Hari Tani Nasional 2025: Sektor Pertanian Hadapi Krisis Regenerasi Petani

Written by

in

7cloud.asia – Di Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September, sektor pertanian di Indonesia dihadapkan pada tantangan serius yakni krisis regenerasi petani.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur Sumrambah mengungkapkan, sangat sedikit anak muda yang bercita-cita melanjutkan profesi orang tuanya bertani di sawah.

“Hasil keliling saya ke kelompok tani (sekitar Jawa Timur), tidak sampai 10 anak yang bercita-cita menjadi petani. Bahkan anak aktivis tani pun jarang diarahkan ke pertanian,” kata Sumrambah dalam Seminar Nasional Hari Tani 2025 yang digelar DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Rabu (24/9/2025).

Sumrambah menjelaskan bahwa sebagian besar petani yang ia temui dihadapkan pada keterbatasan struktural.

Data BPS menunjukkan, 65 persen petani memiliki lahan di bawah 0,5 hektare atau 5000 meter persegi, sementara 75 persen petani hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar.

Baca: Anggaran Ketahanan Pangan belum berpihak kepada petani dan nelayan

“Selain lahan dan pendidikan, modal dan akses pasar juga menjadi hambatan besar bagi para petani. Dengan kondisi ini, petani semakin sulit yakin bahwa pertanian bisa menjamin masa depan,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Sumrambah mendorong model cooperatif fund yang menggabungkan petani kecil dengan offtaker, universitas, lembaga keuangan dan asuransi.

Menurut dia, pola itu sudah dijalankan di lima kabupaten Jawa Timur selama empat tahun terakhir dan mulai menunjukkan hasil. Ia menekankan pentingnya membangun kelembagaan petani yang sehat, menyediakan teknologi, serta memastikan informasi pertanian mudah diakses.

Pemerintah, kata dia, juga harus menjaga harga hasil pertanian agar petani tidak terus merugi.

Sumrambah mengatakan mayoritas petani Indonesia kini berusia di atas 40 tahun, sehingga krisis regenerasi harus segera diatasi.

Baca: Upaya adaptasi petani pada perubahan iklim

“Beban tanggung jawab bukan hanya di petani, tapi pada kita semua sebagai anak bangsa,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya percepatan penetapan lahan sawah abadi. Sumrambah menyebutkan hingga saat ini, baru 263 kabupaten/kota yang menetapkan lahan sawah abadi.

Menurutnya, apabila masalah tersebut tidak diselesakan dengan cepat maka ancaman impor dan hilangnya lahan produktif akan semakin besar.

Sementara dalam aksi unjuk rasa meperingati Hari Tani Nasional yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR, massa mendesakvPresiden dan DPR segera menjalankan reforma agraria dan mendistribusikan tanah kepada rakyat.

Pengunjuk rasa juga menuntut agar konflik agraria yang saat ini terjadi di banyak daerah, segera diselesaikan. Pemerintah juga didesak untuk mengembangkan ekonomi rakyat di kawasan pertanian sesuai yang digariskan dalam UU Pokok Agraria 1960.

Baca: Peredaran pupuk palsu berpotensi rugikan petani

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *