Menyusuri Jejak Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta

Written by

in

7cloud.asia – Proklamasi 17 Agustus 2945 merupakan tonggak yang sangat penting dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia.

Dan, Jakarta sebagai ibu kota menjadi saksi bisu sejarah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, mulai dari era bangkitnya semangat nasionalisme Indonesia, dibacakannya naskah proklamasi, hingga jatuh bangunnya Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Menyambut Hari Kemerdekaan kali ini, 7cloud.asia coba menyusuri tiga tempat yang menjadi saksi bisu kemerdekaan Indonesia berada di Jakarta yakni Gedung Joang ‘45, Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan Tugu Proklamasi.

Tiga bangunan yang semuanya berada di Menteng, Jakarta Pusat ini menjadi saksi detik-detik lahirnya NKRI pada Jumat, 17 Agustus 1945

Gedung Joang ‘45.
Gedung Joang ’45 yang berada di Jalan Menteng Raya, Nomor 31 Jakarta Pusat menjadi saksi bisu sejarah dari kemerdekaan Indonesia.

Dahulu, gedung itu menjadi markas para pemuda Menteng 31 yang pada 16 Agustus 1945 lalu menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang dan mendesak agar proklamasi dilakukan tanpa menunggu keputusan pihak lain.

Gedung Joang ‘45 melambangkan semangat juang dan keberanian pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Pada awalnya Gedung Joang bernama Hotel Schomper, tempat peristirahatan pejabat tinggi Belanda, para pengusaha asing, dan para pejabat pribumi saat berkunjung ke Batavia.

Baca: Pengibaran bendera pusaka Merah Putih

Dalam perjalanannya, keluarga Schomper harus merelakan hotel mereka akibat dari penyerahan diri pemerintah Hindia Belanda tanpa syarat kepada Jepang 8 Maret 1942.

Pengambilalihan aset-aset Belanda oleh Jepang dilakukan oleh Gunseikanbu Sendenbu (Badan Propaganda Jepang) pada Juli 1942.

Atas izin Gunseikanbu Sendenbu, hotel sitaan ini beralih fungsi sebagai asrama pemuda Indonesia, yang disebut sebagai Asrama Angkatan Baru Indonesia atau Asrama 31.

Asrama itu menjadi tempat pendidikan politik bagi pemuda Indonesia seperti Wikana, Chairul Saleh, Adam Malik, D.N. Aidit dan lain-lain. Mereka dididik untuk dapat menjadi kader politik yang mendukung kepentingan Asia Timur Raya.

Pendidikan politik itu lantas dimanfaatkan para tokoh bangsa untuk menanamkan cita-cita kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Jepang. Saat itu, para pelajar dan mengajar telah memiliki kesadaran akan pentingnya kemerdekaan.

Para pengajar di Asrama 31 ini adalah Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo, dan Achmad Subardjo. Semua materi pelajaran yang ada di Asrama 31 ini kemudian disebarluaskan ke pemuda di seluruh Indonesia.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Museum Perumusan Naskah Proklamasi merupakan proses intelektual dan diplomasi para pejuang dalam menyusun deklarasi kemerdekaan.

Bangunan di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat ini merupakan rumah Laksamana Maeda kepala kantor perhubungan angkatan laut dan angkatan darat Jepang.

Baca: Ibu Fatmawati dan SK Trimurti, dua perempuan yang menjadi bagian penting Proklamasi Kemerdekaan

Setelah kekalahan Jepang dan kemerdekaan Indonesia, gedung ini kemudian dijadikan markas tentara Inggris. Barulah pada tahun 1982, gedung ini dialihfungsikan menjadi perkantoran karyawan Perpustakaan Nasional.

Di bangunan yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini, Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo merumuskan naskah proklamasi.

Perumusan teks proklamasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian dengan memilih kata-kata yang mencerminkan semangat kemerdekaan. Naskah yang awalnya ditulis tangan oleh Bung Karno kemudian diketik Sayuti Melik dengan beberapa perubahan ejaan.

Tugu Proklamasi
Tugu Proklamasi yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta Pusat merupakan lokasi dibacakannya naskah proklamasi. Di sini pula bendera merah putih pertama kali dikibarkan.

Di tempat ini, saat ini berdiri patung Soekarno-Hatta karya I Nyoman Nuarta. Replika naskah proklamasi dari marmer hitam berdiri di tengahnya, menandai kelahiran Indonesia sebagai negara berdaulat.

Pada saat proklamasi kemerdekaan, Tugu Proklamasi merupakan kediaman Soekarno yang kemudian ditetapkan menjadi Presiden ke-1 Republik Indonesia, sementara Mohammad Hatta ditetapkan menjadi Wakil Presiden.

Tugu Proklamasi berawal dari sebuah tugu peringatan –dalam bentuk obelisk kecil– yang dibangun pada tahun 1946 oleh kelompok Ikatan Wanita Djakarta untuk menandai 1 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak saat itu, para pemuda dan pelajar Indonesia mengadakan upacara tahunan untuk merayakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.

Menyusul pemindahan penuh kedaulatan Indonesia pada tahun 1950, Taman Proklamasi setiap tahun dikunjungi oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk meletakkan bunga dan menghormati prajurit yang gugur.

Sejak 1956, popularitas Taman Proklamasi sebagai tempat berkumpulnya upacara mulai menurun. Terlepas dari anjuran para sesepuh kota agar rumah tersebut direnovasi, pada  15 Agustus 1960, Soekarno memerintahkan pembongkaran rumah dan peringatan Tugu Proklamasi.

Pada 1 Januari 1961, Presiden Sukarno meresmikan pembangunan Tugu Petir, yang kemudian dikenal sebagai Monumen Proklamasi.

Pada tahun 1972, mulai dibangun Gedung Proklamasi yang sekarang Gedung Perintis Kemerdekaan. Pada tahun yang sama, Tugu Proklamasi yang dihancurkan sebelumnya dibangun kembali dengan desain serupa.

Lantas Pada 17 Agustus 1980 atau bertepatan dengan peringatan 35 tahun Indonesia Merdeka, monumen terakhir Taman Proklamasi, Monumen Pahlawan Proklamator Soekarno-Hatta yang berukuran besar, diresmikan Presiden Suharto.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *