Pemanfaatan Mikroalga Sianobakteria untuk Perbaiki Kesuburan Tanah Marginal

Written by

in

7cloud.asia – Pemanfaatan mikroalga sianobakteria, mikroalga biru hijau terbukti efektif untuk pengayaan tanah marginal, karst, dan tanah tercemar

Teknologi ini telah diuji secara lapangan pada berbagai jenis tanah marginal, termasuk lahan berkapur di Blora, Jawa Tengah.

Sianobakteria adalah mikroorganisme mikroskopis yang secara teknis merupakan bakteri, namun memiliki kemampuan fotosintesis seperti tumbuhan.

Spesies sianobakteria menjadi bagian penting dari ekosistem perairan dan juga dapat ditemukan di daratan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Susilaningsih, memaparkan pemanfaatan mikroalga sianobakteria merupakan pendekatan inovatif untuk memperbaiki kesuburan tanah yang selama ini miskin unsur hara.

”Formulasi cair konsorsium mikroalga ini mampu meningkatkan nitrogen, fosfat, dan karbon organik tanah secara signifikan, serta mendukung pertumbuhan tanaman tanpa residu kimia,” jelas Dwi saat memberi pelatihan kepada petani jagung di Desa Ngraho, Blora, Rabu (14/5/2025) lalu.

Baca: Pupuk kandang jauh lebih baik untuk lingkungan

Teknologi ini tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga aman bagi lingkungan dan tidak meninggalkan residu kimia, menjadikannya sebagai solusi berkelanjutan dalam budi daya pertanian khususnya untuk komoditas seperti jagung.

“Kami tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga memberikan pelatihan teknis kepada petani mengenai cara formulasi, aplikasi di lapangan, serta pengamatan terhadap respons tanaman,” tambahnya.

Pelatihan yang diselenggarakan Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BRIN ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk mempertemukan hasil riset dengan praktik pertanian masyarakat.

Pelatihan ini sekaligus mendorong adopsi teknologi hayati, dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida sintetis.

Bupati Blora, Arief Rohman, mengatakan inisiatif riset dan inovasi BRIN yang menyentuh langsung kebutuhan petani di tingkat desa.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran BRIN di wilayah kami. Inovasi mikroba tanah dan pengendalian hayati hama ini menjadi solusi nyata bagi tantangan pertanian Blora yang kerap berhadapan dengan cuaca ekstrem dan harga pupuk mahal,” ujar Arief.

Baca: Pertanian regeneratif sukses hidupkan tanah gersang di Portugal

Salah satu peserta pelatihan yaitu Rakip, Ketua Kelompok Tani Bina Alamsri dan petani jagung dari Desa Bajo menyampaikan pengalamannya mengikuti kegiatan tersebut.

“Pelatihan ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya peran mikroba dalam memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. Dengan adanya formulasi mikroalga yang ramah lingkungan, kami jadi memahami bahwa ada alternatif selain pupuk kimia yang selama ini kami andalkan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ahmad Saryono, Ketua Gapoktan Makmur Desa Ngraho bahwa pelatihan ini juga memperkenalkan teknologi pengendalian hama yang sebelumnya belum pernah diterapkan.

“Penggunaan feromon dan agen hayati ini sangat bermanfaat untuk kami dalam mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia dan menjaga kesehatan tanaman secara berkelanjutan,” terang Saryono.

Kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi antara riset nasional, dukungan pemda, dan kerja sama internasional untuk mempercepat transformasi pertanian berbasis inovasi dan ramah lingkungan di tingkat akar rumput.

Baca: Kesuburan tanah meningkat ketika PLTU batubara dipensiunkan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *