7cloud.asia – Kenapa banyak penggemar tetap mendukung artis yang tone deaf soal isu besar seperti Gaza Palestina?
Akar pertanyaan tersebut adalah hubungan parasosial—hubungan yang dicirikan dengan perasaan satu arah dari pengagum terhadap tokoh yang dikagumi, memberikan ilusi adanya kedekatan dengan tokoh itu, dan interaksi yang dijembatani oleh media massa.
Ketika seorang idola “gagal” secara moral, misalnya diam soal Gaza dan Palestina, otak penggemarnya mengalami disonansi kognitif—ketidaksesuaian yang membuat perasaan tak nyaman karena mengguncang ekspektasi dan citra ideal kita terhadap idola.
Disonansi kognitif masih berkaitan dengan hubungan parasosial. Biasanya, guncangan itu tak otomatis membuat penggemar membenci idolanya. Seringnya, penggemar justru mencari pembenaran supaya bisa tetap mengagumi mereka tanpa rasa bersalah.
Misalnya terkait tone deaf, penggemar bisa beralasan: “Dia peduli, tapi tidak bisa speak up karena kontrak dengan brand.”
Bisa juga: “Setidaknya dia enggak terang-terangan pro-Israel atau bangga minum Starbucks kayak artis lain.”
Baca: Seleb dunia yang kena blokir gerakan Blockout2024 terkait Gaza
Pembenaran dengan perbandingan juga muncul: “Pujaanku memang enggak ngomong soal Gaza Palestina, tapi dia aktif soal isu lingkungan dan kesehatan mental.”
Semua itu jadi semacam cara bertahan. Sebab, kehilangan idola yang sudah jadi bagian dari hidup terasa menyakitkan. Ini karena artis, bagi sebagian penggemar, bukan sekadar sosok penghasil karya.
Selebritas adalah simbol kesempurnaan, sosok yang melampaui keterbatasan diri sendiri pada berbagai aspek: kesuksesan, kecantikan, dan keagungan karya.
Pembenaran—apalagi dari penggemarnya sendiri—membuat artis jadi “kebal” terhadap kritik. Sebab, penggemar kadang justru menjadi garda terdepan pembela idola dari kritik.
Solidaritas dengan penggemar lain
Fandom bukan sekadar komunitas penggemar. Fandom bisa jadi pasukan loyal yang siap membela, bahkan kalau idola sedang dihujat karena isu besar.
Beberapa penggemar yang tergabung dalam fandom, seperti Swifties (penggemar Taylor Swift) ataupun Army (penggemar BTS), tidak hanya tergabung sebagai anggota sebuah komunitas, tetapi juga terhubung dalam sebuah identitas sosial yang menghasilkan rasa keterikatan (sense of belongingness).
Baca: Aksi Blockout2024, blokir akun selebritas yang diam soal Gaza
Sense of belongingness membuat penggemar rela berkorban demi kepentingan kelompok. Itulah mengapa mereka cenderung diharapkan menoleransi tindakan-tindakan sang pujaan demi loyalitas.
Bahkan meskipun sikap artis pujaannya bertentangan dengan prinsip-prinsip moral, seperti ketidakadilan.
Sense of belongingness juga memberikan makna hidup. Bukan hanya lewat identitas. Artis bahkan bisa jadi sumber alasan hidup atau life purpose seseorang.
Memuja dengan pikiran terbuka
Artis bisa berpengaruh besar. Apa yang mereka pakai, katakan, atau bahkan tidak katakan, akan berdampak pada penggemar dan meluas ke masyarakat umum.
Jadi, ketika mereka memilih diam soal isu besar seperti Gaza Palestina, itu bukanlah sikap netral. Diam bisa menjadi pernyataan sikap keberpihakan.
Adanya ikatan emosional, disonansi kognitif dan rasa memiliki memang membuat kita susah melihat sisi lain dari artis yang kita sukai. Namun, sebagai penggemar, kita perlu mengingat bahwa idola kita juga hanyalah manusia biasa.
Ada baiknya para penggemar merefleksikan apakah mereka mengidolakan seseorang secara berlebihan sampai menjustifikasi perilaku mereka atau masih bisa berpikir kritis dan mengkritik.
Kalau memang sayang, tentu kita ingin idola kita semakin bijak, bukan?
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Joevarian Hudiyana (Assistant Professor, Faculty of Psychology, Universitas Indonesia)

Leave a Reply