7cloud.asia – Kota Kupang, mungkin banyak dari kita yang belum pernah mengunjungi ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Bisa karena letaknya yang cukup jauh, juga karena belum banyak orang mengenal Kupang yang terletak di ujung timur Pulau Timor.
Mungkin juga banyak yang belum tahu kalau Kota Kupang punya sejarah yang panjang, yakni sejak abad ke-15 saat Portugis dan Belanda sedang berebut kuasa atas bumi Nusantara yang kaya akan hasil bumi.
Meski sejarah Kota Kupang sudah terjejak sejak abad ke-15 atau saat bangsa Portugis datang ke wilayah ini untuk melakukan perdagangan rempah-rempah, tanggal lahir Kota Kupang baru ditetapkan pada 23 April 1886.
Namun tetap saja usia Kota Kupang sudah ratusan, karena artinya hingga saat ini ibu kota NTT ini telah berumur 237 tahun. Sudah cukup tua bukan?
Baiklah, tidak berpanjang-panjang segera saja kita ulas sejarah Kota Kupang. Kupang adalah kota kecil dengan luas 152,59 kilometer persegi yang terletak di ujung Pulau Timor tak jauh dari perbatasan dengan Timor Leste.
Dikutip wikipedia, nama Kupang diambil dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah Kota Kupang sebelum bangsa Portugis datang ke Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 1436, pulau Timor sudah mempunyai 12 kota bandar namun tidak disebutkan namanya.
Kota-kota bandar tersebut terletak di pesisir pantai, dan salah satunya yang strategis menghadap ke Teluk Kupang. Daerah ini merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Helong dan yang menjadi raja pada saat itu adalah Raja Koen Lai Bissi.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Pada tahun 1613, perusahaan dagang Belanda yang berkedudukan di Jakarta, mulai melakukan kegiatan perdagangannya di Nusa Tenggara Timur dengan mengirim 3 kapal yang dipimpin oleh Apolonius Scotte, menuju pulau Timor dan berlabuh di Teluk Kupang.
Kedatangan rombongan VOC ini diterima oleh Raja Helong, yang sekaligus menawarkan sebidang tanah untuk keperluan markas VOC. Pada saat itu VOC belum memiliki kekuatan yang tetap di tanah Timor.
Pada tanggal 29 Desember 1645, seorang padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jacinto tiba di Kupang. Dia mendapat tawaran yang sama dengan yang diterima VOC dari Raja Helong.
Tawaran tersebut disambut baik oleh Antonio de Sao Jacinto dengan mendirikan sebuah benteng, namun kemudian benteng tersebut ditinggalkan karena terjadi perselisihan di antara mereka.
VOC semakin menyadari pentingnya NTT untuk kepentingan dagangnya, sehingga pada tahun 1625 hingga 1663, VOC menyerang Portugis di pulau Solor. Dengan bantuan orang-orang Islam di Solor, Benteng Fort Henricus berhasil direbut oleh VOC.
Pada tahun 1653, VOC mendarat di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Fort Concordia, yang terletak di muara sungai Teluk Kupang di bawah pimpinan Kapten Johan Burger.
Kedudukan VOC di Kupang langsung dipimpin oleh Openhofd J. van Der Heiden. Selama menguasai Kupang sejak tahun 1653 sampai dengan tahun 1810, VOC telah menempatkan sebanyak 38 Openhofd dan yang terakhir adalah Stoopkert, yang berkuasa sejak tahun 1808 sampai dengan tahun 1810.
Nama Lai Kopan kemudian disebut oleh Belanda sebagai Koepan dan dalam bahasa sehari-hari menjadi Kupang. Untuk pengamanan Kota Kupang, Belanda membentuk daerah penyangga di daerah sekitar Teluk Kupang dengan mendatangkan penduduk dari pulau Rote, Sabu dan Solor.
Untuk meningkatkan pengamanan kota, maka pada tahun 23 April 1886, Residen Creeve menetapkan batas-batas kota yang diterbitkan pada Staatblad Nomor 171 tahun 1886.
Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Selama masa penjajahan Belanda, Kupang menjadi pusat perlawanan rakyat Nusa Tenggara Timur melawan kolonialisme. Salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Kupang adalah Frans Sales Lega.
Ia adalah salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang kemudian menjadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, Kupang menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1958, Kupang resmi menjadi ibu kota dari provinsi Nusa Tenggara Timur yang baru dibentuk.
Kota Kupang memiliki keanekaragaman budaya yang sangat kaya. Kristen Protestan menjadi agama mayoritas di Kota ini dengan jumlah pemeluk mencapai 64,04%, Katolik 21,07%, Islam 14,34%, Hindu 0,51%, Buddha 0,04%, Konghucu 0,00%.
Masyarakat Kupang terdiri dari berbagai suku seperti Timor, Flores, Sumba, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga pengaruh budaya Portugis dan Belanda yang masih terlihat hingga saat ini.
Keberagaman budaya Kupang tercermin dari seni dan budaya yang ada di Kota Kupang seperti tari likurai, tari Nagekeo, dan tari Rote.
Kupang juga memiliki berbagai tempat wisata yang menarik seperti Pantai Lasiana, Pantai Tablolong, dan Pantai Oetune. Selain itu, terdapat juga objek wisata sejarah seperti Benteng Concordia yang dibangun oleh Belanda pada abad ke-17 dan Gereja Katolik Katedral Kupang yang merupakan salah satu gereja tertua di Indonesia.
Pendidikan dan Ekonomi
Kota Kupang memiliki beberapa universitas dan perguruan tinggi yang cukup terkenal seperti Universitas Nusa Cendana dan Universitas Kristen Artha Wacana. Selain itu, terdapat juga beberapa sekolah menengah atas yang memiliki prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Di sisi ekonomi, Kupang memiliki potensi yang cukup besar dalam sektor pariwisata, pertanian, dan perikanan. Namun, masih terdapat beberapa masalah yang perlu diatasi seperti minimnya infrastruktur dan rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Kota Kupang memiliki bandar udara internasional bernama Bandar Udara El Tari yang melayani penerbangan domestik dan internasional. Selain itu, terdapat juga pelabuhan laut yang melayani kapal-kapal penumpang dan barang.
Di dalam kota, terdapat beberapa angkutan umum seperti mikrolet atau biasa disebut bemo dan ojek yang dapat digunakan untuk transportasi sehari-hari.
Mikrolet atau bemo di Kota Kupang tergolong unik dan nyaman dibanding daerah lain.
Sound system yang dimodifikasi senilai puluhan juta membuat penumpang serasa berada di dalam discotik berjalan.
Makanan Khas Kota Kupang
Kota Kupang memiliki berbagai makanan khas yang lezat dan unik. Salah satunya adalah ikan kuah asam yang terbuat dari ikan tuna yang dimasak dengan bumbu asam pedas.
Makanan lain yang tidak boleh dilewatkan adalah jagung bakar yang biasanya dijual di pinggir jalan. Jagung bakar ini dibakar dengan arang dan kemudian diberi bumbu seperti keju, saus tomat, atau susu kental manis.
Rasanya yang gurih dan manis membuat jagung bakar menjadi favorit banyak orang di Kota Kupang.
Artikel ini pertama kali terbit di halopedeka.com, baca artikel asli di sini

Leave a Reply