15 Hari Pasca Banjir dan Longsor, Situasi di Sibolga Berangsur Pulih

Written by

in

7cloud.asia – BNPB bersama Pemerintah Kota Sibolga terus melakukan penanganan darurat pasca-banjir dan tanah longsor yang dipicu badai Senyar dan kerusakan lingkungan pada 23–26 November 2025.

Banjir dan longsor yang terjadi di Kota Sibolga, Provinsi Sumatra Utara, melanda empat kecamatan, yakni Sibolga Utara, Sibolga Selatan, Sibolga Sambas, dan Sibolga Kota, akibat meluapnya aliran Sungai Aek Doras dan Aek Parira.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Pemerintah Kota Sibolga menetapkan status tanggap darurat sejak 25 November hingga 9 Desember 2025, dan diperpanjang hingga 24 Desember 2025.

Bersamaan dengan penanganan darurat, langkah-langkah pemulihan jangka panjang mulai dijalankan. Diberitakan sebelumnya terjadi penjarahan di Sibolga karena ketiadaan bahan pangan usai diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu

BNPB bersama pemerintah daerah, pada Minggu (14/12/2025) memantau lokasi relokasi hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak di lahan Bukit Parambunan di Kecamatan Sibolga Selatan.

Sementara itu, pemulihan layanan dasar terus berlangsung. Aliran listrik dari PLN telah dapat diakses oleh masyarakat di berbagai wilayah. Distribusi air PDAM mulai lancar, meskipun masih keruh, dan jangkauannya terus diperluas agar lebih merata.

Baca: Pemulihan infrastruktur jalan pasca banjir Sumatera

BNPB memfasilitasi penyaluran air bersih ke 19 titik lokasi bagi warga yang belum mendapat layanan PDAM.

Jaringan telepon seluler dan internet mulai pulih secara bertahap, mendukung komunikasi masyarakat.Ketersediaan bahan pokok di dapur umum tetap terjaga.

Berbagai kegiatan tanggap darurat dilakukan di lapangan. Melakukan normalisasi Sungai Aek Doras dan Aek Parira menggunakan alat berat, membersihkan jalan yang tertutup lumpur, serta membuka dapur umum di Kecamatan Sibolga Utara (Kelurahan Simare-mare dan Angin Nauli) dan Kecamatan Sibolga Selatan (Kelurahan Aek Manis).

Perekonomian mulai berangsur pulih, meski harga sembako di pasar tradisional masih tinggi akibat pasokan yang belum normal.

Sejumlah layanan diberikan kepada warga terdampak, antara lain trauma healing, pelayanan kesehatan, distribusi sembako dan gas LPG, normalisasi sungai, pembersihan jalan, serta pendampingan kependudukan dan catatan sipil. BNPB berkoordinasi dengan kementerian, lembaga provinsi, dan NGO untuk memastikan semua bantuan tepat sasaran.

Selama pemulihan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan mendesak warga terus dilakukan agar mereka dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Saat ini, kebutuhan mendesak meliputi pompa air, alat pembalut wanita, gas LPG, serta pakaian dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA.

Baca: Kabupaten Bener Meriah masih terisolasi

Penyaluran bantuan kemanusiaan dilakukan secara intensif. BNPB menyalurkan berbagai kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat, termasuk tenda keluarga, sarden, kornet, minyak sayur, mie instan, Pop Mie, susu, tepung, dan pembalut wanita.

Update Data Bencana Kota Sibolga
Bencana banjir di Sibolga mengakibatkan korban jiwa dan dampak yang signifikan. Hingga saat ini, tercatat 54 orang meninggal dunia, 1 orang hilang.

Sedangkan 61 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 49 orang dirawat jalan dan 12 orang dirawat inap. Bencana ini juga memaksa ribuan warga mengungsi ke berbagai titik aman.

Jumlah pengungsi mencapai 2.096 orang yang tersebar di 35 titik pengungsian. Kecamatan Sibolga Utara menampung 1.229 pengungsi, Sibolga Kota 86 orang, Sibolga Sambas 10 orang, dan Sibolga Selatan 771 orang.

Para pengungsi terus menerima bantuan dan pendampingan dari pemerintah setempat serta relawan.

Di samping itu, kerusakan infrastruktur menjadi tantangan utama untuk mendukung keselamatan dan mobilitas masyarakat. Sebanyak 648 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 229 rumah rusak ringan, 82 rusak sedang, dan 337 rusak berat.

Bencana ini juga merusak 11 rumah ibadah, 11 gedung sekolah, 2 jembatan, 11 ruas jalan, 5 fasilitas gedung pemerintah, dan 9 titik lampu penerangan jalan umum.

Pemerintah daerah bersama BNPB terus melakukan penanganan darurat, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur. Tim gabungan memprioritaskan bantuan medis, makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok bagi para pengungsi.

Baca: Tanpa bantuan asing, pemulihan dampak banjir Sumatera diperkirakan butuh waktu 20-30 Tahun

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *