Keanekaragaman Hayati Jadi Pilar Penting Pembangunan yang Berkelanjutan

Written by

in

7cloud.asia – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudi mengungkapkan, data terbaru ekosistem nasional memperlihatkan keanekaragaman hayati Indonesia yang luar biasa.

Bumi Nusantara memiliki 22 tipe ekosistem, 18 persen terumbu karang dunia, 21–24 persen mangrove global, serta ribuan danau yang menjadi rumah bagi 31.000 spesies flora, 81.000 fauna darat, dan 7.000 fauna laut.

“Ini adalah megabiodiversity yang baru tercatat. Kami yakin jumlah sesungguhnya jauh lebih besar,” ujar Rachmat di sela peluncuran buku terkait kekayaan hayati Indonesia pada pertengahan Agustus lalu.

Rachmat mengingatkan bahwa keanekaragaman hayati juga menyimpan potensi ekonomi strategis, mulai dari bioekonomi laut bernilai ekspor, ekowisata, hingga skema biodiversity credit. Namun, hal itu hanya bisa diwujudkan dengan menjaga kawasan konservasi dan memulihkan ekosistem yang rusak.

“Peluncuran dokumen hari ini adalah langkah awal penting membangun integrasi data biodiversitas nasional yang komprehensif. Biodiversitas adalah modal besar bangsa, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk dunia,” tegasnya.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas meluncurkan empat buku penting sebagai dokumen strategis dalam menjaga keanekaragaman hayati (kehati) Indonesia.

Baca: KLH Gandeng BRIN dan Bappenas untuk Perbaiki Tata Kelola Ekosistem Keanekaragaman Hayati

Dua di antaranya adalah Buku Status Kekinian Keanekaragaman Hayati (Kehati) Indonesia Ekoregion Sumatra dan Ekoregion Sulawesi.

Peluncuran berlangsung di Jakarta, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), hingga Organisasi dan Komunitas Masyarakat.

Rachmat Pambudi menegaskan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia bukan hanya urusan konservasi, melainkan juga pilar penting pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Keanekaragaman menyimpan potensi bioekonomi yang besar dari komoditas laut bernilai ekspor, ekowisata, sampai penerapan biodiversity kredit. Tapi syaratnya jelas, harus diiringi perlindungan kawasan konservasi dan pemulihan ekosistem.” ujarnya.

Dibutuhkan komitmen dari semua pihak untuk benar-benar menjaga keanekaragaman hayati yang sangat kaya ini.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan dukungan mitra global, termasuk Jerman yang sejak lama mendukung Indonesia dalam menjaga biodiversitas.

Baca: Membangun ‘Big Data’ Keanekaragaman Hayati Indonesia

 

Dalam pidatonya, Rachmat memaparkan empat strategi utama pengelolaan keanekaragaman hayati: yaitu, bioprospeksi untuk mengoptimalkan potensi genetik yang bernilai ekonomi tinggi dengan dukungan inovasi dan teknologi.

Penguatan bioekonomi, mencakup pangan, energi, obat-obatan, dan pemanfaatan komoditas lokal seperti sagu, pala, biofuel, rumput laut, dan perikanan.

Pemanfaatan jasa ekosistem, mulai dari penyediaan air, jasa lingkungan, hingga pengembangan ekowisata.

Dan yang terakhir, kolaborasi inklusif yang melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, akademisi, dan mitra internasional.

Strategi ini, kata dia, telah diselaraskan dengan Biodiversity Strategy and Action Plan 2025–2045 serta komitmen global Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Indonesia telah menyiapkan 13 strategi, 20 target nasional, 95 kelompok aksi, dan lima dokumen pendukung, termasuk tiga buku yang resmi diluncurkan hari ini: Status Nasional Kehati, Ekoregion Sumatra, dan Ekoregion Sulawesi.

Baca: Harga yang Harus Dibayar Akibat Rusaknya Keanekaragaman Hayati

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *