Artis Jadi Simbol Sikap/Moral, Itu Sebabnya Tone Deaf Dinilai Bukan Pilihan

Written by

in

7cloud.asia – Sikap netral aktris Raline Shah saat Gaza menjadi sorotan dunia pada 2023, memicu reaksi keras warganet Tanah Air. Ia dianggap tone deaf, tak memiliki perasaan akan korban yang berjatuhan di Jalur Gaza.

Raline kemudian mengklarifikasi bahwa ia pro-Palestina, tetapi publik terlanjur kecewa dengan sikap tone deaf yang dipilihnya. Ia dianggap sekadar takut kehilangan deal dengan merek besar.

Thom Yorke, vokalis Radiohead, baru-baru ini juga menuai kontroversi karena pernyataannya tentang Gaza. Pernyataan Thom, yang keluar agar ia tak melulu dituntut bersuara oleh warganet, dianggap tak vokal mendukung Palestina.

Fenomena tone deaf ini menunjukkan satu hal penting: artis bukan hanya figur publik, tetapi juga simbol moral. Dalam konteks genosida Gaza Palestina, sikap ‘diam’ atau ‘netral’ sering dianggap sebagai bentuk keberpihakan yang tidak manusiawi.

Menariknya, ada juga artis-artis yang memilih diam atau netral alias tone deaf soal Gaza Palestina tapi tetap aman dari kecaman.

Taylor Swift, misalnya, tak pernah bersuara tentang isu Jalur Gaza tapi fanbase-nya solid. Begitu juga Ariana Grande atau DJ Khaled. Padahal, DJ Khaled memiliki darah Palestina.

Fenomena di atas dapat dijelaskan menggunakan konsep hubungan parasosial (ikatan emosional tanpa kedekatan nyata), disonansi kognitif (ketidaknyamanan atau ketegangan karena adanya konflik antara keyakinan, sikap, atau tindakan yang saling bertentangan) dan sense of belongingness (rasa memiliki) yang kuat.

Baca: Mungkinkah menerapkan cancel culture di Indonesia

‘Kedekatan’ dengan idola
Kenapa banyak penggemar tetap mendukung artis yang tone deaf soal isu besar seperti Gaza Palestina?

Akar pertanyaan tersebut adalah hubungan parasosial—hubungan yang dicirikan dengan perasaan satu arah dari pengagum terhadap tokoh yang dikagumi, memberikan ilusi adanya kedekatan dengan tokoh itu, dan interaksi yang dijembatani oleh media massa.

Ketika mengagumi seorang artis, orang memiliki perasaan emosional yang intim pada mereka. Ini dirasakan oleh penggemar artis, pengikut tokoh agama, ataupun tim sukses politikus.

Karina dari grup idol AESPA asal Korea Selatan misalnya, memicu kemarahan fans-fans laki-laki yang kecewa berat karena rumor ia berpacaran.

Ketika Taylor Swift mengeluarkan album Folklore, fans merasa seakan ia berbicara langsung ke dalam hati fans. Alhasil, ketika album itu dikritik oleh kritikus musik, para fans murka dan bersedih.

Hubungan dekat ini bahkan bisa dijalani tanpa pernah bertemu dengan sosok yang dipuja secara langsung—cukup melalui media sosial atau panggung konser.

Mereka barangkali tidak tahu kita ada di dunia ini, tapi kedekatan itu nyata dan memengaruhi ekspektasi kita terhadap mereka.

Dengan kata lain, tokoh yang hanya dilihat dari jauh bisa menciptakan ilusi keintiman. Itulah mengapa hubungan parasosial semakin intens pada individu yang mengalami kesepian.

Dilema muncul ketika fans merasa artis-artis idola mereka bertindak tidak sesuai harapan atau ekspektasi.

Baca: Diksi keliru juru bicara Istana

Ketika para artis diam terhadap isu kemanusiaan sebesar genosida, muncul pertanyaan: “Mengapa sosok yang kukagumi justru diam di tengah isu genting seperti kematian ribuan anak di Gaza?”

Ekspektasi yang tak terpenuhi
Ketika idola kita “gagal” secara moral, misalnya diam soal Gaza dan Palestina, otak penggemarnya mengalami disonansi kognitif—ketidaksesuaian yang membuat perasaan tak nyaman karena mengguncang ekspektasi dan citra ideal kita terhadap idola.

Disonansi kognitif masih berkaitan dengan hubungan parasosial. Biasanya, guncangan itu tak otomatis membuat kita membenci mereka. Seringnya, kita justru mencari pembenaran supaya bisa tetap mengagumi mereka tanpa rasa bersalah.

Misalnya terkait tone deaf, penggemar bisa beralasan: “Dia peduli, tapi tidak bisa speak up karena kontrak dengan brand.” Bisa juga: “Setidaknya dia enggak terang-terangan pro-Israel atau bangga minum Starbucks kayak artis lain.”

Pembenaran dengan perbandingan juga muncul: “Pujaanku memang enggak ngomong soal Gaza Palestina, tapi dia aktif soal isu lingkungan dan kesehatan mental.”

Semua itu jadi semacam cara bertahan. Sebab, kehilangan idola yang sudah jadi bagian dari hidup terasa menyakitkan. Ini karena artis, bagi sebagian penggemar, bukan sekadar sosok penghasil karya.

Selebritas adalah simbol kesempurnaan, sosok yang melampaui keterbatasan diri sendiri pada berbagai aspek: kesuksesan, kecantikan, dan keagungan karya.

Pembenaran—apalagi dari penggemarnya sendiri—membuat artis jadi “kebal” terhadap kritik. Sebab, penggemar kadang justru menjadi garda terdepan pembela idola dari kritik.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Joevarian Hudiyana (Assistant Professor, Faculty of Psychology, Universitas Indonesia)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *