7cloud.asia – Di penghujung tahun 2025 lalu, masyarakat Rumah Panjang Sadap dan sejumlah lembaga seperti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Forest Watch Indonesia (FWI), WWF Indonesia, Yayasan Pelestari Budaya Dayak, Matata, Rekam Nusantara Foundation dan Rangkong Indonesia menggelar Festival Tenun Iban Sadap.
Dengan tema “Merawat Alam, Menenun Pengetahuan” Festival Tenun Iban Sadap menghadirkan serangkaian kegiatan, mulai dari pameran tenun, workshop pewarna alam, kelas menenun.
Seminar budaya, penanaman tanaman pewarna alam, pertunjukan seni, hingga kunjungan ke ruang hidup masyarakat adat makin menghidupkan Festival Tenun Iban Sadap
Festival Tenun Iban Sadap 2025 bukan hanya sebuah acara, tetapi gerakan budaya yang memulihkan hubungan antara manusia, pengetahuan leluhur dan alam. Di tangan para penenun, benang bukan sekadar bahan, ia adalah memori, doa dan masa depan.
Festival Tenun Iban Sadap adalah sebuah respon atas kelestarian hutan yang juga berpengaruh atas keberlangsungan tradisi yang dilakukan masyarakat adat.
Moses Bungkong, Ketua Panitia Festival Tenun Iban Sadap mengatakan, “Festival ini adalah perayaan hubungan manusia, alam dan pengetahuan leluhur yang terus hidup di dalam rumah panjang kami”.
Tenun dan pelestarian lingkungan
Komunitas Dayak Iban Sadap Ketemenggungan Iban Batang Kanyau, terletak di Desa Menua Sadap Kecamatan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, yang mempunyai luas wilayah adat 5.785,45 Hektare dan dikenal luas sebagai salah satu komunitas yang masih aktif melestarikan tradisi menenun.
Tenun Iban Sadap menggunakan pewarna alami yang bersumber dari hasil hutan seperti daun, serbuk batang, kulit dan akar tumbuhan
Baca: Festival Tenun di desa wisata Sukarare Lombok
Tenun, penggunaan pewarna alam, serta regenerasi penenun muda dipandang sebagai elemen penting dalam keberlanjutan adat, kelangsungan ekonomi keluarga dan perlindungan ekologis hutan adat.
Kegiatan ini adalah implementasi nyata dari Perencanaan Pengelolaan Wilayah Adat masyarakat Sadap. Melalui tenun dan pewarna alam, masyarakat memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga hutan adat sebagai sumber kehidupan.
”Harapannya, ke depan motif tenun Iban Sadap dapat didaftarkan sebagai kekayaan milik komunitas, jadi tidak bisa ditiru oleh kelompok lain,” kata Herkulanus Sutomo Manna,
dari AMAN Kapuas Hulu.
Tomo juga mengajak semua pihak ke depannya turut mendukung inisitif baik yang dilakukan oleh masyarakat adat, baik pemerintah, dunia usaha, kalangan NGO dan para tokoh masyarakat bahu membahu, sehingga festival ini tidak berhenti disini saja,
Festival ini diisi dengan kegiatan seperti workshop proses menenun, peragaan pakaian iban sesuai adat, mempelajari teknik pewarna alam, mengikuti seminar warisan budaya, pertunjukan seni, pemutaran film.
Juga penanaman pohon tanaman pewarna alam, merasakan kehidupan rumah panjang sebagai ruang budaya hidup.
Program ini diselenggarakan agar pengunjung mengetahui secara langsung bagaimana
kehidupan masyarakat adat dalam memelihara hutannya. Pengunjung bisa melakukan perjalanan ke pondok hutan melalui susur sungai serta menyusuri hutan dengan berjalan kaki.
Baca: Wisata Wastra 2025 mengulik ragam batik khas Jawa Barat
Mewakili Direktorat Jenderal Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Budaya Republik Indonesia Kementerian Kebudayaan, Yulianus Limbeng, mengapresiasi upaya komunitas Rumah Panjang Iban Sadap yang menyelenggarakan perayaan tenun ini.
Dia menekankan pentingnya upaya pendaftaran Hak Kekayaan Komunal ini ke Dana Indonesiana. Dana Indonesiana adalah skema dukungan yang dibuka sebesar-besarnya bagi upaya pelestarian adat dan budaya.
Keunikan Tenun Iban Sadap.
Tenun Iban Sadap dikenal bukan hanya karena kualitasnya yang rumit dan motif khasnya, tetapi juga karena filosofi yang terkandung di dalamnya.
Beragam motif dikenal dalam Tenun Iban Sadap, seperti otif tauk randau entimau, silup langit, karak jangkit, tersang pedara dan lainnya bukan sekadar pola visual.
Setiap garis, warna dan motif merekam jejak memori leluhur, hubungan spiritual dengan alam, serta struktur sosial masyarakat adat.
Tenun sebagai penjaga hutan dan warisan leluhur. Bagi masyarakat Iban Sadap, praktik menenun bukan hanya kegiatan produksi, tetapi tindakan merawat dan memperkuat hubungan dengan alam.
Hutan adat menyediakan pewarna alam, bahan baku dan inspirasi motif; sementara tenun menjadi media untuk meneruskan nilai spiritual, kosmologi Iban dan kedekatan dengan alam kepada generasi muda.
Baca: Wastra langka hasil akulturasi budaya di Indonesia
Hilangnya hutan adat berarti akan mengancam keberlanjutan Tenun Iban Sadap yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat adat setempat.
Tenun menjadi bukti bahwa perlindungan hutan bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga bagian dari keberlanjutan budaya, karena ketika hutan hilang warisan menenun pun ikut terancam.
Saat menutup rangkaian kegiatan Festival Tenun Iban Sadap 2025, Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia Mufti Fathul Barri mengatakan, suksesnya penyelenggaraan Festival Tenun Iban berbagai prospek kedepan yang akan ditindaklanjuti setelah Festival ini.
Mari kita tetap lestarikan Tenun Iban, karena ketika budaya lestari, alam terjaga, dan masyarakat berdaya, kita sedang menenun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Festival Tenun Iban Sadap yang diselenggarakan Masyarakat Adat Dayak Iban Sadap menjadi momen penting untuk kembali mengingatkan masyarakat dan pemerintah bahwa masyarakat adat telah beratus tahun menyeimbangkan kembali hubungan dengan alam.
Masyarakat adat juga telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi di tengah perubahan lingkungan, krisis iklim dan modernisasi.
Perjuangan ini perlu didukung oleh komunitas lain. Selain itu berharap negara mendorong keterlibatan dan kebijakan penuh mengenai masyarakat adat.

Leave a Reply