42 Spesies Diusulkan Masuk Daftar Konservasi Internasional

Written by

in

7cloud.asia – Para pihak dalam Konvensi tentang Konservasi Spesies Hewan Liar Migrasi (CMS) telah mengajukan proposal untuk menambahkan 42 spesies baru ke dalam lampiran Konvensi sebagai spesies yang membutuhkan konservasi internasional.

Sementara satu spesies lainnya, yakni rusa Bukhara diusulkan untuk dihapus dari daftar yang membutuhkan perlindungan tertinggi karena populasinya dilaporkan mengalami peningkatan.

Sebagai perjanjian lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, CMS mempertemukan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk membahas konservasi spesies migrasi dan habitatnya.

Konvensi yang mengikat secara hukum ini memiliki dua lampiran: Lampiran I, yang ditujukan untuk spesies yang terancam punah, dan Lampiran II, yang ditujukan untuk spesies yang memerlukan kerja sama internasional.

Usulan amandemen terhadap lampiran CMS akan dipertimbangkan pada Pertemuan ke-15 Konferensi Para Pihak (COP15) yang akan diadakan di Campo Grande, Brasil, dari tanggal 23 hingga 29 Maret 2026 mendatang

Sekretaris Eksekutif CMS, Amy Fraenkel mengatakan, seiring meningkatnya tekanan terhadap spesies migrasi di planet kita, komitmen internasional untuk mengambil langkah-langkah efektif menjadi semakin penting.

“Usulan untuk memasukkan 42 spesies baru ke dalam lampiran CMS, termasuk hewan ikonik seperti burung hantu salju dan hiu martil, mencerminkan kebutuhan mendesak akan tindakan global yang terkoordinasi. Pada COP15, pemerintah memiliki kesempatan untuk memperkuat upaya melindungi spesies-spesies ini,” katanya seperti dikutip di laman resmi UNEP.

Mulai dari antelop dan paus hingga kelelawar, burung, dan penyu laut, spesies migrasi yang dibahas dalam Perjanjian ini adalah spesies hewan liar yang perlu melakukan perjalanan secara teratur, seringkali musiman, sebagai bagian dari siklus hidup alami mereka, dan yang melintasi setidaknya satu perbatasan negara.

Satwa-satwa ini sangat penting untuk ekosistem yang sehat di planet Bumi dan berfungsi dengan baik.

Hewan-hewan liar ini menyediakan layanan penting seperti penyerbukan, penyebaran biji, penyimpanan karbon, dan pengendalian hama, serta bermanfaat bagi masyarakat yang bergantung pada mereka sebagai sumber makanan dan pendapatan.

Namun, banyak spesies tersebut mengalami penurunan populasi akibat tekanan termasuk hilangnya dan fragmentasi habitat, eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, dan polusi.

Di antara 42 spesies yang diusulkan untuk dimasukkan dalam daftar di bawah Konvensi, beberapa menggambarkan tantangan mendesak yang dihadapi satwa liar migrasi.

Hyena belang (Hyaena hyaena), misalnya, menempati wilayah yang luas tetapi semakin terfragmentasi di seluruh Asia dan Afrika.

Dengan perkiraan populasi global kurang dari 10.000 individu dewasa, spesies ini terancam oleh hilangnya dan fragmentasi habitat akibat pertanian, urbanisasi, dan pembangunan infrastruktur; berkurangnya mangsa yang disebabkan oleh penurunan karnivora besar lainnya dan perubahan praktik peternakan; serta perburuan dan perdagangan ilegal.

Penganiayaan yang meluas, yang seringkali berasal dari konflik manusia-satwa liar dan persepsi negatif, semakin membahayakan pemakan bangkai vital ini, yang membantu mendaur ulang nutrisi dan mencegah penyakit melalui konsumsi bangkai.

Demikian pula, burung hantu salju (Bubo scandiacus) telah dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir melalui budaya populer, tetapi statusnya semakin genting.

Selama tiga dekade terakhir, spesies ini telah kehilangan sepertiga dari populasi globalnya; organisasi konservasi internasional BirdLife International baru-baru ini menyatakan spesies ini punah di Swedia.

Sebagai predator puncak dan ikon burung di tundra Arktik, burung hantu salju merupakan indikator utama kesehatan ekosistem yang rapuh ini.

Perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan adalah beberapa pendorong utama penurunan populasinya, yang menggarisbawahi kerentanan spesies ini meskipun statusnya ikonik.

Spesies laut juga menghadapi risiko serius, seperti yang terlihat pada nasib hiu martil besar (Sphyrna mokarran).

Eksploitasi berlebihan dalam perikanan, baik sebagai tangkapan target maupun tangkapan sampingan, telah menyebabkan penurunan populasi yang tajam, didorong oleh nilai pasar siripnya yang tinggi dan permintaan dagingnya.

Penangkapan berlebihan terhadap hiu martil memengaruhi hiu di semua tahap kehidupan baik di perairan dekat pantai maupun lepas pantai.

Sebagai predator puncak, hilangnya hiu martil besar mengancam kestabilan jaring makanan laut dan membahayakan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *