BRIN Jajaki Kolaborasi Internasional Wujudkan Ekonomi Sirkular di Pengolahan Sawit

Written by

in

7cloud.asia – Banyak pemanfaatan biomassa kelapa sawit, tandan buah segar yang dapat digunakan sebagai mulsa, sementara serat dan cangkang inti sawit dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik dan uap.

Pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber daya yang bernilai ini tidak hanya menjawab tantangan lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi pembangunan ekonomi, inovasi, dan manfaat sosial.

Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PRSPBPDH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Adi Sasongko dalam seminar bertajuk Sustainable Waste Valorization and Economic Feasibility yang diselenggarakan secara daring, Selasa (29/4/2025).

Nugroho mengajak untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi area konkret sinergi riset dalam pengelolaan dan pemanfaatan limbah biomassa. Hal itu untuk mewujudkan ekonomi sirkular dan berkelanjutan.

“BRIN terbuka dan berkomitmen penuh untuk mengeksplorasi peluang riset kolaboratif di bidang pemanfaatan limbah, serta kami menyambut setiap inisiatif yang dapat menghasilkan dampak dan manfaat timbal balik,” jelasnya.

Direktur Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri Universitas Lampung, Prof. Udin Hasanudin, memaparkan valorisasi limbah biomassa berkelanjutan di industri kelapa sawit.

Baca: Seperlima kebun sawit di Indonesia diduga ilegal

Ia menjelaskan bahwa dari perkebunan kelapa sawit, pihaknya membawa tandan buah segar ke pabrik kelapa sawit.

Dari pabrik dihasilkan minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO), serta menghasilkan berbagai limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk produk-produk lain, seperti serat, cangkang, dan lainnya.

“Limbah ini dapat dipilih untuk dimanfaatkan sebagai energi, pakan, atau bahkan makanan,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Perekayasa Ahli Madya PRSPBPDH BRIN, Dudi Iskandar, menyampaikan paparan tentang pemanfaatan limbah berkelanjutan.

Berdasarkan berbagai referensi, jumlah limbah di Indonesia cukup tinggi sebanding dengan jumlah penduduk dan tingkat urbanisasi yang juga tinggi. Diperkirakan, jumlah limbah di berbagai sektor ini akan terus meningkat.

Jenis limbah terbesar adalah limbah makanan, diikuti oleh limbah konstruksi dan pembongkaran, limbah tekstil, plastik, baterai bekas, dan limbah elektronik.

Baca: Ekspansi kebun sawit memicu deforestasi

“Jenis-jenis limbah ini perlu menjadi perhatian jika di masa depan kita ingin melakukan kolaborasi,” jelasnya.

Dudi mengatakan bahwa pemerintah menargetkan 100 persen pengelolaan limbah pada tahun 2029.

“Ini merupakan peluang yang sangat baik jika kita memiliki kolaborasi dengan Korea (Energetic Korea) yang bisa membantu mengembangkan riset dan teknologi bersama untuk menangani permasalahan pengelolaan limbah di Indonesia,” ujarnya.

Dari sisi valorisasi dan pemanfaatan limbah, digali kemungkinan untuk mengurangi limbah melalui pendekatan ekonomi sirkular, misalnya, pendekatan ekonomi sirkular.

Pendekatan ini, ujarnya, dapat dikolaborasikan diprediksi dapat berguna untuk mengurangi dan mengelola limbah agar menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Pasalnya, prinsip dari valorisasi adalah menjadikan limbah kembali berguna dan memberi nilai ekonomi yang lebih besar.

Baca: Pemerintah didesak hentikan ekspansi kebun sawit

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *