BRIN Teliti Dampak Pembangunan di Batam pada Keanekaragaman Hayati

Written by

in

7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Serindit Philosophy Centre (SPC) dalam penelitian bertajuk “Riset dan Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Hutan Berkelanjutan di Pulau-Pulau Kecil pada Hotspot Keanekaragaman Hayati Sundaland.”

Kolaborasi ini resmi dimulai pada 13 Oktober 2025 lalu dan akan berlangsung hingga tahun 2028.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, sekaligus penanggung jawab kerja sama, Henti Hendalastuti Rachmat, menjelaskan melalui kerja sama ini, BRIN dan SPC akan membangun demplot restorasi biodiversitas seluas 2,5 hektare di Batam sebagai model pengelolaan ekosistem pulau kecil yang terintegrasi.

Penelitian lapangan juga akan meliputi survei flora-fauna, analisis biofisik, serta pemetaan sosial-ekologis untuk merumuskan strategi konservasi yang aplikatif.

Pulau Batam dipilih sebagai salah satu lokus penelitian karena selama ini Batam dikenal sebagai kawasan industri dan perdagangan, tetapi secara ekologis ia juga merupakan hotspot keanekaragaman hayati yang belum banyak dikaji.

Henti memaparkan, pertumbuhan pesat Batam sejak 1960-an telah mendorong urbanisasi yang masif dan berdampak langsung pada penurunan luasan hutan.

“Kondisi ini menjadikan Batam sebagai lokasi ideal untuk mempelajari resiliensi ekologis di tengah tekanan pembangunan,” tambahnya.

Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, Dr. Asep Hidayat, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat penelitian ekologi terapan yang memiliki dampak langsung bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.

Baca: Sundaland salah satu hutan tropis terluas di dunia

“Kita ingin memastikan hasil riset ekologi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar berkontribusi terhadap pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, terutama di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang menjadi fokus riset kami,” ujar Asep.

Kemitraan ini bertujuan memperkuat riset ekologi dan konservasi keanekaragaman hayati di wilayah kepulauan yang rentan terhadap tekanan aktivitas manusia dan perubahan iklim.

Fokus penelitian diarahkan pada upaya restorasi lanskap hutan terfragmentasi, kajian sosial-ekologis masyarakat lokal, serta pengembangan model pengelolaan berbasis ekosistem di Provinsi Kepulauan Riau, khususnya Pulau Batam.

Ia menjelaskan, ruang lingkup riset PREE tidak hanya mencakup ekosistem daratan, tetapi juga wilayah akuatik serta zona perbatasan antara keduanya.

Pendekatan lintas ekosistem ini diperlukan untuk memahami dinamika keanekaragaman hayati di kawasan Sundaland, wilayah biogeografis penting yang mencakup Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Kepulauan Riau.

Kawasan ini dikenal memiliki tingkat endemisme tertinggi di dunia, namun juga menghadapi ancaman serius akibat deforestasi, konversi lahan, serta kenaikan muka air laut.

Menurut berbagai studi (Fisher et al., 2011; Verma et al., 2020), lebih dari 70 persen wilayah Sundaland telah mengalami modifikasi intensif akibat aktivitas manusia.

Karena itu, penelitian BRIN dan SPC diharapkan dapat menjawab kebutuhan mendesak akan strategi konservasi yang adaptif dan berbasis bukti ilmiah.

Baca: Daerah padat penduduk cenderung memiliki kerentanan lingkungan yang besar

Konservasi Alam dengan pendekatan pengetahuan lokal
Ketua Yayasan Serindit Philosophy Centre, Fauzan Alawy, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya mengusung pendekatan salus naturae, salus populi — kesejahteraan alam sebagai fondasi kesejahteraan manusia.

“Kami ingin menjembatani sains modern dan pengetahuan lokal. Keduanya penting untuk merancang konservasi yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga berakar pada nilai dan kearifan masyarakat setempat,” ujarnya.

Fauzan menambahkan, SPC akan berperan aktif dalam pelibatan masyarakat lokal melalui kegiatan pelatihan konservasi partisipatif, riset aksi lapangan, dan pemberdayaan komunitas pesisir.

Semua aktivitas ini dirancang agar masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga ekosistemnya sendiri.

“Hampir seluruh kegiatan konservasi kami melibatkan masyarakat lokal. Kami percaya, keberlanjutan sejati hanya mungkin tercapai jika masyarakat turut memiliki dan menjaga alamnya,” imbuhnya.

Dalam kerangka riset, SPC juga akan memfasilitasi dokumentasi hasil penelitian melalui publikasi ilmiah, media edukatif, hingga kampanye lingkungan kolaboratif.

Kegiatan ini diharapkan mendorong terciptanya jejaring konservasi berbasis ilmu pengetahuan di tingkat regional.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *