Mengandung Bahan Berbahaya, Sampah Elektronik Membutuhkan Penanganan Khusus

Written by

in

7cloud.asia – Sampah elektronik atau e-waste hingga kini masih menjadi masalah serius bagi lingkungan. Sampah elektronik mengacu pada peralatan elektronik yang dibuang.

Dilansir Earth.org, setiap tahun, sekitar 50 hingga 60 juta ton dihasilkan sampah elektronik setara dengan hanya 2-3 persen dari total sampah global tahunan.

Namun, kerusakan yang ditimbulkan oleh sampah elektronik terhadap kesehatan dan lingkungan dapat melebihi daya rusak gabungan semua sampah lainnya.

Hal ini karena sampah elektronik mengandung bahan beracun, seperti timbal, kadmium, dan berilium, setelah terpapar radiasi UV yang kuat atau terkorosi karena alasan fisik atau kimia lainnya.

Bahan beracun tersebut dapat terlepas ke atmosfer, meresap ke tanah, dan mengalir ke badan air di sekitarnya, sehingga memengaruhi kesehatan masyarakat.

Baca: Komisi XII DPR Soroti Impor Limbah Elektronik di Batam

Kondisi ini seharusnya mendorong masyarakat untuk tidak begitu saja membuang sampah elektronik ke tempat sampah;

Anda sebaiknya memeriksa apakah ada organisasi pemerintah atau swasta yang menawarkan layanan, terkadang gratis, untuk mengumpulkan sampah elektronik dari rumah Anda.

Ini termasuk perangkat elektronik berukuran besar seperti AC, kulkas, dan televisi.

Seringkali, organisasi atau perusahaan ini memastikan bagian-bagian berharga dari sampah elektronik Anda diekstraksi untuk penggunaan kedua, dan bahan-bahan berbahaya dipisahkan sebelum membuang sisanya ke tempat pembuangan akhir.

Daur ulang sampah elektronik memiliki berbagai manfaat selain melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.

Baca: Terkait sampah elektronik, konsumen perlu suarakan “Hak untuk Memperbaiki“

Sebagian besar bahan penyusun komputer dan ponsel pintar kita berasal dari mineral tak terbarukan; mendaur ulang bahan-bahan ini dapat mencegah terhentinya pasokan barang-barang konsumsi yang tak terelakkan dalam hidup kita hingga ditemukan penggantinya.

Meskipun dalam kasus tertentu, sumber daya tak terbarukan tidak selalu langka, daur ulang mineral tak terbarukan yang umum tetap memiliki manfaat ekonomi.

Misalnya, harga litium, mineral tak terbarukan namun relatif umum yang hampir dapat ditemukan di mana-mana, sedang melonjak.

Litium banyak digunakan di berbagai industri, tetapi paling dikenal karena pentingnya dalam produksi baterai isi ulang untuk kendaraan listrik.

Meningkatnya perhatian publik terhadap kendaraan listrik sebagai cara untuk mendekarbonisasi transportasi menyebabkan melonjaknya permintaan litium.

Baca: Dampak sampah elektronik pada lingkungan

Namun, pasar gagal mengimbangi lonjakan permintaan yang tiba-tiba ini, sehingga menyebabkan litium langka – bukan karena kelangkaan, melainkan karena lambatnya proses ekstraksi dan pemurnian.

Mendaur ulang baterai litium-ion akan menyediakan pasokan litium tambahan ke pasar, memungkinkan perusahaan memproduksi baterai dan kendaraan listrik yang ramah pelanggan sekaligus ramah lingkungan dengan harga yang lebih rendah.

Bagaimana sampah elektronik ini didaur-ulang, akan kami ulas dalam artikel selanjutnya. Jangan lewatkan!

Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Tin Lok Wu pemerhati isu lingkungan. Ikuti artikel asli di sini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *