7cloud.asia – Pulau Pari, di Kepulauan Seribu, menjadi salah satu daerah yang paling terdampak krisis iklim dan upaya pengambil-alihan dari pemilik modal.
Namun, di tengah ancaman abrasi dan banjir rob yang semakin intens, serta klaim lahan yang menghantui warga Pulau Pari tidak menyerah.
Warga yang tergabung dalam Forum Peduli Pulau Pari menjadikan kelompok ini sebagai wadah untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan menyusun langkah bersama menjaga lingkungan dan mempertahankan ruang hidup.
Semangat itu terlihat jelas selama diskusi dengan Greenfaith pada pertengahan Agustus lalu. Dalam kesempatan itu, warga Pulau Pari bertukar pengalaman dengan para pendamping dari berbagai organisasi.
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Faith for #SavePulauPari yang diselenggarakan oleh GreenFaith Indonesia, Rumah Zakat, dan Ummah for Earth di Pulau Pari.
Kegiatan selama dua hari ini bertujuan mengintegrasikan pendekatan spiritual lintas agama untuk mendorong kepedulian lingkungan dan memperkuat ketahanan komunitas pesisir, sekaligus memberi inspirasi bagi gerakan keadilan iklim di wilayah lain.
Baca: Solidaritas perempuan Pulau Pari lindungi lingkungan dan ruang hidupnya
Hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Hening Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia; Parid Ridwanuddin, Campaign Manager GreenFaith Indonesia; Budi Pratama dari Rumah Zakat.
Dari perwakilan warga yang hadir di antaranya ada Ati Sukamti, Bendahara Kelompok Perempuan Pulau Pari; serta dua penggerak utama forum, Mustagfirin selaku Ketua dan Edi Mulyono sebagai Wakil Ketua Forum Peduli Pulau Pari.
Diskusi ini mengungkap, di balik cerita keberhasilan warga Pulau Pari mengelola ekowisata, tersimpan pula kegelisahan. Mustagfirin menuturkan bahwa klaim sepihak perusahaan membuat warga merasa ruang hidup mereka terus terancam.
“Pantai Perawan yang dirawat bersama warga sejauh ini belum sepenuhnya mendapat dukungan pemerintah. Harapannya, ke depan bisa terjalin kolaborasi yang lebih kuat untuk menjaga kawasan ini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran agama dalam memperjuangkan keadilan, karena menurutnya tidak ada ajaran agama yang membenarkan perampasan ruang hidup.
Nada serupa juga disampaikan Edi Mulyono. Menurutnya, suara pemuka agama punya peran penting untuk memperkuat perjuangan warga, agar perjuangan warga semakin mendapat dukungan.
Baca: Pengerukan pasir laut mengancam kelestraian lingkungan di Pulau Pari
Ia menekankan pentingnya konsolidasi masyarakat supaya tetap solid dalam menghadapi tantangan jangka panjang.
Sementara itu, bendahara Kelompok Perempuan Pulau Pari, Ati Sukamti mengatakan bahwa lahan dan laut yang menjadi ruang hidup warga terus menghadapi tekanan.
Ia berharap kisah perjuangan masyarakat Pulau Pari dapat lebih banyak disuarakan, agar dapat membuka jalan bagi penyelesaian izin-izin yang dinilai bermasalah.
Budi juga menekankan pentingnya membangun kemandirian warga. Menurutnya, kisah sukses Pulau Pari justru ada pada kemampuan masyarakat berdiri di atas kaki sendiri, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan pihak lain.
“Masyarakat bisa mengembangkan ekowisata, selain untuk menjaga lingkungan, juga meningkatkan kesadaran dan perekonomian,” ujarnya.
Pelibatan Tokoh Agama
Sementara Hening Parlan menyoroti pentingnya membangun gerakan yang bertahap dan berkelanjutan.
Baca: Krisis iklim perburuk banjir rob di Jakarta
“Pemberdayaan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan keterlibatan tokoh-tokoh agama, yang suaranya dapat menjadi penopang penting dalam melindungi pulau-pulau kecil dan memperjuangkan mimpi besar keadilan iklim,” ungkapnya.
Hening menekankan bahwa perjuangan menuju keadilan iklim tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari—dari kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga penguatan koperasi perempuan yang menopang kemandirian warga.
Dia menambahkan perlunya strategi komunikasi dan mengusulkan dokumentasi sejarah perjuangan warga sebagai narasi kolektif yang bisa diwariskan lintas generasi.
“Harus ada cerita yang ditulis, yang bisa dikenang, agar generasi berikutnya tahu bagaimana sejarah dan perjuangan warga Pulau Pari,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas, seperti pelatihan media bagi anak muda dan ibu-ibu, pemetaan para pihak, serta pelibatan tokoh agama sebagai bagian dari upaya memperkuat solidaritas masyarakat.
Forum ini ditutup dengan tekad untuk terus melanjutkan perjuangan, baik melalui gugatan hukum, kampanye publik, maupun penguatan komunitas.
“Berbagai cara sudah ditempuh, tapi oligarki juga terus berkonsolidasi. Karena itu, kita perlu membangun kekuatan bersama,” kata Parid Ridwanuddin, Campaign Manager GreenFaith Indonesia.

Leave a Reply