Membangun Kota yang Tangguh Hadapi Perubahan Iklim dengan Prinsip Infrastruktur Kota Spons

Written by

in

7cloud.asia – Untuk mengatasi banjir perkotaan yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim, para pakar perencanaan dan perancangan kota mengembangkan prinsip infrastruktur kota spons (sponge city infrastructure).

Prinsip infrastruktur kota spons ini meniru siklus air alami dengan menyerap, menahan, membersihkan, dan menggunakan kembali air hujan melalui infrastruktur hijau baik itu taman, atap hijau maupun lahan basah.

Prinsip infrastruktur kota spons juga memperbanyak perkerasan berpori sehingga selain mengurangi intensitas banjir juga dapat meningkatkan ketersediaan air bersih. Pada akhirnya konsep ini akan melahirkan kota yang tangguh, berkelanjutan, dan ramah lingkungan

Beberapa kota yang sukses menerapkan prinsip infrastruktur kota spons adalah Wuhan dan Tianjin (China), Auckland (Selandia Baru) dan Philadelphia (Amerika Serikat).

Ibu Kota Nusantara (IKN) yang saat ini sedang dibangun di Sepaku, Kalimantan Timur juga menerapkan prinsip infrastruktur kota spons ini.

Baca: Manfaat bangunan hijau untuk lingkungan dan kota

Prinsip utama konsep infrastruktur kota spons berfokus pada integrasi infrastruktur hijau (taman, atap hijau) dan biru (kolam retensi, lahan basah) untuk mitigasi banjir, mengurangi limpasan permukaan, serta meningkatkan cadangan air tanah dan air bersih.

Di lingkungan yang telanjur padat bangunan dan tertutup perkerasan, maka konsep ini dapat diterapkan dengan membuat sumur resapan ataupun biopori.

Prinsip utama
Berikut adalah prinsip utama konsep infrastruktur kota spons, yang kami rangkum dari berbagai sumber:

1. Menyerap (Infiltrasi)
Memaksimalkan penyerapan air hujan ke dalam tanah dengan menggunakan material berpori (permeable pavement) pada trotoar, taman, dan jalan, sehingga mengurangi aliran permukaan dan menambah air hujan yang terserap ke dalam tanah.

Prinsip ini secara tidak langsung akan membantu menjaga cadangan air tanah perkotaan.

2. Menahan (Detensi/Retensi)
Menggunakan ruang hijau, taman kota, dan atap hijau (green roofs) untuk menahan air hujan sementara, mencegah beban berlebih pada saluran drainase konvensional.

3. Membersihkan (Purifikasi)
Memanfaatkan lahan basah buatan (wetlands) dan taman hujan untuk menyaring polutan alami dari air hujan sebelum meresap ke dalam tanah atau dialirkan ke sungai.

Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

4. Menyimpan (Stok)
Membangun waduk, kolam retensi, dan tangki bawah tanah untuk menyimpan air hujan yang telah disaring agar dapat digunakan kembali (reuse) untuk kebutuhan sehari-hari seperti penyiraman taman atau pembersihan.

5. Mengalirkan (Drainase)
Mengintegrasikan sistem drainase alamiah dengan saluran air kota agar kelebihan air dapat dialirkan secara aman ke sistem penyimpanan atau ekosistem sungai tanpa menyebabkan banjir.

6. Adaptasi Ekologis
Mengubah lanskap perkotaan untuk bekerja sama dengan alam (desain nature-based solutions) dibandingkan sekadar mengandalkan infrastruktur beton, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi.

Penerapan prinsip-prinsip ini dilakukan melalui pendekatan terintegrasi di berbagai skala, mulai dari bangunan individu, kawasan, hingga rencana induk regional.

Semua ini akan bermuara ke satu tujuan yakni untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim.

Baca: Maroedja Sport Park Kembangan didesain dengan prinsip infrastruktur kota spons 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *