Menyoroti Pengembangan Proyek Gas Bumi: Transisi Energi Harusnya Membangun Masa Depan yang Berkelanjutan

Written by

in

7cloud.asia – Saat ini ada banyak proyek besar pengembangan gas bumi yang sedang berjalan di Indonesia. Proyek-proyek ini sering kali dibiayai oleh investor asing dengan alasan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, jika dicermati lebih dalam, proyek gas bumi ini seringkali lebih menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu ketimbang masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Sebagai contoh, ada proyek pengembangan gas bumi di wilayah Indonesia Timur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi industri dan pembangkit listrik.

Padahal, wilayah tersebut memiliki potensi besar untuk energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, yang lebih murah dan jauh lebih ramah lingkungan.

Bukannya fokus mengembangkan energi terbarukan, dana besar malah dialihkan untuk proyek gas bumi yang belum tentu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal dan justru semakin memperparah ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Laporan Greenpeace dan CELIOS yang diterbitkan beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa proyek gas bumi sering kali dilaksanakan di daerah-daerah yang sangat sensitif secara ekologis.

Baca: PLTU Gas Bumi dinilai solusi palsu transisi energi bersih

Dampak buruk terhadap lingkungan ini bisa lebih parah dari yang dibayangkan.
Misalnya, proyek gas bumi yang memperburuk kerusakan ekosistem pesisir, atau merusak keanekaragaman hayati yang sangat penting bagi keseimbangan alam.

Selain itu, proyek gas bumi juga sering dilakukan tanpa transparansi dan partisipasi yang cukup dari masyarakat setempat.

Keputusan tentang proyek-proyek ini sering kali dibuat tanpa melibatkan suara rakyat, padahal mereka adalah pihak yang akan merasakan dampaknya dalam jangka panjang.

Sebagai contoh, perangkat pendukung Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) milik PT Jawa Satu Power (JSP) pun mulai mengganggu aktivitas nelayan.

“Hasil tangkapan tahun 2017-2018 masih bagus. Pada 2020 tuh udah menurun. Jaring-jaring nyangkut di pipa. Lagi jaring enak enak eh nyangkut. Ikannya hilang, jaringnya rusak,” ujar Waslim.

Kehadiran perangkat pendukung PLTGU juga menyebabkan pendangkalan laut. Gelombang di laut pecah dan membahayakan nelayan.

Baca: Emisi gas bumi tak kalah tinggi ketimbang batu bara

“Sekarang dangkal jadi kan, ombak-ombak pada pecah. Banyak perahu-perahu kecil yang terbalik kena ombak. Kalau ada angin dari utara itu jadi pecah,” kata Waslim.

Jika tak terbalik karena ombak pecah, nelayan juga berisiko tertabrak oleh kapal besar yang membawa pekerja ke PLTGU JSP. Ini pernah terjadi kepada Waslim pada 2020 silam.

“Saya dulu pernah ditabrak kapal yang pulang pergi antar pegawai, cuma dikasih ganti Rp200 ribu. Kecil banget,” curhatnya.

Kerugian untuk semua
Penting untuk disadari bahwa proyek-proyek gas bumi di Indonesia bukan hanya soal energi, tetapi juga soal ekonomi dan politik.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bagaimana kebijakan fiskal dan regulasi yang mendukung ekspansi gas bumi sering kali lebih berpihak pada kepentingan industri daripada kebutuhan rakyat.

Subsidi energi yang seharusnya digunakan untuk mendukung kebutuhan energi rumah tangga dan energi terbarukan, malah banyak mengalir untuk mendukung sektor gas bumi industri.

Baca: Pembangkit listrik tenaga gas bumi dinilai bukan solusi

Seperti investasi riset dan pengembangan untuk infrastruktur energi terbarukan, dukungan akses energi bersih di daerah terpencil, dan lainnya.

Contohnya, dalam Danantara, sektor minyak dan gas bumi diberi prioritas dalam pengembangan pembangkit energi, sementara energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan malah kalah bersaing.

Hal ini mengarah pada ketimpangan yang besar dalam kebijakan energi Indonesia, di mana energi terbarukan yang seharusnya menjadi masa depan kita, justru terpinggirkan.

Rencana pembangunan infrastruktur untuk eksplorasi dan eksploitasi gas bumi akan semakin bertambah banyak untuk mencapai target PLN 22GW di 2040. Seharusnya, kita tidak boleh berpikir pendek.

Yang penting adalah apakah energi itu berkelanjutan, ramah lingkungan, dan tidak merugikan generasi mendatang.

Baca: Transisi energi lebih berkelanjutan dengan pembangkit mikro

Transisi Energi yang Sejati: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Melihat semua fakta diatas, muncul pertanyaan, apakah kita ingin terus terjebak dalam ketergantungan terhadap energi fosil lainnya, ataukah kita siap untuk beralih ke energi terbarukan yang lebih bersih dan berkelanjutan?

Energi terbarukan seperti tenaga surya, dan angin, memiliki potensi luar biasa untuk menggantikan sumber energi fosil yang merusak lingkungan dan memperburuk krisis iklim.

Kita harus paham bahwa masa depan energi Indonesia ada di tangan kita. Transisi energi bukan hanya soal mengubah teknologi, tetapi juga soal mengubah cara kita berpikir dan memprioritaskan masa depan yang lebih baik.

Pemerintah harus fokus untuk mengembangkan energi terbarukan dan konsisten dalam membuat kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan dan keadilan energi.

Indonesia bisa menjadi negara yang memimpin transisi energi global jika kita memilih jalan yang benar, bukan terjebak dalam transisi palsu yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *