7cloud.asia – Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro tak hanya mengguncang publik, tetapi akan mempengaruhi tatanan geopolitik dunia.
Dilansir BBC Indonesia, dosen senior di Departemen Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Suzie Sudarman menyebut Indonesia juga akan merasakan dampak serangan AS ke Venezuela ini.
Suzie menilai, Trump sedang membangun skenarionya tentang tatanan geopolitik melalui serangan AS ke Venezuela tersebut.
Suzie memaparkan, Trump saat ini mendefinisikan kepentingan akan kekuasaan ini dengan pembagian dunia dalam tiga kategori.
“Pertama, negara-negara kuat adidaya. Nomor dua adalah negara-negara yang tidak demokratis tapi mempunyai sphere of influence. Nomor tiga adalah negara-negara yang akan dimanipulasi demi terwujudnya tiga kategori kawasan,” tutur Suzie dikutip dari BBC Indonesia.
Baca: Wakil Presiden Delcy Rodriguez gantikan posisi Nicolas Maduro
Negara-negara dalam kategori ketiga ini bisa disebut sebagai korban dari pembelahan ini, kata Suzie, dan harus siap dimanipulasi.
Melihat situasi dan kondisi pemerintahan saat ini, Indonesia rawan masuk dalam kategori ketiga sebagai negara yang berpotensi dimanfaatkan dan berakhir menjadi korban.
“Kalau dikategorikan seperti itu, sangat membahayakan bagi Indonesia. Apalagi kita saat ini kurang pandai, kurang siap, dan sebagainya,” kata Suzie.
Dari penjelasan Suzie ini, wilayah pengaruh AS memang menjangkau negara-negara Amerika Latin. Ini terlihat dari sikap sebagian negara-negara Amerika Latin yang pro maupun kontra pada AS pasca serangan dan penangkapan presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Brasil, Meksiko, dan Uruguay mengecam “intervensi pemerintahan” yang dilakukan AS lewat serangan mendadak tersebut yang dinilai melanggar hukum internasional. Sementara itu, Argentina, Paraguay, dan Ekuador mengapresiasi penangkapan Maduro.
Meski dinamika geopolitik di Venezuela ini belum begitu terasa bagi Indonesia dalam jangka pendek, pemerintah Indonesia semestinya sudah membangun jejaring pengaman melalui berbagai regulasi yang tepat sasaran, baik secara politik maupun ekonomi.
Baca: Sekjen PBB kecam penangkapan presiden Venezuela oleh AS
Hal ini mengingat masa pemerintahan Trump yang diprediksi masih berlangsung beberapa tahun ke depan, kata Suzie.
Untuk itu, pemahaman mengenai lanskap geopolitik global harus dikuasai benar saat ini. Sebab, situasi ini bisa jadi berlaku jangka panjang yang artinya Indonesia baru akan merasakan dampaknya belakangan.
“Harus ada orang yang lihai dan bijak, serta menguasai peta geopolitik dan paham hubungan internasional. Bisa jadi suram jika tidak di tangan yang tepat, apalagi lalu dimanipulasi saat kita sedang lemah-lemahnya karena tidak ditangani yang mahir,” ujar Suzie yang memandang penerapan politik bebas aktif Indonesia kini hanya samar-samar.
Suzie juga meminta Indonesia berhati-hati. Dengan masuk ke Venezuela, penguasaan AS terhadap aset minyak yang ada di sana meningkatkan dominasinya sebagai negara adidaya yang harus diikuti.
Sebab, minyak ini dinilainya beperan ganda untuk memperkuat posisi tawar di dalam negeri AS yang tengah butuh anggaran besar dan upaya menekan global.
“Dia punya bantal berupa minyak ini,” ucap Suzie yang terbukti juga pada ucapan Trump pasca serangan bahwa Washington akan sangat terlibat dalam industri minyak di Venezuela.
Baca: China dan Rusia sebut serangan AS ke Venezuela langgar hukum internasional

Leave a Reply