Kota Bandung Luncurkan Gaslah! Perang Melawan Sampah Dimulai dari RW

Written by

in

7cloud.asia – Salah satu tantangan terbesar pengelolaan sampah di Kota Bandung, Jawa Barat ada di Pasar Gedebage yang menghasilkan 20 ton sampah setiap hari. Mayoritas sampah ini adalah sampah organik berupa limbah pisang.

Menurut Walikota Bandung, Muhammad Farhan, Kota Bandung merupakan konsumen pisang yang sangat besar, namun hanya buahnya yang dimanfaatkan, sementara kulit dan bagian lainnya menjadi beban pengelolaan.

“Problemnya adalah limbah organik itu harus diolah dengan teknologi biodigestor yang memang menimbulkan bau,” ujar Farhan dalam Wawancara Khusus “Berita Satu Spesial” B-Tv bertema Satu Tahun Kepala Daerah, Sinergi Pusat & Daerah, Jumat (20/2/2026).

Untuk mengatasi masalah sampah, Pemerinta kota Bandung sebenarnya telah meluncurkan program “Gaslah” (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Program ini menempatkan satu petugas pemilah di setiap RW untuk memastikan proses pemilahan berjalan dari hulu.

Kehadiran petugas Gaslah ini akan membantu dan mengajarkan memilah dan mengolah sampah. Khusus untuk sampah organik akan diolah menjadi kompos dan maggot.

Baca: Darurat pengelolaan sampah di sejumlah kota di Indonesia

Namun, khusus untuk Pasar Gedebage, keberadaan petugas Gaslah tak mampu menuntaskan persoalan. Karena itu, Pemkot sedang memutar otak untuk mengatasinya.

Farhan menjelaskan, metode pengolahan lanjutan seperti maggot, biodigestor hingga RDF tetap memiliki konsekuensi risiko bau. Bahkan teknologi termal sekalipun tidak sepenuhnya tanpa dampak.

Perang terhadap sampah
Farhan mengatakan, Pemerintah Kota Bandung telah menegaskan perang melawan sampah dimulai dari tingkat paling bawah, yakni Rukun Warga (RW).

Sebanyak 1.596 petugas pemilah dan pengolah sampah telah dikerahkan untuk menjangkau seluruh RW di Kota Bandung.

Farhan mengutip arahan Presiden yang menyebut menangani persoalan sampah sebagai sebuah “perang”.

Baca: Tambahan anggaran Rp90 miliar untuk penanganan sampah di Bandung

“Perangnya tidak mudah karena musuhnya datang dari diri kita sendiri. Sampah tidak pernah datang dari orang lain tapi dari diri kita sendiri,” katanya.

Dari total 1.596 RW, seluruhnya telah direkrut petugas. Namun Farhan mengakui hal itu belum cukup. Pemkot akan memperluas cakupan hingga menjangkau 9.699 RT agar edukasi dan pengolahan sampah dimulai dari rumah tangga.

Ia juga menegaskan kawasan komersial seperti pasar, hotel, dan perkantoran wajib mengolah sampahnya secara mandiri dan tidak lagi membebani sistem kota.

Farhan mengingatkan, perubahan perilaku menjadi kunci utama. Edukasi dari rumah, sekolah, hingga tempat kerja harus berjalan paralel dengan peningkatan teknologi pengolahan.

“Kalau tidak dimulai dari hulu, maka hilirnya akan selalu berat,” ungkapnya.

Baca: Pusat daur ulang sampah di Jakarta 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *