Peringati Hari Sumpah Pemuda: Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim Pemerintah

Written by

in

7cloud.asia – Pada momentum Sumpah Pemuda pada tahun ini, generasi muda Indonesia menyuarakan keresahan dan tuntutan atas tanggung jawab pemerintah terhadap krisis iklim.

Dalam Diskusi Dua-Mingguan Nexus Tiga Krisis Planet bertajuk “Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim”, Selasa (28/10/2025) dua anak muda mengulas hasil riset terbaru yang menggambarkan meningkatnya kesadaran akan lingkungan.

Namun, survei ini juga menemukan kekecewaan Gen Z terhadap penanganan krisis iklim di Indonesia

Generasi Z saat ini tumbuh di tengah kecemasan soal krisis iklim yang terus memburuk. Anak muda harus menanggung beban dari keputusan ekonomi masa lalu yang menempatkan pertumbuhan di atas keberlanjutan.

Anak muda harus merasakan suhu bumi yang semakin panas, polusi udara yang semakin pekat, bencana banjir yang semakin sering, kekeringan dan kerusakan lingkungan, serta dampak sosial lainnya.

Baca: Pemanasan global mengubah pola hujan ekstrem dalam 70 tahun terakhir

Febriani Nainggolan, Campaign & Communication Staff Climate Rangers memaparkan, riset Climate Rangers terhadap 382 responden Gen Z di Jakarta menunjukkan bahwa anak muda sadar bahwa apa yang mereka rasakan saat ini adalah dampak perubahan iklim.

Namun, dalam keterangan tertulisnya, Climate Rangers juga menemukan bahwa sebagian besar anak muda (95,5 persen) masih memandang krisis iklim sebatas cuaca ekstrem .

“Dampak krisis iklim itu sangat kompleks, termasuk pada kesehatan fisik dan mental, ketahanan pangan, hingga kerusakan infrastruktur akibat bencana seperti banjir dan rob,” ujar Febriani Nainggolan.

Ia menambahkan, anak yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami dampak krisis iklim yang jauh lebih parah dibandingkan generasi orang tua maupun kakek-neneknya.

Mereka mengalami gelombang panas tujuh kali lebih banyak, kekeringan tiga kali lebih sering, dan banjir besar dua kali lebih intens.

Baca: Kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas pemanasan global 1,5°C

Menurut Febri, tanggung jawab terbesar dalam menghadapi krisis iklim berada di tangan pemerintah. Namun, 62,4 persen responden merasa bahwa pelibatan orang muda oleh pemerintah masih bersifat tokenisme atau sekadar formalitas tanpa makna.

“Orang muda sering hanya diundang secara simbolis, bukan untuk benar-benar dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Padahal kitalah yang paling merasakan dampaknya,” tegas Febri.

Moderator Fiorentina Refani mengatakan jangan melibatkan Gen Z hanya sekadar meramaikan panggung, namun masukannya harus diakomodir.

“Untuk pemerintah yang tidak hadir dalam diskusi ini, simaklah masukan dari kami: ubah kebijakan Pemerintah untuk generasi muda. Ambil sikap lebih ambisius dalam mengurangi emisi,” tegasnya.

Melalui jaringan Climate Rangers di 32 provinsi, anak muda Indonesia menyampaikan sejumlah tuntutan untuk mengatasi krisis iklim.

Untuk dunia, Climate Rangers menuntut kebijakan iklim yang adil dan ambisius, transisi berkeadilan, keadilan finansial dan pertanggungjawaban historis, serta partisipasi bermakna orang muda.

Sedangkan untuk Pemerintah Indonesia, Climate Rangers menuntut pengesahan kebijakan berkeadilan iklim, penghentian solusi palsu, percepatan transisi energi berkeadilan, pendanaan solusi rakyat, dan kebijakan yang berpihak pada keadilan lingkungan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *