Tidak Terintegrasi dengan Moda Transportasi Lain, Terminal Tipe A Pondok Cabe Tidak Berfungsi Optimal

Written by

in

7cloud.asia – Sejak diresmikan pada 31 Desember 2018, Terminal Tipe A Pondok Cabe, Tangerang Selatan tidak berfungsi optimal. Fasilitas ini semula dikelola oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) sebelum dialihkan ke Kementerian Perhubungan.

Terminal Tipe A Pondok Cabe masih menghadapi tantangan klasik seperti rendahnya jumlah penumpang, kurangnya integrasi dengan moda transportasi lain, hingga munculnya terminal bayangan.

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR beberapa waktu lalu, Sekretaris Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Dedy Cahyadi memaparkan sejumlah tantangan pengoperasian Terminal Tipe A Pondok Cabe.

Ia menyebut jumlah bus yang masuk lebih banyak daripada penumpang yang turun, menandakan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan terminal masih rendah.

Selain itu, belum tersedia integrasi angkutan yang memadai sehingga penumpang kerap memilih turun di terminal bayangan.

Baca: Pola transportasi masyarakat berubah, keberadaan terminal besar perlu dievaluasi

Saat kunjungan kerja spesifik ke Terminal Tipe A Pondok Cabe Rabu (17/9/2025) Komisi V DPR menemukan, terminal yang diharapkan menjadi simpul transportasi justru kalah pamor dari pool bus swasta.

Anggota Komisi V DPR, Musa Rajekshah menilai, terminal ini memang sudah memiliki bangunan yang baik, tetapi belum banyak digunakan sebagaimana mestinya.

“Kita lihat terminal ini sudah baik secara bangunan, tapi secara kemanfaatan belum maksimal. Karena belum semua kendaraan-kendaraan, angkutan bus, baik itu antar-kota atau antar-provinsi menggunakan terminal ini,” kata Musa dikutip Parlementaria.

Menurutnya, persoalan utama adalah keterhubungan dengan moda transportasi lain. Ia menekankan perlunya kajian mendalam agar terminal tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi juga menjadi simpul transportasi yang menarik bagi masyarakat.

“Ini menjadi evaluasi kami, Komisi V, supaya terminal ini tidak hanya sekadar membangun tapi harus kajian yang jelas, harus juga konektivitasnya dengan angkutan lain seperti kereta api ataukah memang dari jalur-jalur yang memang mudah dicapai masyarakat supaya ada daya tarik,” ujar Politisi Partai Golkar itu.

Baca: Revitalisasi Terminal Baranangsiang Bogor terkendala masalah hukum

Musa juga menyoroti maraknya pool bus swasta yang justru lebih diminati masyarakat dibandingkan terminal pemerintah. Kondisi itu, menurutnya, membuat fungsi terminal tipe A kian terpinggirkan.

“Ini juga kita melihat banyak angkutan-angkutan umum swasta juga mempunyai pool busnya sendiri juga. Dengan yang mungkin fasilitasnya lebih menarik, lebih baik, ya akhirnya kebanyakan masyarakat pengguna angkutan ini tidak menggunakan terminal kita, tapi malah terminal-terminal dari perusahaan pengangkutan umum bus tadi tuh,” jelas legislator yang juga akrab akrab disapa Ijeck.

Ia mengingatkan agar pemerintah pusat dan daerah bisa lebih sinergis dalam menata terminal, termasuk memperhatikan keberadaan pool perusahaan angkutan bus maupun terminal bayangan.

“Ini harus juga sejalan dengan bagaimana juga pemerintah daerah, pemerintah setempat dengan kementerian perhubungan melihat bagaimana letak-letak dari terminal-terminal swasta. Jangan juga mengganggu kegiatan-kegiatan masyarakat di tempat-tempat yang tidak layak untuk ditempatkan terminal itu,” tegasnya.

Komisi V DPR berharap pengelolaan terminal tipe A, termasuk Pondok Cabe, benar-benar bisa memberi manfaat luas bagi masyarakat serta selaras dengan amanat regulasi.

Baca: Dukung pembangunan berkelanjutan dengan naik transportasi umum

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *