7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi durasi musim kemarau pada tahun 2025 ini lebih pendek dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena iklim global.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam siaran persnya beberapa waktu lalu.
“Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan,” jelas Dwikorita.
BMKG memprediksi sekitar 60% wilayah akan mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% wilayah mengalami kemarau lebih basah dari normal, dan 14% wilayah lainnya lebih kering dari biasanya.
Baca: Musim kemarau bulan Mei, ini dia dampak yang harus diantisipasi
Selanjutnya Dwikorita menjelaskan ada beberapa hal yang mempengaruhi musim kemarau menjadi lebih pendek daripada tahun sebelumnya.
Adanya fenomena iklim global seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam fase netral. Artinya tidak adanya gangguan iklim besar dari Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia hingga semester II tahun 2025.
Namun, suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih hangat dari normal dan diperkirakan bertahan hingga September, yang dapat memengaruhi cuaca lokal di Indonesia.
Selain itu, Dwikorita mengungkapkan puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025.
Baca: Waspada angin kencang di musim pancaroba
Wiilayah-wilayah seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku diperkirakan mengalami puncak kekeringan pada Agustus.
Karena itu, sejumlah sektor vital perlu melakukan langkah-langkah antisipasi dampak musim kemarau. Seperti di sektor pertanian, disarankan untuk melakukan penyesuaian jadwal tanam sesuai prediksi awal musim kemarau di tiap wilayah.
Selain itu, lanjut Dwikorita, para petani juga dapat memilih varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, serta optimalisasi pengelolaan air untuk mendukung produktivitas pertanian di tengah keterbatasan curah hujan.
“Untuk wilayah yang mengalami musim kemarau lebih basah, ini bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi, dengan disertai pengendalian potensi hama,” urainya.
Baca: Di era transisi ke musim kemarau, hujan ekstrem masih berpotensi terjadi
Sedangkan untuk sektor kebencanaan perlu peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat normal hingga lebih kering dari biasanya.
Pada kesempatan itu Dwikorita menerangkan saat ini masih ada hujan di sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk pembasahan lahan-lahan gambut.
Hal ini dilakukan untuk menaikkan tinggi muka air dan pengisian embung-embung penampungan air di area yang rentan terbakar.
Sementara itu, di sektor lingkungan dan kesehatan, BMKG mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara di wilayah perkotaan dan daerah rawan karhutla.
Baca: Hujan deras masih terjadi, kapan musim kemarau?
Selain itu dampak suhu panas dan kelembapan tinggi yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Kemudian di sektor energi dan sumber daya air, Dwikorita mengimbau agar masyarakat dan pihak terkait dapat mengelola pasokan air secara bijak dan efisien.
Hal ini untuk menjamin keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sistem irigasi dan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat selama musim kemarau.

Leave a Reply