7cloud.asia – BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah daerah di Indonesia dalam sepekan ini.
Hal ini dipicu oleh munculnya Bibit Siklon Tropis 91S dan 92 P yang terpantau di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Teluk Carpentaria yang memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian Selatan hingga Papua Selatan bagian Selatan.
Selain itu aktifnya Monsun Asia yang membawa suplai massa udara lembab dari Laut Cina Selatan, bergerak ke wilayah Indonesia melalui Selat Karimata.
Hal ini diperkuat dengan adanya seruakan dingin (cold surge) dari dataran tinggi Siberia hingga melewati ekuator mencapai Pulau Jawa yang diindikasikan dengan signifikannya indeks surge, dan indeks CENS (Cross-Equatorial Northerly Surge) beberapa hari belakangan ini.
Aliran monsun Asia ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Dinamika atmosfer sepekan ke depan
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur.
Bibit Siklon Tropis 91S terpantau berada di wilayah Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan tekanan udara minimum sekitar 1004 hPa, kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot, serta bergerak ke arah selatan–tenggara. Dalam 48 – 72 jam ke depan, berpotensi menjadi siklon tropis dalam kategori tinggi.
Bibit Siklon Tropis tersebut menyebabkan peningkatan kecepatan angin >25 knot di Wilayah Samudra Hindia Selatan Jawa Timur hingga Pulau Sumba, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Perairan Utara Pulau Madura hingga Pulau Flores,
Bibit siklon tropis ini juga dapat membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) dan perlambatan angin (konvergensi) di Perairan Selatan Jawa Timur hingga Pulau Timor, dan sekitar Bibit Siklon Tropis tersebut.
Selain itu, Bibit Siklon 92P saat ini juga terpantau berada di Teluk Carpentaria dengan tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa, kecepatan angin sebesar 15 knot, serta bergerak ke arah selatan – tenggara.
Secara umum, potensi bibit 92P menjadi siklon tropis dalam 24-72 jam dalam kategori rendah. Bibit siklon tropis 92 P dapat meningkatan kecepatan angin >25 knot di Wilayah Laut Banda, Laut Arafuru, Maluku bagian Selatan hingga Tenggara, dan Papua Selatan bagian Selatan.
Kemudian membentuk pertemuan (konfluensi) dan perlambatan angin (konvergensi) di Laut Timor hingga Papua Selatan bagian Selatan, dan sekitar Bibit Siklon Tropis tersebut.
Dalam sepekan ke depan, terdapat potensi peningkatan aktivitas monsun Asia disertai dengan Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) yang diprediksi menguat, sehingga massa udara lembap lebih cepat dan mudah melewati ekuator menuju wilayah selatan Indonesia.
Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung tersebut, potensi terjadi cuaca ekstrem diprediksi masih tinggi.
Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang dan longsor.
Prospek cuaca periode 23–25 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.
Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Awas (Hujan sangat lebat – hujan ekstrem): Banten, dan DK Jakarta.
Angin Kencang: Kep. Riau, Kep. Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.
Prospek cuaca periode 26 – 29 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.
Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Bengkulu, Lampung, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Papua Pegunungan.
Angin Kencang: Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

Leave a Reply