Jelang COP 30: Kepala Iklim PBB Serukan Dunia Serius Lakukan Aksi Iklim

Written by

in

7cloud.asia – Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, Simon Stiell menyerukan kepada masyarakat global untuk meningkatkan aksi iklim menjelang KTT COP 30 di Brasil pada bulan November mendatang.

“Era baru aksi iklim ini haruslah tentang mendekatkan proses kita dengan ekonomi riil, mempercepat implementasi, dan menyebarkan manfaat kolosal aksi iklim kepada miliaran orang lebih banyak lagi,” ujar Stiell saat peluncuran New York Climate Week, acara iklim tahunan terbesar di dunia, September lalu.

Pertemuan New York Climate Week ini diselenggarakan oleh Climate Group bekerja sama dengan PBB.

Adapun COP 30 di Belem Brasil pada 10-21 November adalah Konferensi Para Pihak ke-30 yang dihadiri Penanda-tangan Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim.

Dalam COP 30 ini, 198 negara akan bertemu untuk melaporkan langkah-langkah dan kemajuan mereka dalam memerangi perubahan iklim.

Amerika Serikat, yang untuk kedua kalinya menarik diri dari perjanjian tersebut di bawah Presiden Trump pada bulan Januari, tidak akan memiliki suara dalam konferensi tersebut.

Baca: Brasil dorong inisiatif TFFF di COP 30 untuk pelestarian hutan tropis

Bagi Stiell, satu-satunya cara untuk memerangi perubahan iklim secara efektif adalah dengan membangun koneksi dan komunikasi yang kuat antara ruang-ruang pengambilan keputusan utama dan masyarakat umum.

“Menghubungkan ruang kabinet yang lebih dekat dengan ruang rapat ke ruang keluarga adalah cara kita meningkatkan aksi iklim, dan menyelesaikan pekerjaan ini (menghadapi perubahan iklim, red).” tandasnya, seperti dilansir Earth.org

Stiell menyoroti kecepatan dan jangkauan investasi global dalam energi terbarukan selama dekade terakhir. Transisi energi bersih, ujarnya, menghasilkan investasi hampir 2 triliun dolar AS pada tahun 2024.

Ia juga menunjukkan bahwa, meskipun Bumi saat ini berada di jalur berbahaya menuju pemanasan 3°C, tanpa kerja sama iklim PBB, pemanasan tersebut akan menjadi bencana besar, yaitu 5°C.

Bencana iklim semakin menghantam perekonomian di seluruh dunia, tetapi manfaat dari transisi ini tidak merata, dengan proyek senilai 1,6 triliun dolar AS yang masih menganggur, lanjutnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, Stiell merekomendasikan program-program seperti inisiatif Build Clean Now, yang diluncurkan pada konferensi New York untuk mempercepat pergeseran ke industri bersih.

Baca: Alasan mengapa perjanjian lingkungan global tidak berjalan efektif

Ia mendesak para pembuat kebijakan untuk “memperluas keselarasan Paris ini dari negara ke negara, sektor ke sektor, ke seluruh aliran keuangan.”

Dengan pendekatan ini, ia berharap akan “keputusan yang lebih cepat, inklusif, dan berkualitas tinggi” yang akan membawa proses panjang kebijakan iklim “semakin dekat dengan ekonomi dan kehidupan nyata.”

Ini akan mencakup peta jalan menuju pendanaan aksesibel senilai $1,3 triliun dolar per tahun dan demonstrasi efektivitas multilateralisme iklim yang “tidak meninggalkan siapa pun.”

Stiell juga menyoroti kontroversi seputar kecerdasan buatan (AI), menggemakan peringatan terbaru dari Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Ia mengatakan bahwa meskipun AI bukanlah “solusi siap pakai”, AI tetap dapat menjadi “pengubah permainan”.

Stiell menegaskan, masyarakat global perlu menumpulkan sisi-sisi berbahaya AI, mempertajam sisi katalitiknya, dan memanfaatkan AI dengan cerdas.

“Jika Anda menjalankan platform AI utama, gunakan energi terbarukan, dan berinovasi untuk mendorong efisiensi energi. Yang terpenting, AI diberdayakan untuk mendorong hasil nyata: mengelola jaringan mikro, memetakan risiko iklim, memandu perencanaan ketahanan,” ujarnya.

Stiell, mantan eksekutif teknologi yang memegang peran senior di pemerintahan Grenada, ditunjuk untuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2022.

Baca: Indonesia jajagi potensi perdagangan karbon di COP 30

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *