7cloud.asia – Proses pembelajaran pascabencana banjir Sumatera di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat masih belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan paparan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera di Kompleks DPR masih ada 99 sekolah yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda/kelas darurat.
Pembelajaran di tenda darurat ini karena proses pembersihan belum selesai dan sisanya merupakan sekolah yang ruang kelasnya sudah tidak bisa digunakan.
Sedangkan 22 sekolah lainnya masih menumpang karena sekolah tersebut hanyut dan perlu direlokasi. Adapun total sekolah yang terdampak banjir Sumatera tercatat ada 4.852 sekolah yang tersebar di tiga provinsi.
Menyikapi kondisi ini, Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian mendorong agar penanganan bencana ini dapat dilakukan percepatan, karena saat ini baru sekitar 30 persen sekolah terdampak yang telah melaksanakan Perjanjian Kerja Sama Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan Kemendikdasmen.
“Anggaran revitalisasi jangan hanya terfokus pada pembangunan infrastruktur tetapi juga termasuk penggantian perangkat sekolah, meubeler, alat praktik dan laboratorium, serta sumber daya guru dan tenaga kependidikan yang terdampak,” ujarnya dikutip Parlementaria, Kamis (19/2/2026).
Dijelaskan Hetifah, berdasarkan informasi Kemendikdasmen kebutuhan anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pendidikan Pasca Bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai Rp5,5 triliun dan telah disalurkan sebesar 1 triliun rupiah.
Selain itu, ia juga menggarisbawahi lokasi hunian sementara (Huntara) yang tidak terkoneksi dengan fasilitas umum dan pendidikan.
“Ini pasti akan berpengaruh dengan kondisi pembelajaran anak-anak. Untuk itu dalam pembangunan huntap kelak perlu sinergi yang lebih baik terutama untuk sekolah-sekolah yang akan direlokasi,” ungkap politisi Partai Golkar itu.

Leave a Reply