7cloud.asia – Di hadapan pemimpin dunia yang hadir di helatan COP 30, Indonesia mengklaim laju deforestasi mengalami penurunan. Bahkan, penurunannya disebut ke level terendah dalam dua dekade terakhir.
“Rata-rata laju deforestasi tahunan kami telah turun ke level terendah dalam dua dekade, mewakili penurunan sebesar 75 persen sejak 2019,” kata Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, saat berpidato di Belem Climate Summit, Kamis (6/11/2025).
Belem Climate Summit merupakan pertemuan pendahuluan yang digelar sebelum kegiatan inti COP 30 digelar.
Lantas, benarkah laju deforestasi di Indonesia menurun? Dalam dialog publik ‘Suara Rakyat Indonesia untuk COP 30” yang digelar JustCOP pada Senin (10/11/2025) terungkap, deforestasi masih berlanjut.
Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Selasa (11/11/2025) disebutkan dalam setengah abad, antara 1950-2000, Indonesia kehilangan hampir 40 persen tutupan hutan, dari semula 162 juta hektare kini hanya tersisa 98 juta hektare.
Baca: JustCOP desak pemerintah hentikan perampasan hutan adat
Deforestasi besar-besaran, terutama terjadi akibat ekspansi perkebunan sawit dan proyek pembangunan, memecah habitat dan mengancam kelangsungan spesies endemik.
Data International Union for Conservation of Nature atau IUCN Red List mencatat 2.735 jenis flora dan fauna Indonesia kini terancam punah, lebih dari setengahnya merupakan tumbuhan.
Kerusakan semakin parah karena dari 2000 hingga 2012 saja Indonesia kehilangan lebih dari 6 juta hektare hutan primer—setara dengan hampir dua kali luas Pulau Bali—akibat konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Artinya, setiap tahun rata-rata 47.600 hektare hutan lenyap dari peta. Laju kehilangan ini terus berlanjut.
Pada 2024, deforestasi hutan alami tercatat mencapai 261.575 hektare, meningkat 1,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari sektor penggunaan lahan dan kehutanan saja, emisi yang dihasilkan mencapai hampir setengah dari total emisi nasional.
Baca: Pembukaan 20 juta hektare hutan akan perparah krisis iklim
Ironisnya, di tengah situasi krisis tersebut, pemerintah masih menetapkan target deforestasi hingga 10,47 juta hektare dalam periode 2021–2030.
Target ini bahkan dipecah menjadi “deforestasi terencana” seluas 5,32 juta hektare dan “deforestasi tidak terencana” sebesar 5,15 juta hektare.
Direktur Eksekutif WALHI Papua, Maikel Peuki mengungkapkan laju tingkat deforestasi terus melonjak akibat pembangunan dan ekspansi industri ekstraktif yang terjadi di Tanah Papua.
Menurut Maikel, dari perspektif Papua, sekitar 1,3 juta hektare hutan juga hilang antara 2001–2019 akibat sawit dan tambang.
Maikel menyebutkan Proyek Strategis Nasional (PSN) Merauke telah menyebabkan hilangnya 9.835 hektar hutan primer hingga Juni 2025. Industri kelapa sawit adalah pendorong terbesar kedua menghilangkan 3.577 hektar pada 2024.
“Fakta-fakta yang terjadi di Papua justru mengerikan, dengan berbagai proyek atas nama pembangunan yang hadir, termasuk deforestasi yang kerap terjadi akibat perkebunan sawit dan tambang,“ katanya.
Baca: RI dukung inisiatif TFFF tapi tak kunjung mengesahkan RUU Masyarakat Adat

Leave a Reply