabetes

Dengan membiasakan jalan kaki  sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).

Sebagaimana diketahui, kasus diabetes yang dapat diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan.

Itu berarti bahwa ber jalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes. 

Menurunkan Risiko Terkena Stroke.

Kendati manfaat jalan kaki dengan cepat terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan jalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.

Menekan Risiko Serangan Jantung.

Otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar.

Jalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup.

Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan jalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.

Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan jalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan.

Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

Berat badan stabil.

Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.

Buat mereka yang mulai kelebihan berat badan, cobalah dengan melakukan jalan kaki cepat secara rutin. Kelebihan lemak di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan jalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.

Memperkuat sendi dan tulang

Jalan kaki secara teratur bisa meningkatkan mobilitas sendi, mencegah menurunnya masa tulang, bahkan juga mengurangi risiko keretakan. Arthritis Foundation menyarankan jalan kaki setiap hari secara moderat sedikitnya 30 menit per hari untuk mengurangi sakit pada sendi, juga kaku dan peradangan.

Memperbaiki pencernaan

Jalan kaki 30 menit per hari juga bisa mengurangi risiko kanker usus dan memperbaiki pencernaan.  Ini karena saat jalan kaki badan bergerak ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan.

Studi lain juga menyebutkan peran jalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.

Menghilangkan sakit punggung

Berjalan kaki bisa jadi “penyelamat” bagi mereka yang mengalami sakit punggung saat melakukan olah raga lebih berat. Jalan kaki mendorong perbaikan sirkulasi darah di dalam struktur tulang belakang dan memperbaiki postur tubuh dan fleksibilitas yang vital bagi kesehatan tulang belakang.

Mencegah osteoporosis.

Dengan gerak badan dan jalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis.

Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis. Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *