7cloud.asia – COP 30 tahun yang akan berlangsung di pedalaman hutan Amazon di Belém, Brasil pada 10-21 November 2025 menjadi momen evaluasi penting bagi aksi iklim dunia.
Negara-negara anggota diharapkan membawa komitmen iklim yang lebih kuat selaras dengan target 1,5°C, ambang batas pemanasan global berbahaya yang tak boleh dilampaui.
Dalam bahasa yang lebih sederhananya: para pemimpin dunia harus membuktikan komitmen mereka terhadap Perjanjian Paris.
Dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, COP termasuk COP 30 sering dikritik sebagai ajang basa-basi yang tak efektif. Kepentingan korporasi juga kental mewarnai jalannya COP.
Jumlah pelobi korporasi bisa melebihi perwakilan dari negara-negara rentan bencana iklim. Pada COP 28 misalnya, pelobi industri bahan bakar fosil bahkan lebih banyak daripada seluruh delegasi negara.
Baca: COP 30 jadi momen penting bagi aksi iklim global
Perusahaan daging dan produk olahan susu juga hadir untuk mempertahankan model bisnis pabrik peternakan mereka.
Karena itu, kehadiran masyarakat sipil, Masyarakat Adat, aktivis muda, dan organisasi lingkungan di dalam ruang negosiasi sangat penting.
Mereka hadir di sana untuk menuntut akuntabilitas pemerintah, menentang praktik greenwashing, dan memperkuat suara-suara yang sering diabaikan.
Greenpeace hadir di COP bukan karena percaya para politikus akan tiba-tiba menyelamatkan dunia. Namun, kami meyakini bahwa tanpa tekanan publik perubahan justru makin sulit tercapai. Kekuatan rakyatlah yang membuat perubahan menjadi mungkin.
Fakta yang menunjukkan pentingnya COP 30
Menurut PBB, komitmen iklim negara-negara saat ini masih menempatkan Bumi pada jalur menuju pemanasan global hingga 3,1°C pada akhir abad ini.
Baca: Lambannya adaptasi iklim mengancam kelangsungan lingkungan
Padahal, agar suhu Bumi tetap berada pada batas aman 1,5°C, negara-negara di dunia harus menurunkan emisi sekitar 43 persen pada 2030 (dibandingkan level penurunan emisi tahun 2019), dan bahkan menurunkannya lebih jauh lagi pada 2035.
Perbedaan antara 3,1°C dan 1,5°C bukan cuma angka. Ini adalah perbedaan antara kehancuran ekosistem global dan peluang untuk menstabilkan iklim.
Keputusan yang diambil dalam forum COP, termasuk COP 30 bisa menentukan apakah miliaran ton karbon akan tetap mencemari atmosfer atau berhasil dikurangi.
Perbedaan ini akan sangat signifikan bagi jutaan orang, hutan, keanekaragaman hayati, dan masa depan generasi mendatang.
Walau syak wasangka terhadap COP bisa dimengerti, menumbuhkan dan terus menghidupkan harapan tetap penting.
Perubahan tidak datang dari para pemimpin, tetapi dari setiap orang yang bertindak: mereka yang turun ke jalan dan bersuara lantang, menuntut para pencemar, melindungi hutan, berbagi kisah, dan memperjuangkan keadilan.

Leave a Reply