7cloud.asia – Meskipun berperan penting dalam menopang miliaran jiwa, sistem pangan global gagal memenuhi kebutuhan kesehatan, hak asasi manusia, dan khususnya, alam.
Sebuah laporan yang diterbitkan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Chatham House baru-baru ini menyoroti tiga hambatan utama yang dihadapi sistem pangan global.
Sistem itu adalah paradigma pangan yang lebih murah, konsolidasi pasar, dan ketergantungan jalur investasi. Ketiganya harus diatasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Laporan berjudul “Membuka Transisi Berkelanjutan untuk Agribisnis” ini mengeksplorasi ketiga hambatan tersebut – “lock-in” atau kendala yang dirasakan, baik dari sisi teknis, kelembagaan, atau ekonomi.
Laporan ini juga menguraikan peran yang dapat dimainkan oleh organisasi antarpemerintah, lembaga keuangan, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk mengatasinya.
Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan dunia
Laporan ini diterbitkan menjelang KTT Sistem Pangan PBB +4 Stocktake (UNFSS+4) pada 27-29 Juli, yang diselenggarakan bersama oleh Etiopia dan Italia, dan menyusul KTT Sistem Pangan PBB yang pertama pada tahun 2021.
Wakil Direktur Divisi Ekosistem di UNEP, Doreen Robinson mengatakan dengan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global, negara-negara anggota telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi subsidi yang merusak keanekaragaman hayati.
Mereka juga bertekad mengurangi polusi dari nutrisi, pestisida, dan bahan kimia berbahaya, serta melindungi setidaknya 30 persen daratan dan lautan.
”Namun, terlepas dari momentum politik yang melimpah ini, sistem pangan global tetap rentan dan berkontribusi terhadap tiga krisis: perubahan iklim, kerusakan alam, dan polusi,” kata Doreen dikutip di unep.org.
Dia menekankan pentingnya membuka potensi positif agribisnis, seperti yang ditunjukkan dalam laporan ini. Hal ini untuk mencapai sistem pangan yang berkelanjutan, adil, dan mendukung kesehatan.
Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global
Secara global, lebih dari 800 juta orang menghadapi kelaparan saat ini. Sekitar 30 persen makanan – mulai dari panen hingga konsumsi – terbuang sia-sia. Pola makan yang buruk berkontribusi terhadap 1 dari 5 kematian dini.
Biaya tersembunyi lingkungan dan kesehatan sistem pangan diperkirakan mencapai 20 triliun dolar setahun. Agribisnis –bisnis padat modal dan input yang terlibat dalam rantai nilai pertanian terindustrialisasi– merupakan inti dari sistem ini.
Daren menyebut, perusahaan swasta punya peran sentral yang sangat besar dalam sistem pangan global.
Yang paling berpengaruh di antara mereka adalah bisnis dan investor pertanian besar, dengan potensi besar untuk mentransformasi, dalam skala besar dan cepat, bagaimana cara pangan diproduksi dan dikonsumsi.
Pasar ini ditopang oleh subsidi, pajak, dan regulasi yang dibentuk oleh penguncian pertama: paradigma pangan yang lebih murah. Daren menegaskan, paradigma ini harus diubah karena terbukti berdampak buruk pada lingkungan.
Baca: Menurunnya populasi lebah mempengaruhi produksi pangan dunia
”Pangan harus murah untuk diproduksi dan dibeli, meskipun mahal bagi lingkungan dan kesehatan manusia dalam jangka panjang (misalnya melalui konsumsi berlebihan dan peningkatan limbah),” terang Daren.
Laporan ini merekomendasikan lebih banyak regulasi dan penelitian publik untuk memberi penghargaan bagi praktik berkelanjutan dan meningkatkan biaya menjalankan bisnis seperti biasa.
Ada kebutuhan mendesak untuk mereformasi standar dan perpajakan agar mencerminkan biaya lingkungan dan kesehatan jangka panjang.
Hal ini membutuhkan pengalihan subsidi yang merugikan, peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan publik, persyaratan transparansi.
Juga dibutuhkan insentif pemerintah untuk melindungi tanah yang sehat, mengurangi emisi, dan edukasi agar makin banyak orang beralih ke pola makan yang lebih sehat.

Leave a Reply