Hanya 1 Persen Sampah di Swedia yang Berakhir di Tempat Pembuangan Akhir, Simak Caranya

Written by

in

7cloud.asia – Beberapa waktu lalu, beredar informasi di media sosial bahwa Swedia yang termasuk salah satu negara terkaya di dunia kekurangan sampah untuk bahan bakar pembangkit listriknya

Informasi ini cukup mengejutkan bagi sebagian besar orang Indonesia, karena sebagian besar kota di Indonesia masih berjibaku dalam pengelolaan sampahnya.

Masih banyak kota di Indonesia, bahkan termasuk ibu kota Jakarta yang mengklaim tengah menuju arah kota global, pengelolaan sampah yang dilakukan bisa dikatakan masih konvensional dan bahkan amburadul. 

Sampah dibuang sembarangan tanpa dipilah, atau tumpukan sampah di pinggir jalan menjadi pemandangan yang biasa ditemukan di kota-kota besar di Indonesia

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terdapat 34,2 juta ton timbulan sampah dari 317 kabupaten/kota di Indonesia

Dari jumlah tersebut, hanya 59,74 persen yang terkelola, sisanya sebanyak 40,26 persen merupakan sampah yang tidak terkelola atau sekitar 13,7 juta ton per tahun. Padahal, jika dikelola dengan baik sampah ini memiliki ekonomi tinggi.

Baca: KLH akan wajibkan produsen bertanggung jawab atas sampah produknya

Jika kamu penasaran bagaimana Swedia bisa dengan baik mengelola sampahnya, simak artikel ini sampai tuntas.

Dilansir di smartcitysweden.com, daur ulang material merupakan prioritas utama dalam pengelolaan sampah di Swedia. Dan, pemisahan sumber limbah dilakukan di sebagian besar rumah tangga Swedia.

Dasar hukum sistem pengelolaan sampah di Swedia ditetapkan oleh undang-undang persampahan Swedia dan Eropa. Di Swedia, solusi yang paling tidak disukai adalah pembuangan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

Pilihan yang paling menguntungkan adalah mencegah timbulan sampah dan penggunaan kembali serta perbaikan produk. Jika sampah masih dihasilkan, target utamanya adalah mendaur ulang materialnya.

Kesadaran dan dedikasi warga Swedia merupakan faktor kunci keberhasilan yang menjadikan Swedia sebagai salah satu pemimpin global dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan .

Pemerintah Swedia membangun stasiun penyetoran sampah yang berjarak hanya 300 meter dari pemukiman warga untuk memudahkan dan memastikan kepatuhan warganya dalam menyetor sampah. 

Baca: Greenpeace Indonesia tagih peta jalan pengurangan sampah

Sebagian besar rumah tangga di Swedia memisahkan sampahnya ke dalam beberapa kelompok, seperti sampah makanan, kemasan logam, plastik, kertas dan kaca, koran, barang elektronik, ban dan baterai.

Langkah-langkah penting untuk meningkatkan penggunaan kembali dan perbaikan barang terus dilakukan.

Pemerintah Swedia juga terus memperluas tanggung jawab produsen dalam mengelola limbahna, dengan menciptakan insentif bagi produsen untuk mengurangi produksi sampah dan meningkatkan daur ulang material.

Limbah menjadi energi
Sebagian besar sampah yang dihasilkan di Swedia dibakar di fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, yang menghasilkan air untuk pemanas distrik dan listrik.

Sebagai hasil dari semua tindakan yang diambil, kurang dari 1 persen dari total sampah yang dihasilkan di negara ini dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Perencanaan perkotaan merupakan alat penting ketika sebuah kota ingin bekerja untuk mengelola sampah sesuai dengan hierarki sampah.

Baca: Daur ulang tak akan mampu imbangi ledakan polusi plastik

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *